
Kania Larasati, seorang aktris figuran yang menjalin hubungan dengan aktor ternama Kris Tama. Mereka bertemu dalam sebuah pekerjaan. Namun, Kris jatuh hati pada gadis itu.
Kini, hubungan mereka sudah diketahui publik. Ibunda Kris pun akhirnya mengetahui gadis yang membuat anaknya tergila-gila. Saat itu, beliau tengah mengikuti perkembangan berita tentang putranya.
Pasalnya, banyak desas-desus yang beredar mengenai hubungan Kris dengan beberapa wanita. Sayangnya, sang putra menjatuhkan pilihan pada wanita yang tidak memiliki bibit, bebet, dan bobot.
Bahkan, Kania tidak lagi memiliki keluarga. Nyonya Tama pun menghubungi manager yang mendampingi sang putra. Meminta pria itu menemuinya di ruang kantor.
"Masuk!" perintah Nyonya Tama, begitu mendengar ketukan.
"Nyonya panggil saya?" Pria yang diminta Nyonya Tama datang, telah berdiri di hadapannya.
"Siapa wanita yang digosipkan menjadi pacar Kris?" tanyanya to the point.
"Dia artis dari management star x, Nyonya. Mereka, sempat beradu akting dalam film kemarin," jawabnya dengan tubuh gemetar.
"Dia terkenal?" Lagi, Nyonya Tama bertanya.
"Yang saya tahu, selama ini dia hanya mendapat peran figuran." Sang manager menjawab dengan menundukkan kepala dalam.
"Figuran?" Wajah Nyonya Tama terlihat terkejut. "Hah ... aku tidak bisa biarkan hal ini terjadi!" gumam Nyonya Tama. "Kau boleh keluar!" usir Nyonya Tama.
Pria itu pun keluar dari ruangan sang atasan. Ia menghela napas lega setelah menutup pintu ruangan itu. "Aku pikir, aku bakal mati di dalam. " Ia mengusap dadanya lega.
"Kris, kau harus menanggung resiko besar setelah mengumumkan hubungan kalian ke media," ujar pria itu lirih. Ia mulai melangkah jauh dari ruangan direktur.
Nyonya Tama pun segera menghubungi Kris untuk menemuinya. Tidak ada bantahan dari sang putra.
***
Kris kembali duduk bersama Kania. Ia kembali menyuapkan potongan steak terakhir ke mulutnya. Kania menatap Kris penuh tanda tanya.
"Kok, lihat aku kayak gitu?" tanya Kris yang mendapati tatapan intens dari sang kekasih.
"Itu pasti mamamu," ujar Kania.
Tangan Kris terulur mengacak rambut Kania. "Iya," jawabnya singkat.
"Apa beliau marah?" tanya Kania lirih.
"Tidak. Mama cuma mau ketemu aku." Kris menjawab dengan tenang. Melihat ketegangan di wajah sang kekasih, Kris terkekeh. "Kamu tenang aja. Mama pasti menyetujui hubungan kita. Karena bagi mama, kebahagiaanku adalah kebahagiaannya," ucap Kris menenangkan.
__ADS_1
Kania menghela napas lega mendengar jawaban Kris. Ia pun menggenggam tangan Kris yang ada di atas meja. Pria itu, membalas genggaman Kania.
"Kamu harus janji, gak boleh ngelawan mama kamu. Bagaimana pun, beliau yang melahirkan dan membesarkan kamu," pinta Kania.
Kris pun menganggukkan kepala seraya tersenyum. Mereka pun mengakhiri acara makan malam itu. Kris mengantarkan Kania ke apartemen gadis itu. Setelah itu, ia melajukan mobilnya ke rumah.
Satu jam kemudian, Kris tiba di rumah. Saat masuk, seorang pelayan memintanya untuk ke ruang kerja sang ibu. Kris pun melangkahkan kaki ke ruangan yang dikatakan pelayan tadi.
"Ma," sapa Kris.
Nyonya Tama tersenyum lembut pada putranya. Ia memeluk Kris seperti biasa. Mereka pun duduk di sofa ruangan itu.
"Gimana kerjaan kamu, lancar?" Nyonya Tama mengawali perbincangan.
