Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
bab 10 Saran Dirga


__ADS_3

Kania menatap kosong langit malam yang tak berbintang. Ia berdiri di balkon kamarnya. Ingatannya kembali pada kisah Nyonya Louis dan putranya Jasson.


Mereka memberitahu Kania, tentang tragedi yang menimpa keluarga Louis. Mereka bilang, Karen diculik oleh pengasuhnya sendiri. Lima tahun lalu, mereka berhasil menemukan pengasuh tersebut.


Sayangnya, pengasuh itu mengatakan bila Karen sudah mati sejak memasuki usia tujuh tahun. Namun, mereka tak percaya. Karena itu, keluarga Louis melakukan tes DNA pada kerangka tubuh Karen.


"*Benarkah kerangka itu milik Karen?" tanya Kania.


"Bukan. Karena itu, kami menuntut kebenaran dari pengasuh itu. Akhirnya, dia mengatakan yang sebenarnya. Karen hilang setelah mereka pergi selama satu minggu dari rumah." Nyonya Louis menceritakan semuanya.


"Saat itu, kami mulai menawarkan hadiah, bagi mereka yang menemukan Karen. Sayangnya, banyak di antara masyarakat yang hanya mengaku-ngaku. Pada akhirnya, kami putuskan untuk mengumumkan kematian karen.


"Meski sebenarnya, kami masih mencari keberadaannya sampai saat ini." Tatapan Nyonya Louis terlihat sedih.


"Saya mengerti bagaimana perasaan, Nyonya. Karena saya juga sedang mencari orang tua kandung saya," kisah Kania*.


Tidak hanya Nyonya Louis, Kania pun menceritakan perjalanannya dalam mencari keberadaan orang tuanya. Namun, hingga kini tak jua membuahkan hasil.


Tak sampai di situ, Kania juga menceritakan bila dirinya berada di panti asuhan sejak usia kecil. Bahkan, pengurus panti tak ingat dengan pasti kapan Kania datang.


"Hah, aku kira hanya aku yang kehilangan. Ternyata, mereka juga. Bahkan, mereka harus merasakan dibohongi orang. Kasihan," gumam Kania.


Sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Memeluk dia dari belakang. Membuat Kania menoleh dan tersenyum. Ia pun menyandarkan dirinya pada dada bidang sang suami.


Ya, orang yang memeluk Kania adalah suaminya, Kris. Pria itu mengecup puncak kepala Kania berkali-kali.


"Mama bilang, kamu sempat menghilang saat di mall. Benar?" tanya Kris.


"Iya. Kami terpisah. Saat aku menyusul, mobil mama sudah tidak ada. Mungkin, mama pikir aku sudah pulang lebih dulu. Jadi, beliau segera kembali memastikan." Kania tak menceritakan pada Kris, bila ia tertarik mendengar cerita Nyonya Louis.


"Tidak mau cerita padaku kamu ke mana?" Kris membalik tubuh sang istri menghadapnya.


"Mendengarkan sebuah cerita," jawab Kania.


"Cerita apa?"


"Kamu tahu tragedi keluarga Louis?" Kania balik bertanya.


Kris pun menganggukkan kepalanya. Kania mulai bertanya, tentang apa yang Kris ketahui tentang Karen. Apakah mereka saling mengenal satu sama lain, atau hanya sekedar hubungan bisnis.

__ADS_1


"Sejujurnya, aku tidak mengenal Karen secara pribadi. Apalagi, dia sudah hilang sejak usia kecil. Kemudian, ditemukan tewas lima tahun lalu. Kebetulan, perusahaan mereka sering menggunakan artis dari perusahaan mama untuk menjadi brand ambasador, atau sekedar menjadi model iklan."


"Kenapa kau tertarik dengan kisah Karen?" tanya Kris.


"Aku merasa kasihan pada ibunya. Dia terlihat sangat sedih kehilangan putri tercinta. Apa menurutmu ibuku akan seperti itu?" Raut wajah Kania terlihat sendu.


Kris memeluk sang istri erat. Menenggelamkan kepala Kania di dadanya. "Tentu saja, Sayang. Tidak ada orang tua yang bisa hidup tenang setelah kehilangan anak mereka."


Kania mengeratkan pelukannya. "Semoga saja," harap Kania.


***


Seperti sebuah takdir. Dirga menghubungi Kania. Ia mengatakan, bahwa sebuah brand ingin menjadikan dirinya ambasador dari merek dagang mereka.


"Brand apa, Mas?" tanya Kania.


"Brand XX. Lo tahu, 'kan gimana mahalnya brand itu?"


