Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
bab 8 Penolong


__ADS_3

Pagi hari, Kania mendapat panggilan telepon dari Dirga sang manager. Pria itu memberitahunya, bila semua schedule hari itu dibatalkan. Kania sampai terduduk mendengar ucapan Dirga.


"Gak salah, Mas?" tanya Kania tak percaya.


Kris yang masih tertidur di sampingnya, sampai terbangun mendengar suara Kania yang sedikit meninggi. Dengan sebuah isyarat, Kania memohon maaf pada suaminya.


"Ya, sudah. Kabari aku kalau schedule-nya berubah lagi, ya." Tak lama, Kania menaruh ponselnya lagi.


Melihat raut wajah sang istri, Kris mendekatinya. "Ada apa?" tanyanya.


"Aku batal syuting hari ini. Katanya, mereka dapat pemain yang lebih baik dari aku," jawab Kania lemah.


Dahi Kris berkerut dalam. "Bukannya sudah tanda tangan kontrak?"


Kania menganggukkan kepala. "Katanya, mereka akan membayar kompensasi."


"Kenapa tidak kamu tuntut saja?" tanya Kris, "biar aku bantu." Kris mengambil ponselnya di atas nakas.


Sayangnya, Kania menghalangi niat Kris yang ingin membantu. Wanita itu menggelengkan kepalanya. Kris menatap Kania penuh tanya.


"Tidak perlu memperumit masalah. Anggap saja aku sedang berlibur," ucap Kania.


"Aku tida menyesal jatuh cinta dan menikahi wanita sebaik dirimu. Padahal, dalam kasus ini kau bisa menuntut mereka. Tapi tidak kau lakukan." Kris mengecup punggung tangan sang istri.


"Bagaimana kalau kamu menemaniku hari ini? Kebetulan aku ada syuting sampai tengah malam nanti," tawar Kris.


Kania terlihat berpikir keras. Jujur, ia ingin ikut dengan Kris. Akan tetapi, ia juga takut ibu mertuanya marah, bila melanggar perjanjian mereka.


"Boleh aku menyusul nanti saja?"


"Kenapa harus menyusul? Kita bisa pergi sama-sama, kok," tolak Kris.


"Tapi, aku sudah janji sama mama semalam. Kalau aku senggang, aku yang akan mengurus rumah," ucap Kania mengingatkan Kris akan pembicaraan mereka.


Suasana hening sejenak. Kania masih menunggu jawaban sang suami. Kris menatap Kania dalam. Perlahan, pria itu menganggukkan kepala menyetujui keinginan sang istri.


"Tapi, dengan syarat!" ucap Kris tiba-tiba.


Kania tak bisa menutupi rasa terkejutnya. "Apa?"


"Nanti, akan ada seseorang yang menjemput kamu ke sini." Kris menatap wajah sang istri penuh cinta.


Helaan napas terdengar dari Kania. Ia sempat berpikir, bila Kris akan mengajukan syarat yang tidak akan bisa ia penuhi. Ikut berperan dalam film yang ia bintangi, misalnya.

__ADS_1


"Ok!" jawab Kania setuju.


***


Nyonya Tama mendekati Kania, setelah memastikan Kris pergi. "Sepertinya, mulai hari ini kau akan punya waktu luang untuk membersihkan seluruh rumah. Ini adalah bayaran yang pantas untuk ide cemerlang mu tadi malam," bisiknya.


Tubuh Kania berubah kaku mendengar kata-kata itu. Ia menatap ibu mertuanya yang tersenyum senang melihat ke arahnya. Bukankah dia yang memulai drama? batin Kania.


"Ah, bukan! Tapi, bayaran karena kau tertidur sampai terlambat menyediakan makan malam!" ralatnya. "Sekarang, ikut aku!" Nyonya Tama menarik tangan Kania kuat.


Hampir saja Kania terjatuh, bila ia tak segera menyeimbangkan diri. Mereka berhenti di kamar utama, kamar yang ditempati Nyonya Tama sendiri. Tangan Kania dihempaskan dengan kasar, begitu pintu tertutup.


"Berhubung aku senggang, aku ingin melihatmu membersihkan kamarku. Sikat kamar mandi itu sampai bersih. Jika masih licin, mungkin aku akan membuat semua pekerjaanmu yang tersisa hilang!" ancam Nyonya Tama.


Tangan Kania terkepal kuat mendengar ancaman itu. Susah payah ia membangun karirnya. Kini, haruskah ia merelakan karirnya? Tidak bisa kubiarkan!