"Alhamdulilah, lancar, Ma," sahut Kris.
"Syukurlah kalau begitu." Nyonya Tama tersenyum seraya mengusap punggung sang putra.
Sejenak, ruangan itu terasa sunyi. Hanya detak jam di dinding yang terdengar. Kris pun berdeham untuk memecah kesunyian.
"Mama mau bertemu aku, tentang masalah yang beredar di media?" tanya Kris tepat sasaran.
"Iya, Ma. Namanya Kania," jawab Kris dengan mata berbinar.
Siapa pun pasti tahu, bila Kris benar-benar mencintai gadis bernama Kania itu. Nyonya Tama tetap tersenyum hangat. Melihat senyum di wajah sang ibu, Kris meyakini bila beliau tidak keberatan dengan hubungan mereka.
"Mama, tidak keberatan dengan hubungan kami, 'kan?" tanya Kris. Ia ingin memastikan penglihatannya dari jawaban sang ibu.
"Selama dia sumber kebahagiaan kamu, mama pasti dukung," jawab Nyonya Tama.
Kris menatap haru sang ibu. Ia memeluk erat wanita itu dan mengucapkan terima kasih berulang kali.
***
"Jadi, mama kamu setuju dengan hubungan kita?"
Kris menghubungi Kania, begitu ia kembali ke kamarnya. "Iya, Sayang. Setelah ini, aku mau memperkenalkan kalian. Lalu, aku akan melamar kamu, baru kita bisa menikah." Kris mengungkapkan rencana yang sudah ia susun dalam pikirannya.
Terdengar suara Kania tertawa di seberang sana. Kris pun ikut tersenyum. Tanpa tahu, jika Kania tengah mengalami kegundahan.
"Apa beliau tahu, tentang keluargaku?"
__ADS_1
"Kamu tenang aja. Nanti, kita bicarakan pelan-pelan sama mama. Aku yakin, mama akan mengerti," jawab Kris.
"Tapi ... aku ragu."
"Kita bahkan belum mencobanya, Sayang," bujuk Kris.
Cukup lama mereka berbicara di telepon. Kris berusaha meyakinkan Kania, bila ibunya akan menerima gadis itu. Setelah dirasa Kania lebih tenang, mereka pun mengakhiri panggilan itu.
"Semoga saja aku benar," gumam Kris.
***
Di apartemen Kania, gadis itu tengah menatap langit-langit apartemen studionya. Berkali-kali gadis itu menghela napas dalam. Setiap membicarakan tentang orang tua, Kania kembali teringat pada mereka.
"Apa orang tuaku masih hidup? Jika iya, kenapa mereka tidak pernah mencariku? Di mana mereka?" monolog Kania.
Selama tiga tahun menjadi artis, Kania berharap kedua orang tuanya bisa mengenali dia. Sayangnya, harapan tinggallah harapan. Tidak pernah ada orang yang mencari keberadaannya.
Meski kini pekerjaannya sebagai artis lebih sibuk, tetap tidak ada yang mencari. Sejak hubungannya dengan Kris dipublikasikan, Kania mulai kebanjiran job.
Ada banyak tawaran yang masuk melalui managernya. Kini, jadwal Kania benar-benar padat. Namun, ia masih meminta waktu libur pada sang manager. Waktu kosong itu ia gunakan untuk bertemu dengan Kris.
"Tapi, berkat Kris aku dapat banyak tawaran film dan sinetron. Bukan sebagai figuran, tapi pemeran utama." Wajah Kania tersenyum senang.
"Semoga, kali ini orang tuaku bisa melihat dan mengenali putrinya sendiri. Amin," doa Kania.
Ia kembali gusar, kala mengingat Kris yang tengah kembali ke kediamannya. Sejujurnya, ia merasa tidak yakin dengan hubungan mereka.
"Apa hubungan kami akan berjalan lancar? Apa ibu Kris bisa menerimaku?" tanya Kania pada dirinya sendiri.
Kantuk mulai menyerang Kania. Perlahan, ia pun terlelap. Kania tak lagi memikirkan apa yang akan terjadi esok. Ia hanya bisa berharap, esok akan jauh lebih baik dari hari ini.
***
Visual Kania, Kris, dan Nyonya Tama.
__ADS_1