"Serius?" Kania tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Serius. Kita diminta datang untuk meeting besok di kantornya. Sekalian tanda tangan kontrak. Gue harap, ini akan menjadi awal kesuksesan lo."


Nyonya Tama mendekati Kania dan menyerahkan sebuah paper bag. Kania menatap paper bag itu lama. Kemudian, menatap ibu mertuanya.


"Lain kali, jangan pergi tanpa memberitahuku!" ucap Nyonya Tama ketus. "Ambil ini! Ini titipan dari keluarga Louis."


Mendengar nama keluarga itu, Kania mengambilnya dengan sebuah senyum. "Terima kasih, Nyonya," ucap Kania.


"Cih! Entah apa istimewanya dirimu. Sampai-sampai mereka menitipkan hadiah itu! Bahkan sampai mengatakan, kalau itu khusus untukmu!"


Nyonya Tama terlihat tidak suka, bila ada orang lain yang memperhatikan Kania. Entah kenapa, ia terlihat sangat membenci hal itu.


Kania pun membuka paper bag tersebut. Di dalamnya, ada sebuah kotak perhiasan kecil. Kania mengeluarkannya dan melihat isi kotak itu.


"Cantik sekali," gumam Kania. Ia menyukai gelang tersebut. "Mirip dengan yang kemarin."


Kedua mata Nyonya Tama membelalak lebar."Astaga, Kania! Jangan bilang kamu minta gelang itu kemarin, makanya menghilang tiba-tiba!" tuduh Nyonya Tama.


"Saya gak minta, Nyonya. Sungguh." Kania mengatakan kebenarannya. Ia memang tak pernah meminta barang apa pun dari mereka.

__ADS_1


"Jangan bohong kamu! Gak ada alasan buat mereka kasih kamu barang mahal kaya gini!" Nyonya Tama mengambil gelang yang Kania pegang.


"Dasar manusia rendahan! Bisa-bisanya dia mempermalukan aku di hadapan Nyonya Louis dengan cara meminta seperti ini. Dia pikir aku percaya dengan yang dia katakan? Bodoh!" maki Nyonya Tama seraya berjalan menjauh dari Kania.


Hati Kania terasa sakit mendengar makian ibu mertuanya. Air mata Kania pun jatuh menetes. Cepat-cepat ia menghapus air mata itu.


***


Keesokkan harinya, Dirga menjemput Kania. Karena lokasi kantor XX, lebih dekat dari sana. Nyonya Tama yang melihat keberadaan Dirga, memandangnya sinis. Melihat itu, manager Kania hanya bisa mengelus dada.


"Yuk, Mas!" ajak Kania.


"Mau ke mana kamu?" tanya Nyonya Tama ketus.


"Aku ada meeting untuk iklan, Ma," jawab Kania.


"Oh," sahut Nyonya Tama.


Setelah mencium punggung tangan ibu mertuanya, Kania dan Dirga segera meluncur meninggalkan rumah besar itu.


"Mertua Lo kaya nenek sihir," ucap Dirga.


Kania hanya menanggapi dengan senyuman. Ia tak ingin orang lain mengetahui sifat asli Nyonya Tama. Bagaimana pun, Kania sudah menjadi bagian dari keluarga Tama. Ia wajib menjaga nama baik suami serta mertuanya.


"Lo betah tinggal di sana?" tanya Dirga tiba-tiba.


"Betah," bohong Kania.


"Lo pikir, bisa bohong dari gue? Gue bisa liat, ya, kalau dia itu gak suka sama Lo."


Kania tetap bungkam. Membiarkan Dirga menyimpulkan sendiri. Meskipun, ia tahu semua yang Dirga katakan memang benar. Pria itu, terlalu pintar membaca keadaan.


"Lagian, kenapa dulu Lo mau aja, sih, nikah sama si Kris? Gue yakin, nyokapnya pasti ngomong setuju di depan dia. Tapi di belakang ... gak akan pernah. Berhubung sudah terlanjur, ya, mau gimana.


"Dengar, ya, Kan. Saran gue sebaiknya Lo pindah dari rumah itu. Bagaimana pun, tinggal satu atap dengan orang yang tidak menyukai kita, hanya akan membuat pikiran stres. Apalagi, kalau lo lagi program hamil."


"Bukannya gue ngajarin Lo jadi durhaka. Tapi, model mertua Lo itu, keliatan muka dua. Di depan laki Lo lain, di belakang lain."


Melihat Kania diam, Dirga melanjutkan ucapannya. "Kalau lo belum siap cerita, jangan cerita!"

__ADS_1


__ADS_2