Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri
Episode 50


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian~


Jeyve kini telah berumur 12 tahun dan 2 adik kembarnya yang berumur 8 tahun.


Hari ini, Jeyve pergi bersama Juve ke ruang kerja ibunya. Disana, Jeyve melihat bahwa pekerjaan ibunya tak lama lagi selesai, Padahal pagi tadi diatas mejanya banyak sekali tumpukan kertas.


"Ibu cepat sekali mengerjakannya" kata Jeyve.


"Semakin cepat semakin besar waktu kita bisa habiskan berdua" kata Juve yang menatap Jeyve sepersekian detik dan melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa hari ini ayah jalan bertiga dengan Lhy dan Lhya? Sementara aku tidak di ajak?" Tanya Jeyve.


"Hari ini gantian lagi. Hari ini, ayahmu yang akan menghabiskan waktunya dengan Lhy dan Lhya. Kau akan menghabiskan waktu bersama dengan ibu" jawab Juve.


"Tapi mereka diajak ke pedesaan oleh ayah, sementara aku tidak" kata Jeyve.


Tuk..


Juve menutup bukunya dan menatap Jeyve.


"Kemarin, kau dibawa oleh ayahmu ke tepi pantai dan ke bukit. Lalu ke pelabuhan untuk pergi menyambut para pedagang yang datang sekaligus untuk mengecek barang-barang yang dibawa. Sementara adikmu dibawa ke daerah perbatasan saja" kata Juve yang menceritakan perjalanan Jeyve beserta Azel kemarin.


"Jadi, bagaimana?" Tanya Juve.


"Ugh! Tapi aku kan penasaran dengan pedesaan" jawab Jeyve yang tidak mau melihat wajah Juve.


"Lebih baik kau meluangkan waktumu untuk belajar sihir, dibandingkan jalan-jalan saja. Ayo".


Jeyve dan Juve pergi ke sebuah ruangan besar yang tidak berisikan apa-apa. Kosong melompong dan hampa dalam ruangan tersebut.


Sriiing..


Jeyve mulai mempelajari hal-hal dasar. Karena sebelumnya, ia harus melewati beberapa tahapan.


Juve melihat bahwa Jeyve tampak tidak cocok untuk dijadikan seorang penyihir. Hatinya menjadi begitu sedih melihat putranya yang tidak memiliki kemampuan tersebut.


Juve membayangkan Jeyve yang berusaha untuk melakukannya yang membuat anaknya terluka.


Juve dengan cepat menghentikan kegiatan tersebut dengan perasaan takut dan panik.


"Hentikan! Jeyve!" Perintah Juve.


Jeyve menatap ibunya dengan tatapan bingung.


"Sudahi saja ini. Jangan diteruskan" kata Juve.


"Katamu, kau ingin masuk ke akademi kan? Bertemu dengan teman-teman?" Tanya Juve yang cepat membicarakan hal lain.

__ADS_1


"Iya" jawab Jeyve dengan singkat.


"Kalau begitu, besok ibu akan mengurusnya dan besok kau bisa langsung bersekolah" kata Juve.


Mata Jeyve langsung berbinar-binar.


"Yey! Terimakasih ibu~" kata Jeyve yang langsung memeluk ibunya.


Juve membalas pelukan itu dengan sedikit membungkuk.


"Hampir saja aku membiarkannya melakukan tindakan yang membahayakan" pikir Juve.


Juve pergi ke kota bersama dengan Jeyve untuk membeli seragam dan peralatan sekolah. Sebelumnya, Juve menolak Jeyve untuk masuk ke akademi.


Saat malam hari, dimana semua anak-anak mereka tertidur, Azel menceritakan tentang Jeyve yang tidak meneruskan kekuatan dari siapapun dan ia sepertinya tidak mendapatkan kekuatan apapun. Sehingga Jeyve dibantu oleh Azel dengan sihirnya.


Juve awalnya tidak percaya, tapi begitu membuktikannya ia menjadi percaya dengan perkataan suaminya.


Seharusnya, Juve menyiapkannya dari hari-hari yang lalu. Tapi karena ia membuat keputusan yang cukup mendadak, beginilah jadinya.


Beberapa kebutuhan yang akan digunakan oleh Jeyve saat di akademi nanti, dengan cepat dipilih dan tepat. Akademi dipegang langsung oleh Juve karena pembangunan akademi sebelumnya diperintahkan oleh Juve untuk menyekolahkan anak-anak.


Akademi dibagi menjadi dua bagian. Akademi Nobleman dan akademi People. Karena Juve berasal dari Amerika, ia menggunakan bahasa Inggris untuk memberi nama akademi tersebut, yang bisa diartikan Nobleman itu bangsawan dan People itu rakyat. Untungnya dunia yang ditempatinya tidak tahu arti dari nama tersebut.


