Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
Bab 21


__ADS_3

"Sedang apa Dora Emon di rumahku?" tanya Bagas, merasa heran ada tamu tak diundang di rumahnya.


Melihat Bagas, Doraemon ini ingin sekali cari muka. Namun, belum juga ia membuka mulutnya. Bibir Rasya yang mempunyai kecepatan seperti kekuatan Avatar Aang, langsung memotong ucapannya duluan.


"Dora Emon datang kemari ingin minta makan Dorayaki, tapi sayangnya Mamah mertua tidak membuatnya," ejek Rasya.


Deo benar - benar kalah cepat dengan ucapan Rasya. Titisan dari Sasako ini memang memiliki kecepatan bicara dan juga berpikir yang cepat. Dibandingkan keturunan dari Nobita, yang agak lambat dalam berpikir dan juga bicara.


"Jangan sembarangan! Aku kesini bukan untuk meminta makanan!" Enak saja!" bantah Deo, mendadak kram otak gara-gara Abon mini ini. Entah kenapa ucapannya selalu membuat Deo sakit kepala saat mendengarnya.


"Lalu?" tanya Bagas yang kemudian ikut duduk bersama dengan mereka. Ia pun memandang dengan tatapan menyelidik ke arah putra dari David si Suneo.


'Dia ingin merebut istriku Papa mertua,' batin Rasya. Ingin sekali ia berteriak dan mengatakan hal itu pada Bagas. Akan tetapi, Rasya sangat tahu bagaimana sifat dari Deo. Karena jika ia merasa tertantang, maka ia akan dengan sengaja terus menyerang.


Bukannya Rasya takut, akan tetapi ia hanya ingin menjaga Sabrina. Karena dalam hal ini, Sabrina yang menjadi taruhannya. Dan Rasya, tak akan pernah mempertaruhkan cintanya. Tidak akan pernah...


"Aku hanya ingin memberikan bingkisan yang dibuat oleh Mami, untuk Aunty Siena." jawab Deo, akan tetapi pandangannya mengarah pada Sabrina sambil tersenyum sangat manis sekali.


Rasya yang tidak terima, Istrinya dipandang Doraemon jahat. Langsung saja mencium kembali pipi mulus Sabrina. Membuat jantung Deo kini hampir matang dibuatnya. Astaga, kesabaran Deo memang sedang diuji saat ini.


"Jaga sikapmu Abon, di sini banyak orang! Hargailah jomblowan di sini. Kau tak pernah tahu rasanya menjadi jomblo! Menjadi jomblowan itu sangat menyakitkan!" ujar Bagas, yang amat sangat mengerti bagaimana rasanya menjadi jomblo abadi. Itu adalah definisi sakit tak berdarah yang selalu ia rasakan pada masanya.


Bukannya merasa terharu dengan pembelaan Bagas, tapi Deo malah merasa jika kini harga jantungnya telah jatuh. Bagaimana tidak, ia adalah pria yang sangat tampan, mapan, keren dan juga sangat hebat. Akan tetapi ia terlihat seperti pria yang tak laku, dihadapan asistent pelit ini. Sekali lagi mentalnya dihantam oleh pria yang sampai sekarang masih ia nobatkan sebagai papa mertua.

__ADS_1


'Benar apa yang dikatakan oleh Papi, jika berhadapan dengan manusia pelit ini. Maka mentalku haruslah sekuat tembok China' Deo membatin, Doraemon jahat kini berubah menjadi Doraemon turun derajat.


Melihat kemesraan yang dilakukan oleh Rasya, membuat Deo menjadi tidak betah. Dan jika terus dilanjutkan, maka tidak baik untuk kesehatan lambungnya. Karena ia merasa mual dan sebal melihatnya. Jadi, ia memutuskan untuk pulang saja. Dan mengatur strategi untuk merebut cinta Sabrina.


"Baiklah, karena ini sudah mau malam. Aku permisi untuk pamit pulang dulu," pamit Deo.


"Oh baiklah, hati-hati," ucap Bagas. Padahal dalam hatinya Deo ingin sekali dilarang untuk pulang dan ikut makan malam. Meskipun ia akan menolaknya, akan tetapi ia akan merasa lebih berharga jika di tahan untuk tidak pulang. Tapi sudahlah, nasib baik memang belum menghampirinya saat ini.


