
Setelah Kris berangkat, Kania segera membersihkan rumah. Kebetulan, hari ini ia tak memiliki jadwal pekerjaan. Nyonya Tama pun, sudah berangkat bekerja. Tinggallah Kania di sana bersama para pelayan.
Ia mulai membersihkan kamarnya bersama Kris. Mengeluarkan pakaian kotor mereka. Selesai dengan ruang kamarnya, ia beralih dengan membersihkan rumah itu. Ruang kerja dan kamar utama, tidak Kania sentuh. Ia tidak ingin menimbulkan masalah lain.
"Nona, biar kami saja yang bersihkan rumah," ucap salah seorang pelayan yang melihat Kania melakukan tugas mereka.
Melihat raut wajah penuh ketakutan di wajah mereka, Kania pun tersenyum. "Gak apa, kok. Mumpung saya lagi libur."
"Tapi ...."
"Kerjakan yang lain saja!" sela Kania lebih dulu.
Pelayan itu pun menuruti perintah majikan baru mereka. Kania melanjutkan pekerjaannya. Selama empat jam, Kania membereskan rumah hingga selesai. Rasa lelah, membuatnya kembali ke kamar. Kemudian, merebahkan tubuh dan tertidur lelap.
***
"Bangun!" teriak seseorang. Ia menarik selimut yang Kania gunakan.
Perlahan, mata Kania terbuka. Terlihat wajah sang mertua yang menatapnya tajam. Tatapan Kania beralih pada jam di atas nakas. Kedua matanya membola sempurna melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul enam sore.
"Sudah sadar?" tanya Nyonya Tama. "Aku sudah bilang, untuk persiapkan makan malam. Kau malah dengan sengaja tertidur di sini?"
Kata-kata Nyonya Tama membuat Kania tak berani menatapnya. Ia tahu, sudah membuat kesalahan hari ini. Namun, salahkah dia yang merasa kelelahan dan tertidur?
"Sekarang, siapkan makan malam. Aku ingin kau memasak lima jenis sayur, tiga jenis lauk, dan jangan lupa tiga jenis makanan penutup!" titah Nyonya Tama.
Wanita itu pun meninggalkan kamar anak dan menantunya. Sepeninggal sang mertua, Kania menghela napas lega. Ia segera beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri lebih dulu.
***
Setelah berjibaku di dapur selama kurang lebih satu jam, Kania akhirnya bisa menyelesaikan semua masakan yang diminta sang mertua. Tepat saat Kania akan menyajikan masakan itu, Kris kembali.
"Sayang, kenapa kamu yang kerjakan?" Kris membantu Kania menyiapkan makan malam.
__ADS_1
"Kris, Kania, kalian ngapain? Memang Mbak Jum dan Mbak Irah ke mana? Kenapa kalian yang menyiapkan makan malam?" tanya Nyonya Tama yang baru saja tiba di rumah makan.
"Mungkin mereka sedang ada pekerjaan lain, Ma," jawab Kris.
Kania menatap datar ibu mertuanya yang seolah tak merasa bersalah. Wanita itu bahkan ikut membantu mereka menyiapkan makan malam. Saat mereka bertatapan, Nyonya Tama menatap tajam pada menantunya itu. Kania mengerti arti tatapan sang mertua pun memilih menundukkan kepala.
"Ya, sudah. Nanti biar mama ingatkan! Untuk apa mereka digaji, kalau pekerjaannya seperti ini!" dengus Nyonya Tama.
"Gak apa, kok, Ma. Kania juga iseng." Senyum canggung terlukis di wajah Kania.
Sebelah tangan Nyonya Tama menyentuh punggung tangan Kania. Wajahnya terlihat merasa tidak enak pada sang menantu. Kris yang melihat keakraban di antara ibu dan istrinya tersenyum senang. Pria itu belum menyadari keadaan yang sebenarnya.
Usai makan malam, Nyonya Tama memanggil semua pelayan yang bekerja di rumah itu. Kania dan Kris yang akan naik ke kamar mereka, tertahan atas perintah Nyonya Tama. Mau tak mau, keduanya kembali bergabung di ruang tamu.
"Kalian tahu, apa kesalahan kalian?" tanya Nyonya Tama dengan suara menggema di ruangan itu.
Kania meremas tangannya mulai khawatir. Sementara para pelayan, terlihat menundukkan kepala dalam. Kania bisa melihat tubuh mereka yang bergetar hebat. Entah mengapa, ia merasa akan ada drama di sini.
