
Dengan terpaksa malam ini Inaya menggunakan pakaian Deo, luar dan juga dalam. Karena pakaian yang sudah ia siapkan dari kemarin ternyata tak ada di apartemennya Deo. Inaya berpikir jika ini semua memang pekerjaan mamahnya Sintia, yang mengetahui jika ia terpaksa menikah dengan Deo. Sintia ingin jika putrinya menjalani pernikahan yang semestinya. Seperti saat dulu ia menikah dengan Ivan. Meskipun mereka dijodohkan, akan tetapi mereka berdua selalu berusaha menjalani hubungan pernikahan ini dengan baik. Hingga pada akhirnya, mereka pun saling mencintai sampai saat ini.
Deo sedikit terganggu saat melihat Inaya mengenakan kemeja putih miliknya, bagaimana pun juga Deo adalah pria normal yang menyukai perempuan. Apalagi, Inaya adalah seorang gadis yang cantik. Tubuhnya yang ramping dengan buah mangga yang sangat pas ukurannya membuat Deo tergoda untuk mencicipinya.
Sayang, di surat perjanjian mereka sudah mengatakan jika jangan ada kontak fisik antara mereka berdua. Kalau tahu Inaya seseksi ini, mungkin Deo akan menolak perjanjian non jungkat-jungkit yang sudah ia tanda tangani itu.
"Hei kau, kenapa kau tidak masuk ke kamarmu dan tidur sana! Kenapa kau malah duduk manis di hadapanku. Apa kau ingin menghabiskan malam pertama denganku?" tanya Deo, berharap jika Inaya berkata iya dan mau mencoba permainan baru.
"Jangan sembarangan! Kau pikir aku akan tidur dimana? Di kamar yang kau sediakan di sana sama sekali tidak ada apapun! Kau benar-benar menyebalkan. Jika kau tak mampu membeli sebuah ranjang, kenapa tidak kau katakan saja padaku. Aku masih sanggup membelinya, walaupun tidak semahal punyamu!" ketus Inaya.
"Apa yang kau bicarakan, semuanya sudah lengkap di sana! Aku bahkan sudah menyiapkannya seminggu sebelum kita menikah!" bantah Deo, karena memang ia sudah menyiapkan segalanya di apartemennya ini. Iq sudah menyiapkan satu kamar khusus yang akan Inaya tempati
Tapi kenapa, duyung galak ini malah mengatakan jika di kamar itu tidak apa-apa
Karena merasa penasaran, akhirnya Deo pun bangkit dan berjalan menuju ke kamar Inaya. Dan benar saja, di kamar itu tidak ada apapun. Hanya sebuah ruangan kosong yang tak terisi apa-apa.
__ADS_1
Deo yakin jika semua ini ada campur tangan dari Papinya Daniel, yang selama ini pasti mengawasi gerak-geriknya.
Dasar Suneo licik
Deo pun kembali menuju sofa dimana Inaya masih duduk manis dan terlihat sangat menggoda imannya yang tipis itu.
"Sepertinya ini ulah Papi dan Mami," ucap Deo.
Inaya setuju dengan pemikiran Deo, karena semua ini pasti ulah dari orang tua mereka yang ingin mereka hidup bersama. Semua rencana yang telah mereka susun sia-sia sudah. Mereka berdua tak menyangka jika kedua orang tuanya akan melakukan hal ini.
"Mungkin mereka lupa," jawab Inaya asal.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Deo.
"Bagaimana apanya, aku ingin tidur. Aku sangat mengantuk, pinjami aku selimut. Aku tidur di sofa saja,"
__ADS_1
"Kenapa tidak tidur di kamar saja, kasurku cukup luas. Dan aku tidak keberatan untuk berbagi,"
"Tidak terima kasih, aku tidur di sini saja!"
Deo berdecak sebal mendengarnya, ia pun kemudian masuk ke kamarnya untuk mengambil selimut untuk Inaya gunakan menutupi tubuh seksinya. Padahal Deo berharap jika Inaya tak usah mengganggukan selimut saja. Agar ia bisa dengan mudah melihat tubuh mulus dan seksi itu.
*
*
*
Sambil nunggu cerita ini up mampir dulu yuk di karya salah satu temen Author aku 😘😘😘
__ADS_1