*


*


*


Udara dingin mulai menembus kulit, sang pengusaha malam kini mulai menampakkan dirinya. Diikuti dengan cahaya dari bintang-bintang yang bertebaran di atas sana.


Rasya merasakan jika tubuhnya saat ini sangatlah lelah, i tadi sore ia bahkan sampai ketiduran di rumahnya. Dan setelah makan malam, putra kesayangannya Sasako ini langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk milik Sabrina.


Suara dengkuran halus sudah terdengar dari bibirnya, itu berarti ia sudah berkelana ke alam mimpinya. Tumben sekali, pikir Sabrina. Biasanya, suaminya ini selalu saja banyak bicara. Akan tetapi hari ini, ia malah langsung tertidur begitu saja. Membuat kamar ini terasa sepi.


Ia pun menghabiskan waktunya untuk bermain ponsel saja, karena kebetulan ia juga belum merasa ngantuk.


Sesaat Sabrina, terdiam saat mengingat bagaimana saat itu ia dalam pengaruh obat perangsang. Jujur saja, sampai saat ini ia sangat penasaran siapa yang telah membuatnya mengkonsumsi obat itu. Sampai ia menikah dengan Rasya. Bukan masalah menikah dengan Rasya, akan tetapi ia merasa malu saat mengingat bagaimana ia menyerahkan dirinya pada Rasya. Sabrina merasa sangat malu sekali, karena itulah ia masih belum sanggup untuk melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan sepenuhnya. Karena sejujurnya ia masih sangat malu pada Rasya.

__ADS_1


Ia jadi ingat saat ia menaiki tubuh Rasya dan buah mangganya menjadi santapan Rasya. Ia sangat malu sekali, ya ampun bayangan itu terus saja menari - nari di pikiran Sabrina.


"Ahh ya ampun aku malu ... aku malu ..." ucap Sabrina sambil menutup matanya. Tanpa ia sadari, jika Rasya sedang melihat kearahnya. Karena kegelisahan Sabrina rupanya telah mengusik tidur Rasya.


"Hei kau malu kenapa?" tanya Rasya. Sabrina langsung terlonjak kaget saat mendengar suara suaminya, yang ternyata tidak tidur dan malah melihat kekonyolannya.


"Ishh kau ini membuatku terkejut saja," ucap Sabrina sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Membuat Rasya menjadi gemas saja. Hingga akhirnya, ia menarik Sabrina dan membawanya kedalam pelukannya yang hangat.


"Hei kau mau apa?" Sabrina mencoba melepaskan pelukan Rasya yang terasa erat di tubuhnya.


"Diam dan jangan bergerak, kalau kau tidak ingin membangunkan sesuatu yang sedang tidur tampan, di dalam sana," bisik Rasya membuat tengkuk Sabrina dibuat merinding olehnya.


Melihat leher jenjang yang sangat menggoda di depannya, Rasya pun akhirnya memberikan gigitan di sana. Sabrina terkejut, akan tetapi untungnya ia mampu mengontrol suaranya, agar tidak terdengar keluar kamar.


"Kenapa mengagetkanku," Sabrina menepuk pundak Rasya dengan keras tapi Rasya malah tertawa saja. Gadis cantik ini benar-benar menggemaskan di matanya. Ingin sekali Rasya mengeksekusinya saat ini juga. Tapi ia pun harus bisa menghargai Sabrina yang mungkin saja belum siap. Untuk itu ia harus bersabar dalam mendapatkan cinta Sabrina.


"Aku bilang diamlah sayang, aku sedang menahan sesuatu," ucap Rasya lagi. Namun, Sabrina malah kembali bergerak membuat gagang sapu Rasya semakin tidak sopan dan terus menunjuk-nunjuk ke arah Sabrina.


"Aku merasa tidak nyaman,"


"Kenapa?"


"Karena sedari tadi ada benda keras menusuk pahaku, dan itu membuatku tidak nyaman," jawab Sabrina.

__ADS_1


"Benda keras itu tongkat sakti milikku sayang, ia sedang meronta-ronta makannya tidak mau diam,"


"Apa kau bilang? Tongkat sakti?"


__ADS_2