Nyonya Tama mengangkat tangan menghentikan apa pun yang akan Kris katakan. Matanya masih menatap tajam para pelayan yang berdiri di depan. Kania sendiri, sudah mulai tak nyaman dengan pertunjukkan itu.
"Berani sekali kalian membiarkan menantuku mengerjakan pekerjaan kalian!"
Para pelayan mulai berlutut dan meminta ampun pada Nyonya Tama. Namun, Kania bisa merasakan lirikan mereka yang mengarah padanya. Sekarang, ia mengerti alasan sang mertua melarangnya memberitahu orang lain masalah ini. Wanita itu ingin, mengkambing hitamkan Kania.
"Ma, jangan salahkan mereka! Kania hanya ingin melakukan tugas sebagai seorang istri." Entah bagaimana kata-kata itu yang keluar dari mulut Kania, alih-alih mengatakan tentang surat perjanjian itu.
"Sayang." Kris menatap Kania penuh cinta setelah mendengar jawaban sang istri.
"Bukan begitu, Nak. Itu seharusnya menjadi tugas mereka. Kalau sampai kamu yang kerjakan, lalu apa tugas mereka? Makan gaji buta?" Nyonya Tama melanjutkan drama yang telah ia mulai.
Sial! Aku harus lebih pintar menghadapi nenek sihir ini. Dia benar-benar bermuka dua! gumam Kania dalam hati.
Jujur saja, ia mulai muak melihat sikap mertuanya yang berubah-ubah. Namun, Kania menyadari satu hal, semua ini adalah permainan sang mertua, agar Kris dan dirinya berpisah.
__ADS_1
"Gak apa, Ma. Mulai sekarang, bila aku tak ada jadwal syuting dan pekerjaan lain, biar aku yang mengambil tanggung jawab pekerjaan." Kania pun memutuskan mengikuti permainan ibu mertuanya.
Nyonya Tama dan Kania saling menatap satu sama lain. Kali ini, ia bisa melihat tatapan kebencian dari mata sang mertua. Bisa ia pastikan, akan sangat sulit merubah pendirian Nyonya Tama.
Para pelayan saling bertukar pandang mendengar ucapan nona muda mereka. Mungkin, mereka merasa tak percaya dengan apa yang Kania katakan. Terdengar helaan napas berat dari Nyonya Tama.
"Ya, sudah. Gimana menurut kamu saja. Tapi, ingat! Prioritaskan pewaris keluarga Tama!" Nyonya Tama mengacungkan jari telunjuknya pada Kania.
"Iya, Ma," jawab Kania dengan senyum lembut.
Kania terkejut, saat Nyonya Tama menghampiri dan memeluknya dengan lembut. Namun, yang membuat Kania tertegun adalah bisikan Nyonya Tama.
"Bagus, pertahankan aktingmu di depan orang lain. Tidak boleh ada yang tahu isi perjanjian itu. Dan, kau tidak bisa melanggarnya juga. Semua tugas itu, tetap harus kau lakukan. Aku sudah mempermudah tugasmu, 'kan?" bisik Nyonya Tama.
Pelukan itu pun mulai merenggang. Nyonya Tama tersenyum pada menantunya. "Kalian boleh kembali," titah Nyonya Tama pada para pelayannya.
Mereka pun mulai meninggalkan ruang tamu. Kris merangkul bahu Kania. Melihat senyum sang suami yang penuh cinta, Kania membalas senyum itu.
"Kalau begitu, kami kembali ke kamar, ya, Ma," pamit Kris, "mau buat cuci pesanan, Mama," imbuh Kris seraya menarik tangan Kania untuk mengikutinya.
"Iya," sahut Nyonya Tama.
Kania menoleh dan melihat tatapan tak suka dari wajah mertuanya. Entah bagaimana kehidupan Kania selanjutnya. Ia tak sadar, Kris sudah mendudukkan dirinya di atas ranjang.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Kris melihat Kania yang hanya diam.
"Sayang, bagaimana kalau kita tinggal di apartemenku saja? Atau, kita bisa membeli rumah lain, sewa juga tidak masalah."
Kris mengerutkan kening mendengar penuturan sang istri. "Ada masalah apa, Sayang? Masalah pelayan tadi?" tanya Kris.
"Ti-tidak. Aku hanya merasa tak enak pada mereka dan mama. Itu saja. Sudahlah, lupakan saja." Kania beranjak dari duduknya. Memilih mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
Kali ini, Kris merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya. Ada apa ini?
__ADS_1