Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
bab 12 Drama lagi?


__ADS_3

Sejak semalam, Kania dan Kris sudah membereskan barang-barang mereka. Rencananya, mereka hanya akan membawa separuh barang saja. Selebihnya, akan mereka tinggalkan.


Sesekali, mereka akan datang berkunjung ke rumah itu. Seperti itulah yang Kania dan Kris pikirkan. Kris keluar dari kamar dengan membawa box di tangannya.


"Loh, kamu mau ke mana, Nak?" tanya Nyonya Tama yang bertemu dengannya di tangga.


"Kami memutuskan untuk pindah rumah, Ma," jawab Kris tenang.


Nyonya Tama membeku mendengar jawaban sang putra. Kris segera melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah menunggu.


Kania yang baru keluar dari kamar, terkejut melihat ibu mertuanya yang datang mendekat. Satu tamparan kuat mendarat di pipi Kania. Rasa panas menjalar di pipi kanannya.


"Ma!" teriak Kris yang baru kembali.


Pria itu menghampiri istrinya dan mengangkat wajah Kania. Tangan Kris terangkat dan mengusap pipi sang istri yang memerah.


"Kenapa, Mama, tampar Kania?" tanya Kris dengan suara meninggi.


"Apa dia yang mengajakmu pindah dari sini? Apa dia mengatakan sesuatu yang menjelekkan mama?" pekik Nyonya Tama.


"Sedikit pun Kania tidak pernah mengeluh tentang perlakuan, Mama. Jangan kira aku tidak tahu apa yang sudah, Mama perbuat pada istriku. Aku tahu semua!" jelas Kris.


Seketika, Nyonya Tama terkesiap. Tatapannya tertuju pada Kania. Melihat tatapan tajam ibu mertuanya, Kania hanya mampu menundukkan kepala dalam. Kris menarik sang istri ke dalam pelukannya.


Kris pun segera mengajak Kania keluar. Nyonya Tama hanya menatap kosong punggung keduanya.


***


Kris dan Kania tiba di rumah yang akan mereka tempati. Senyum di wajah Kania, menunjukkan betapa ia bahagia. Selama perjalanan tadi, ada banyak pertanyaan yang hinggap di benak Kania.


Namun, wanita itu tak sedikit pun mempertanyakannya pada sang suami. Begitu pun dengan Kris. Mereka justru membicarakan hal remeh temeh yang tidak ada hubungannya dengan kejadian tadi.


"Kamu tidak ingin bertanya apa pun?" tanya Kris.


Mereka baru saja selesai membereskan pakaian ke dalam lemari. Kania menatap mata Kris dalam. Kegamangan mulai menyergap hatinya.


"Apa maksud ucapan kamu ke mama tadi?" tanya Kania. Ia hanya ingin tahu, benarkah Kris mengetahui semua yang terjadi padanya di rumah itu, ataukah ia hanya menebaknya?


"Aku tahu masalah perjanjian antara kamu dan mama. Aku juga tahu bagaimana sikap mama padamu." Kris pun mulai menceritakan, dari mana ia mengetahui perjanjian yang dibuat ibunya.


Rupanya, ia menemukan surat yang belum Kania tanda tangani waktu itu. Melihat itu, ia sadar bila sang ibu belum memberi Resti sepenuhnya. Sejak itu, Kris mulai menyiapkan rumah untuk mereka tempati.


"Jadi ... kamu tahu semuanya?" Air mata Kania mulai menetes.


Kris kembali menarik sang istri ke pelukannya. Berkali-kali ia mengecup puncak kepala sang istri. Bahkan, Kris meminta maaf pada Kania.

__ADS_1


"Maaf karena aku tidak terang-terangan membelamu. Jujur saja, aku kecewa pada sikap mama. Tapi, untuk terus berpura-pura tidak tahu adalah hal yang sulit untukku," ucap Kris.


"Maafin aku juga, Yang. Seharusnya, aku bisa bertahan sampai mama merestui kita," ucap Kania di sela isak tangisnya.


"Itu bukan salah kamu, Sayang." Kris mencoba menenangkan sang istri.


Sementara di kediaman Nyonya Tama, wanita itu tengah duduk terdiam menatap foto besar di ruang keluarga. Itu adalah foto pernikahan Kris dan Kania. Entah apa yang dipikirkan Nyonya Tama saat ini.


Beberapa pelayan yang melihat itu, hanya bisa menunggu perintah dari majikan mereka. Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan pecahan vas yang dibanting oleh Nyonya Tama, disertai dengan teriakannya.


"Astaga, sepertinya nyonya sangat marah," bisik salah satu pelayan.


