Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
Bab 24


__ADS_3

Sambil menggendong Inaya, Deo terus saja menggerutu. Karena ia berharap jika saat ini ia menggendong Sabrina saja. Kenapa harus gadis galak dan juga jutek ini yang ia gendong.


"Mimpi apa aku semalam, sampai aku harus menggendong dugong seperti ini,"gerutunya, sambil matanya sesekali melihat ke arah wajah Inaya yang sangat cantik.


"Hei, Doraemon jahat! Aku tidak memintamu untuk menggendongku!" ucap Inaya, karena memang sebenarnya ia ingin Rasyalah yang menggendongnya. Bukan makhluk bermulut besar dan menyebalkan seperti Deo ini. Sayangnya di sana ada Sabrina, jadi mana mungkin Rasya akan melakukan hal itu padanya. Dan kenapa Sabrina malah meminta Deo untuk menolongnya, sepertinya Sabrina mulai siaga menjaga Rasya.


"Memang bukan kau yang memintaku! Tapi gadis cantik-ku yang memintaku untuk menolongmu. Kalau bukan karena permintaannya, mana mungkin aku mau membawa seorang Duyung yang galak sepertimu!"


"Aaaarrrrkkkhhhhh..."


"Kenapa kau menggigitku?" kesal Deo, pada Inaya yang menggigit lehernya karena kesal.


"Hei kau mau membawa anakku kemana?" tanya Ivan yang melihat putrinya digendong oleh, putra Suneo ini.


"Aaaarrrrkkkhhhhh..." kali ini giliran Inaya yang berteriak, karena terjatuh dari gendongan Deo yang terlepas, ia terkejut saat melihat pria yang membuat tanda di kepalanya, hingga bentuknya tidak akan simetris untuk sementara waktu.


"Mati aku ..." ucap Deo.


Dughhh...


"Astaga ..."


Sekali lagi, Ivan memberikan tanda tangannya di kepala Deo. Ia kesal karena melihat Deo tiba-tiba melepaskan Inaya dari gendongannya. Hingga putri kesayangannya, terjatuh dan memekik kesakitan.

__ADS_1


"Sayang kau tidak apa-apa?" tanya Ivan, ia melihat Inaya meringis kesakitan.


"Ini sakit sekali Pah," rengek Inaya


"Oh ya ampun," Ivan kini langsung menggendong putrinya dan membawanya untuk berobat.


"Awas kau! Akan aku balas nanti, dasar Doraemon. Aku akan membicarakannya dengan Suneo agar ia menghukum putranya yang selalu membuat ulah!" ujar Ivan dan membawa putri kesayangannya pergi.


"Oh astaga, sepertinya aku juga harus diperiksa. Apa sekarang wajahku masih tampan atau tidak ya, Papa duyung rupanya juga sangat galak, pantas saja anaknya pun sangat galak!" kesal Deo sambil terus mengusap - usap kepalanya yang sakit akibat serangan dari Ivan.


*


*


*


Oh tidak! Rasya tidak mau jika ia sampai menjadi duda, apalagi menjadi duda perjaka. Jadi sebisa mungkin ia akan membujuk Sabrina agar tidak marah lagi , karena sampai sekarang Istrinya itu masih terlihat sangat kesal. Bahkan bekal makanan yang ia bawa, masih ia genggam erat.


Sabrina hanya diam dan tidak mengeluarkan suaranya, ya ampun... sudah jarang bicara, dan sekarang ia malah tidak mau bicara. Membuat Abon mini ini gelisah saja.


"Sayangku,"


"Apa!" jawabnya dengan ketus, akan tetapi meskipun ketus Rasya merasa senang karena ia mau menjawabnya.

__ADS_1


"Rasya," panggil Sabrina, suara Sabrina seolah membuat letupan kembang api di hati Abon mini ini. Ia sangat bahagia, Bahkan sangat - sangat bahagia saat suara yang terdengar merdu itu menyapa telinga dan hatinya.


"Iya sayang, kenapa?" tanya Rasya dan mulai mendekati Sabrina yang mulai menyimpan kotak makanan itu. Rasya tahu jika itu dari sang Mami tercinta, karena kotak itu adalah kotak makan kesayangannya.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Sabrina.


"Kau sangat tahu bagaimana perasaanku padamu sayang," Rasya menambah jarak kedekatannya dengan Sabrina.


"Lalu kenapa kau tidak membujukku tadi, dan kenapa kau malah diam saja! Kau sangat menyebalkan!" rajuk Sabrina pada Rasya, hingga membuat Rasya bahagia karena ternyata Istrinya ini ingin dibujuk olehnya.


Melihat wajah Sabrina yang masih kesal sebenarnya itu terlihat sangat menggemaskan, hingga Rasya tidak tahan dan langsung memeluk Sabrina dan kemudian menciuminya.


"Aku sangat mencintaimu sayang, seharusnya kau yang paling tahu perasaanku. Bahkan sejak dulu aku selalu mengejarmu, untuk mendapatkan cintamu. Hingga akhirnya Tuhan menyatukan kita dengan cara yang tidak disangka-sangka," ucap Rasya dan kemudian mencium bibir seksi Sabrina yang setiap kali selalu menggodanya.


Lama Rasya mencium Sabrina, dan hal yang paling membahagiakan adalah jika Sabrina membalas ciumannya dengan sangat lembut. Hingga tanpa mereka sadari, kini Rasya sudah berada di atas tubuh Sabrina yang masih betah menciumi bibirnya.


"Rasyaaaaaa... ya ampun kalau mau cetak anak mah di rumah aja, jangan di kantor!" teriak Sasa, yang ternyata datang menyusul Sabrina ka kantor. Karena ia juga membawakan makan siang untuk suaminya. Dan setelah Ramon selesai makan siang, ia berniat untuk mengajak menantunya ini untuk pulang bersama. Setelah itu ia akan mengajaknya berbelanja dan juga jalan - jalan. Akan tetapi saat hendak masuk ke ruangan Rasya, Sasa malah di sajikan dengan pemandangan luar biasa dihadapannya. Dimana anak dan menantunya, hampir saja mencetak cucu untuknya.


Mereka berdua terkejut dan langsung duduk ke posisi masing-masing, sungguh jika saat ini ada lubang semut. Mereka ingin sekali masuk dan bersembunyi di sana. Kenapa Sasa tidak pura-pura melihat saja, dan anggap saja ia tidak melihat apapun. Bukannya berteriak memanggil anaknya hingga membuat mereka malu.


Jangan harap Sasako akan melakukan itu, karena sampai sekarang ia tetap si micin yang selalu gurih dalam bicara dan berpikir.


Dukungannya jangan lupa ya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2