"Kenapa masih diam di sini? Cepat kerjakan!" sentak Nyonya Tama.


Kania segera mengerjakan perintah ibu mertuanya. Ia membersihkan kamar mandi hingga ke sudut. Selesai dengan kamar mandi, Nyonya Tama meminta Kania mengganti gorden serta seprai, selimut, dan sarung bantal.


Kemudian, membersihkan setiap debu dari kamar itu. Nyonya Tama, bahkan mengawasi setiap gerak gerik Kania. Tak sedetik pun, wanita paruh baya itu melepaskan pandangan dari menantu yang tak dianggapnya itu.


"Semua sudah selesai, Nyonya," ucap Kania dengan deru napas tak teratur. Ia begitu kelelahan dengan setiap pekerjaan yang ditugaskan sang ibu mertua.


"Bagus. Mulai sekarang, tugasmu membersihkan kamar ini. Jika ada barang-barang yang hilang, jelas akan ada hukuman yang kau terima!"


"Kania!"


"Ya," jawab Kania.


"Kebersihan rumah ini, akan tetap jadi tanggung jawabmu!"


Pintu kamar Nyonya Tama kembali tertutup. Kania menghela napas kasar. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah. Namun, ia dikejutkan dengan dua orang pelayan yang muncul di depannya.


"Kalian ... sejak kapan di situ?" tanyanya terbata. Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan itu. "Kalian ... dengar pembicaraan tadi?"


Kedua pelayan itu menganggukkan kepala. Kania menghela napas perlahan. Ia mendekati mereka dan memegang tangan keduanya.


"Saya minta tolong, jangan sampai Kris tahu masalah ini," pinta Kania.


"Nona, seharusnya, Anda, memberitahu tuan muda tentang hal ini. Bagaimana pun, tuan muda berhak tahu semua yang terjadi," ucap salah satu dari mereka.


"Tidak! Saya tidak mau Kris bertengkar dengan nyonya. Saya takut, nyonya akan semakin membenci saya."

__ADS_1


Kedua pelayan itu menaruh iba pada majikan mereka. Tak menyangka, bila nyonya yang mereka hormati, bisa berbuat sejahat itu pada menantunya sendiri.


"Baiklah. Kami akan membantu, Nona. Termasuk pekerjaan rumah," ucap seorang lagi.


Kania mengucapkan banyak terima kasih pada mereka. Ia merasa beruntung karena di tengah penderitaannya, Tuhan masih mengirimkan orang yang mau membantu.


***


Tugas Kania membersihkan rumah selesai lebih cepat dari biasanya. Semua, berkat pertolongan Mbak Jum dan Mbak Irah. Dua pelayan yang mengetahui alasan Kania melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Terima kasih, ya, Mbak, sudah bantu saya," ucap Kania.


"Tidak masalah, Nona," balas keduanya serempak.


Suara deru mesin, membuat ketiganya menghentikan perbincangan. Kania pun teringat, akan ucapan Kris yang akan mengirim seseorang untuk menjemputnya.


"Oh, iya. Saya lupa, kalau Kris mau kirim orang untuk jemput."


"Kalau begitu, Nona, siap-siap saja. Biar kami lihat siapa yang datang."


Kania menganggukkan kepala dan segera ke kamarnya. Membersihkan diri secara cepat dan segera kembali keluar. Seorang pria berperawakan muda menyapa Kania dengan anggukkan kepala.


"Mbak Kania?" tanya pria itu.


"Iya, saya Kania."


"Saya diminta Mas Kris menjemput, Mbak."


"Iya, saya tahu. Ayo," ajak Kania.


Langkah keduanya terhenti, kala sebuah suara menginterupsi mereka. "Mau ke mana kamu? Selingkuh?" tuduh suara itu.


Kania dan pria itu menoleh terkejut mendengar tuduhan yang tak berdasar. Mata pria itu membola, saat melihat wanita yang tadi menegur mereka.


"Bu Direktur," ucap pria itu. Ia menghampiri Nyonya Tama dan menunduk hormat.


"Kamu, bukannya asisten Kris?" tanya Nyonya Tama.


"Iya, Bu. Saya diminta Mas Kris menjemput Mbak ini," tunjuknya pada Kania.


"Ke mana?" tanyanya lagi.


"Lokasi syuting Mas Kris."

__ADS_1


"Tidak bisa. Katakan pada Kris, saya mau ajak Kania belanja bersama." Tatapan Nyonya Tama terhunus pada Kania.


Pria itu pun membiarkan atasannya pergi dengan Kania. Apa lagi maunya, sih?


__ADS_2