Karena Jeyve ditempati di akademi Nobleman, maka kebutuhan sekolah akan dibeli di toko tertentu. Sementara untuk akademi People, membeli kebutuhan sekolah secara gratis dan biayanya ditanggung oleh Juve untuk membayar semua kebutuhan anak-anak dari rakyat kurang mampu. Dan untuk rakyat mampu non bangsawan, biayanya tentu ditanggung oleh mereka karena mereka orang mampu, tokonya sama seperti toko rakyat kurang mampu.


"Ibu, aku ingin jalan-jalan. Disini sangat panas" kata Jeyve.


"Kalau kau pergi terlalu jauh, jangan harap kau pulang nanti dengan keadaan baik-baik saja" lanjut Juve yang menatap Jeyve.


"Aku janji" sahut Jeyve dan pergi keluar toko.


".....".


"Kuharap begitu juga. Karena aku tidak ingin kehilanganmu".


Jeyve akhirnya bisa bernafas lega karena telah keluar dari toko yang pengap dan juga hawa panas yang menyelimuti isi dalamnya, entah kenapa ibunya terlihat biasa-biasa saja ditempat sepanas itu.


"Baiklah, karena aku sudah keluar dari tempat itu. Akan ada baik—".


Duuk!


Belum menyelesaikan kata-katanya, Jeyve terjatuh karena ditabrak oleh seseorang.


"Aduuh!" Rintihnya sambil memegang belakang kepalanya yang sakit, Untungnya ia bisa menahan sakit.


"Eh?".

__ADS_1


Jeyve kaget karena melihat anak perempuan yang sepertinya seumuran dengannya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Jeyve yang segera berdiri dan mengulurkan tangannya.


Gadis kecil itu meraih tangan Jeyve dan ia pun berdiri sambil membersihkan bajunya.


"Maafkan aku yang tidak sengaja menabrakmu" kata anak perempuan tersebut sambil membungkuk meminta maaf.


"Ti-tidak apa-apa" sahut Jeyve.


"Kenapa kau bisa berada disini?" Tanya Jeyve.


Jeyve menatap gadis didepannya. Ia tidak pernah melihat orang manapun yang matanya berwarna emas secerah itu. Matanya seperti batu permata dan juga rambutnya yang berwarna hitam.


"Aku tersesat dari rombongan ayah dan ibuku. Sekarang aku tidak tahu mereka ada dimana" jawab sang gadis dengan mata berkaca-kaca.


Jeyve pun mulai salah tingkah akibat gadis didepannya.


"E-eh?! Jangan menangis! Aku akan membantumu menemukan orang tuamu!" Kata Jeyve yang mencoba menenangkan gadis itu.


"Benarkah?" Tanya gadis kecil tersebut yang langsung kembali ceria.


Jeyve pun dibuat bingung oleh gadis didepannya. Sesuai dengan katanya, Jeyve membawa gadis itu untuk pergi mencari orangtuanya, meskipun tahu resikonya.


Juve telah selesai melihat dan membeli barang-barang yang merupakan kebutuhan sekolah Jeyve. Ia pun berjalan keluar toko.


"Jeyve, ayo kita mampir ke toko bunga dulu sekalian membe— eh?" Juve tidak melanjutkan kata-katanya dan kaget melihat bahwa Jeyve tidak ada disekitar area toko tersebut.


Sementara itu, Jeyve yang sedang bersama gadis kecil itu masuk kedalam kerumunan orang banyak.


Setelah lama-lama berputar-putar mengelilingi tempat itu, akhirnya keduanya menemukan orang tua sang gadis.


"Ibu! Ayah!" Panggil sang gadis tersebut yang berlari menuju orangtuanya.


"Ya ampun. Kau darimana saja Helina?".


"Kau tidak tahu betapa khawatirnya kami ketika kau pergi meninggalkan kami".


"Bayangkan jika saja kami pulang tanpa membawamu".


"Lain kali, jangan begini lagi. Ayah tidak ingin terpisah darimu".


Jeyve menghela nafas lega karena akhirnya bisa membantu gadis itu untuk menemukan orangtuanya.


Sekarang ia hanya perlu kembali ke toko sebelumnya karena sudah pasti ibunya akan marah.


Dalam perjalanannya, mulutnya ditutup dengan tangan seorang pria tidak dikenal. Pria tersebut menangkap Jeyve.

__ADS_1


Wajar jika Jeyve panik dibandingkan adiknya, karena ia sama sekali tidak menurunkan kekuatan dari siapapun dan tidak ditakdirkan untuk memiliki kekuatan.


TO BE CONTINUED~


__ADS_2