
Melihat anak dan menantunya sudah rapi, Ramon dan Sasa saling pandang, mungkin mereka bertanya-tanya jika Rasya dan Sabrina mau pergi kemana.
"Sabrina, kamu mau kemana sayang?" tanya Sasa, karena tidak biasanya, menantunya yang cantik ini sudah terlihat rapi dan sepertinya ia akan bekerja.
"Dia akan menggantikan Inaya untuk sementara waktu, dan akan membantuku bekerja," jawab Rasya, sementara Sabrina hanya tersenyum menanggapi mertuanya.
"Apa kau bilang? Kalau manusia pelit itu tahu anaknya disuruh bekerja, habis pisang tandukmu itu Rasya!" ucap Ramon.
"Memangnya papa mertua suka makan pisang?"
"Aku hanya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti, makhluk pelit dan menyebalkan itu pasti akan membuat keributan," ucap Ramon.
"Papa tenang saja, Papa tidak akan menyalahkan Rasya. Aku akan mengatakan pada papa, jika aku yang memaksanya," ucap Sabrina, yang merasa tidak enak pada kedua mertuanya ini. Sabrina akui papanya itu memang sangat cerewet dan juga menyebalkan. Pantas saja jika banyak orang yang waspada dengannya.
"Jangan tersungging ya sayang, aku sama sekali tidak masalah jika kau mau bekerja denganku. Aku bahagia karena setiap saat aku akan selalu melihat wajah cantikmu di kantor nanti. Itu akan menjadi penyemangatku,"
"Tersinggung Abon bukan tersungging, bukankah kau itu titisan micin tapi kenapa kau bicara seperti ratu ubur-ubur saja!" ujar Ramon, yang jadi teringat gaya bicara Sabira yang selalu terbalik.
"Papi lupa ya, kalau micin sama ubur-ubur sepupuan,"
__ADS_1
Ramon langsung melihat kearah Istrinya, astaga ia sempat lupa jika mereka berasal dari habitat yang sama.
"Sasa juga jadi mau kerja, boleh gak kalau nanti Sasa jadi asisten Papi?"
"Boleh saja, kalau kau ingin membuat perusahaanku meledak,"
"Aihhh, emang Sasa teh bom gitu, kok sampe meledak kantornya,"
"Sudahlah, kau diam saja di rumah. Jangan pikirkan pekerjaan, kasihan karyawanku nanti, mereka belum terbiasa dengan ucapan-ucapanmu yang gurih itu. Aku takut mereka mabuk micin,"
"Emang mereka gak mabuk abon?
*
*
*
Saat di kantor kedatangan Sabrina pun sudah dijelaskan pada Ivan, hanya untuk menggantikan Inaya sementara sampai ia benar-benar sembuh. Dan Ivan pun mengerti karena pekerjaan di kantor juga sangat banyak. Justru ia merasa menjadi tidak enak, karena di saat kantor sedang banyak pekerjaan. Inaya tidak bisa membantu karena memang sedang tidak enak badan.
__ADS_1
Di kantor Rasya jadi tidak bisa fokus bekerja, karena Sabrina yang berada satu ruangan dengannya membuat jantung Rasya jungkir balik sejak tadi. Ia ingin sekali memeluk, mencium minum susu bahkan sampai ehem-ehem. Otaknya dibuat kalang kabut gara-gara ada Istrinya di kantor.
Oh ya ampun anak Abon ini jadi tidak bisa berkonsentrasi sekarang, ia butuh pendingin otak saat ini. Tapi bagaimanapun caranya, bahkan pendingin hatinya ada bersamanya saat ini. Rasya terus melihat kearah Sabrina yang sangat cantik. Berharap jika istrinya ini bisa memberikan nutrisi yang menyehatkan, minum susu misalnya.
"Aaaaaarrggghhhh .... Astaga!" teriak Rasya yang tidak tahan karena ada Istrinya di sana. Melihat Sabrina membuat ia terus merasakan hasratnya yang luar biasa.
"Rasya kau kenapa?" tanya Sabrina panik dan langsung mendekati Rasya, Sabrina berpikir jika suaminya ini tertekan karena banyaknya pekerjaan.
"Ada apa?" tanya Sabrina.
Rasya pun langsung memeluk Sabrina, dengan posisi Rasya yang duduk dan Sabrina berdiri. Sabrina yang merasa kasihan pada suaminya ini pun membalas pelukannya dan membelai rambut Rasya dengan sangat lembut.
"Ada apa, apa kau sakit?" tapi Rasya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sabrina. Tangan nakalnya justru masuk kedalam kemeja yang Sabrina gunakan. Membuat Sabrina menjadi tegang dengan apa yang suaminya lakukan.
"Rasya kau mau apa, apa yang kau lakukan?" tanya Sabrina pada suaminya, tangan nakalnya kini sudah sampai di sumber kesehatan dan sumber vitaminnya.
"Aku haus sayang,"
"Apa?"
__ADS_1