
Hari sudah malam rapat penting pun sudah selesai. Raja itu pergi ke kamar putrinya, Zennya. Raja itu sebut saja namanya Hendrik.
Hendrik berjalan mendekati pintu, terdengar suara Zennya, dia sedang emosi. Semua barang yang ada di kamar itu di lempar ke sembarang arah bahkan ada beberapa yang rusak dan pecah seperti cermin dan vas bunga.
'' Siapa dia!!!! berani sekali bicara Lancang di depan ku!!!"
Lalu pintu kamar terbuka terlihat sosok sang raja, langsung saja Zennya terkejut melihat ayahnya ada di kamarnya, sedangkan keadaan kamar sekarang sangat terlihat berantakan.
"A Ayah.... aku.." Zennya Gemetar.
Raja itu tidak bicara apapun dia hanya menatap Zennya tan ekspresi, sesekali dia melihat ke berbagai arah di kamar, terlihat berantakan.
Zennya mengingat kembali apa yang pernah dikatakan oleh ayahnya, dulu Hendrik berkata " Seorang putri harus menunjukkan sikap yang Anggun dan kepribadian yang baik "
" Ayah sudah malam begini kenapa di kamar ku, apa ada masalah?" tanya Zennya dengan polos nya.
"Katakan apa yang membuatmu marah!!" Hendrik bicara.
"itu..."
"Ayah,tadi siang Zennya bertemu dengan seorang anak perempuan namanya Quinne Apakah Ayah tahu dia?".
"Quinne???" tanya Hendrik
__ADS_1
"iya,dia bilang ingat namanya, Quinne itu benar " Zennya bicara.
"Jadi apa yang dilakukannya?" tanya Hendrik pada Zennya.
Zennya mengatakan semua yang terjadi tadi. Tiba-tiba saja ekspresi Hendrik berubah menjadi tidak senang, ketika Zennya menceritakan kejadian itu.
Plarr......
Hendrik menampar Zennya, wajah Zennya yang tadinya mulus tanpa luka kini lebam akibat tamparan sang ayah.
Zennya tidak bersuara, air matanya mengalir dan tangannya memegang bagian wajah yang tadinya di tampar. Zennya menundukkan kepalanya.
"Lihatlah seberapa bodoh nya kamu, mengapa kau biarkan gadis itu berbuat seperti itu, seharusnya kamu balas dia !!!"
"Ta tapi dia bilang, dia itu seorang putri jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa "
"Selesai kan sendiri. Aku ingin melihat gadis itu berlutut di hadapan ku." Ucap Hendrik sembari keluar dari kamar itu.
Quinne ini baru permulaan, aku akan membuat kamu membayar rasa sakit ini. Aku tidak peduli kamu putri kerajaan atau bukan yang pasti akan aku balas. Zennya bergumam.
......................
Sedangkan di ujung istana putri Quinne masih belum tidur, dia memandangi langit malam yang terlihat indah dengan dihiasi bintang dan bulan.
__ADS_1
"Nona, apakah kamu belum tidur?" tanya Shu-shu.
"Nanti saja" Jawa Quinne.
Quinne membalikkan badan nya, dia hendak mengambil selimut dan dia tersadar tidak ada tempat tidur di kamar nya. yang ia lihat hanya selimut tipis dan semua bantal.
'Keparat sekali raja ini, apakah begini cara mereka memberikan kamar untuk putrinya ' gumam Quinne.
"Ini tidak benar, dirumah ku fasilitas nya sangat bagus sedangkan di kerajaan...." protes Quinne!!
"Ayolah nona, mungkin Ayah mu tidak menyayangi kamu " Shu-shu bicara tanpa berpikir.
Quinne tersenyum devil. "hha benar Ayah ku memang tidak menyayangi ku, jadi mengapa dia menyuruh ku kembali!!!"
"Mungkin hanya untuk mengerjai kamu tuan putri"
"Hey!! kucing gemuk kamu tidak ingin mulutmu lagi ya " ucap Quinne.
"ahha maaf nona aku harus pergi ke sistem" Shu-shu yang kemudian masuk ke dalam sistem.
"hemp.... Zennya aku rasa dia pasti menargetkan ku " tebak Quinne.
"Sudahlah untuk apa berurusan pada gadis kecil "
__ADS_1
Entah apa yang dipikirkan nya Quinne tiba-tiba teringat pada Ella, karena tadi siang dia menghilang tiba-tiba.
"Ella sudah tidur belum sekarang ya?.. ku harap dia tidak apa-apa " Quinne yang tiba-tiba khawatir pada keadaan Ella.