"Sstt, sebaiknya kita tidak usah mendekat ke sana. Jika beliau memanggil kita, baru kita mendekat," ujar pelayan yang lain.


Ketiganya pun membubarkan diri. Mereka memilih mencari aman untuk saat ini.


***


Satu minggu berlalu, Kris merasa Kania jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Raut wajah Kania terlihat lebih cerah. Terlebih, kini sang istri sudah memiliki pekerjaan yang begitu ia cintai.


Selama beberapa bulan mereka tinggal dengan ibunya, Kris tahu ia mengurangi jadwal syuting. Bahkan, ada beberapa job yang dibatalkan.


"Aku senang melihatmu lebih ceria sekarang," ujar Kris.


Tangannya terulur merapikan anak rambut sang istri. Kania tersenyum menanggapi ucapan sang suami. Saat ini, mereka sedang sarapan bersama.


Kris terlihat berpikir sebelum menjawab. "Ada. Tapi, gak lama kok. Ini, bagian akhir aja," jawabnya kemudian.


"Nanti aku mampir boleh, 'kan?" tanya Kania lagi.


"Boleh dong, Sayang." Kris mengacak rambut Kania.


Usai sarapan, Kania dan Kris pun bersiap melakukan kegiatan mereka. Di luar, Dirga maupun Wahyu, manager Kris, sudah menunggu.


"Mas Dirga, hati-hati di jalan, ya. Kalau ada apa-apa, segera hubungi saya," pinta Kris pada Dirga, manager sang istri.


"Siap, Bos," jawab Dirga.


"Yang, aku jalan dulu, ya," pamit Kania. Ia mencium punggung tangan Kris.


Tak lupa, Kris mengecup kening sang istri lembut. "Hati-hati. Aku juga berangkat, ya," pamit Kris pada sang istri.


Kania menganggukkan kepala dan tersenyum. Keduanya pun berpisah di halaman.


***

__ADS_1


Siang hari, kegiatan Kania selesai lebih dulu. Wanita cantik itu tengah merasa kurang sehat. Sejak pagi, ia merasa perutnya tidak enak.


"Lo yakin, gak mau periksa ke dokter aja?" tawar Dirga.


"Gak usah, Mas. Kayaknya maag aku kambuh, deh." Kania meremas perutnya yang terasa melilit.


"Kali aja Lo hamil," ujar Dirga kemudian.


Kania terkekeh. "Mana mungkin, Mas. Orang aku aja lagi menstruasi, kok," sanggah Kania.


Dirga pun membulatkan bibirnya sebagai jawaban. "Jadi, Lo mau langsung pulang aja, nih?" tanya Dirga memastikan.


Kania pun menganggukkan kepala. Dirga segera melajukan mobil menuju kediaman Kania dan Kris. Tiga puluh menit perjalanan, Kania gunakan untuk memejamkan mata.


Saat mobil tiba di pekarangan, Dirga membangunkan Kania. Perlahan, wanita itu membuka matanya.


"Udah sampe, ya," ucap Kania.


Dahi Kania berkerut dalam melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Ia sangat tahu siapa pemilik mobil tersebut.


"Mama," gumam Kania.


"Udah jauh aja, masih disamperin. Heran gue."Dirga menatap kesal pada mobil tersebut.


"Ya udah, aku masuk dulu, ya, Mas." Kania segera membuka pintu dan masuk ke rumah.


Begitu membuka pintu, terlihat jelas senyum Nyonya Tama. Tanpa sadar, Kania meneguk salivanya kasar.


"Ma," sapa Kania.


"Saya bukan ibumu!" bentak Nyonya Tama dengan nada rendah.


"Maaf, Nyonya," ulang Kania.


"Kapan, Nyonya, sampai? Kenapa tidak mengabari dulu?" cecar Kania.


"Apa saya tidak boleh menemui anak saya? Bagaimana pun, Kris masih anak saya!"


Kania hanya tersenyum kecut, menanggapi ucapan Nyonya Tama. Tak lama, terdengar mobil lain memasuki halaman. Kania tahu, itu adalah mobil milik suaminya.


"Mama minta maaf. Mama tahu sudah berbuat salah padamu. Apa mama tidak boleh menjenguk kamu dan Kris? Mama merasa kesepian tanpa kalian," ucap Nyonya Kris tiba-tiba.


Seketika, Kania tidak mengerti apa yang terjadi. Bahkan, ibu mertuanya itu sudah menangis tersedu-sedu.


"Ma," panggil Kris.

__ADS_1


Pria itu menghampiri ibunya yang tengah berlutut di kaki Kania. Drama apa lagi ini? batin Kania.


__ADS_2