Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Kecelakaan


__ADS_3

Suara teriakan histeris beriringan dengan bunyi dentuman besar. Netral pengunjung disana melihat ke arah wahana. Banyak orang yang berlari menjauh dari tempat itu.


" uwaah... aku tidak mau mati !! " teriak seseorang dari wahana Roller Coaster tersebut.


Pria yang tadinya dikira suaminya itu seketika memeluk Meery. " Jangan lihat, kamu akan ketakutan!" ucap nya lirih.


" Tidak akan terjadi apa-apa bukan? ku mohon semoga tidak ada korban jiwa " gumam Meery.


Sejujurnya melihat hal seperti ini menjadi trauma bagi nya. Saat berusia 10 tahun dia pernah melihat hal itu dengan mata nya sendiri. Kehidupan aslinya saat masih menjadi Mei Liancha, tetangga nya yang sering ia panggil " Kak Riana ".


Bermain di taman hiburan itu sangat mengasyikkan namun, tidak selalu berujung bahagia kadang kala ada saatnya menjadi luka.


...POV Liancha...


Hari minggu yang cerah. Tanpa bermain rasanya ada yang kurang. Taman hiburan sepertinya seru ! .


" Mei...Mei... " teriak seorang gadis di depan sebuah rumah.


" Kakak!! " Mei berlari keluar dari rumahnya, sudah lengkap dengan tas munggil yang di kalung kan nya.


" Cepatlah taksi tidak selalu datang!!" ucap gadis bernama Riana. Seorang gadis yang menjadi tetangga nya Mei.


" Baik "


Sampai di taman hiburan kedua gadis itu bermain dengan riang. Jarak keduanya tidak terlalu jauh, Meery 10 tahun dan Riana 13 tahun. Mirip seperti adik kakak kandung.


" Mei.. coba lihat wahana itu namanya roller coaster !" ucap Riana sembari menunjuk ke arah wahana tersebut.


" Roller Coaster? " ucap Mei, merasa bingung.


" Yah... itu adalah wahana yang menantang penuh dengan teriakan dan juga keberanian. Ayo kita naik " ucap Riana mengajak Mei.


" Tidak mau " jawab Mei menggeleng juga menahan langkah kakinya.


" Kenapa? " tanya nya bingung.


" Aku takut jatuh kak ! " ucap nya dengan wajah sedih.


" Aduh... semuanya sudah disiapkan dengan baik, lagi pula taman ini kan sudah di buka 2 bulan lalu tidak pernah terjadi kecelakaan! " ucap Riana, mengangkat bahu nya.


" Tapi kan.... bagaimana jika kita jatuh? juga bagaimana jika rel nya itu patah? dan bagaimana jika kursi duduk nya terpisah, dan juga bagaimana kalau roda nya tergelincir dan semuanya jatuh ? mengerikan " ucap Mei, sungguh ia tidak mau menaiki wahana itu.

__ADS_1


" Tidak mungkin lah semuanya disiapkan dengan proposional. Sudahlah apa pun yang terjadi aku tetap akan naik ! aku sudah menginginkan nya tapi karena ibu melarang ku jadi tidak bisa... " ucap nya lirih.


" Tapi sekarang sudah bisa karena ibu bilang jika aku sudah berumur 10 tahun aku boleh menaiki nya. " ucap Riana penuh semangat.


" Kalau begitu aku tidak ikut! aku juga melarang mu kak, jangan!! " ucap Mei, penuh harapan agar Riana menepis keinginan nya itu.


" Terserah kamu saja ! Mei tolong bantu foto aku di depan wahana ini " ucap Riana menyodorkan sebuah handphone.


" em..." Mei hanya mengangguk.


Satu foto berhasil ia dapatkan. " Baguslah aku akan menunjukkan foto ini kepada ibu nanti " ucap Riana meninggalkan Mei.


Mei duduk di sebuah kursi yang berada cukup jauh dari sana. Meskipun begitu tetap bisa dilihat.


Wahana Roller Coaster itu mulai beroperasi, menaiki tanjakan dan menuruni nya. Teriakan semua orang terdengar jelas.


" Kakak sangat aneh sudah tahu di larang " ucap nya cemberut.


Selang 36 detik setelah ia mengatakan hal itu, bunyi gesekan roda terdengar jelas, mengganggu pendengaran. Mei menoleh ke arah wahana itu.


Roda itu tergelincir semua orang panik ! .


Dummd...


Bunyi dentuman sangat keras. Mei melihat dengan mata nya sendiri wahana Roller Coaster itu jatuh. Percikan da*rah menyebar di sekitar sana.


Tolong!! suara beberapa orang yang masih sadar setelah jatuh. Banyak orang menghampiri tempat itu. Mei berjalan gotai ke arah sana, mendekat ke arah tempat duduk nya Riana.


" Kak... aku sudah mengingatkan mu " ucap nya lirih.


Selesai


......................


Pria itu mengajak Meery yang berada di pelukannya untuk pergi dari sana. Di dalam mobil Meery kembali membuka matanya.


" Ini.... " Meery melihat ke arah sekitar.


" Ehm... Ini di dalam mobil ku " ucap pria tersebut.


" Liam " ucap nya.

__ADS_1


" Apa ? " tanya Meery.


" Namaku!! kau " ucap nya dingin.


" A-Aku Meery " sungguh terasa canggung, berada di dalam orang yang sudah di bilang suami ternyata salah.


" Berhubung kau sudah salah mengira diriku sebagai suami mu, aku akan mengantar mu ke suatu tempat! " ucap Liam.


" Suatu tempat? apakah itu hutan atau laut ? sepertinya aku harus menggunakan teleportasi kali ini " batin Meery.


" Tenanglah Nona! jangan terlalu banyak berpikir lagi pula dia jan membawa mu ke tempat suami mu. " Ucap Shu-shu dari sistem.


" hm.. oke " ucap Meery mengangguk mengangguk menanggapi ucapan kedua nya.


......................


Sampai di depan sebuah perusahaan besar, Meery di persilahkan untuk keluar. Meery tampak bingung dengan Liam, tadinya ia pikir akan di tinggalkan di hutan ternyata perusahaan milik Alvin suaminya.


" Mengapa kesini?" tanya polos Meery


" Tentu saja melantarkan mu ! " ucap Liam dengan smirk.


" Ha ? " ucap Meery tak percaya dia dibawa ke sini untuk di lantarkan.


" Untuk pergi ke tempat tadi cukup jauh, aku hanya memperpanjang rute nu sampai ke rumah. Juga masalah hari ini... "


Glek...


Meery menelan saliva nya terasa gugup di bagian dadanya.


" Aku maafkan! " ucap nya berjalan menjauhi Meery.


" Ya setidaknya aku tidak membuatnya marah kan ? " senyum histeris mengembang di wajahnya.


" Nona tidakkah mau cari pekerjaan di perusahaan ini, mungkin saja ada yang magang? " ucap Shu-shu.


" Okelah " Meery juga melangkah kan kakinya menuju perusahaan suami nya.


Perusahaan yang selama ini di rahasia kan oleh Alvin termasuk keluarga nya, kecuali Gery adiknya.


Perusahaan ini ia beri nama AV. Perusahaan yang biasanya mengembangkan pembangunan dan juga teknologi.

__ADS_1


__ADS_2