Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
bab 17


__ADS_3

Suara petir terdengar menggelegar di luar. Cahaya kilat sabung menyabung di langit. Membuat suasana sepi yang tercipta di antara Kris dan Kania. Keduanya saling menatap mata lawan bicaranya.


Melihat kediaman sang suami, Kania pun menghela napas dalam. "Sepertinya kamu tidak akan bisa memenuhi permintaanku. Kalau begitu, aku yang memilih mundur."


Kania pun bangkit berdiri meninggalkan ruang tamu. Tepat saat ia melewati Kris, pria itu menggenggam pergelangan tangan sang istri. Membuat Kania menghentikan langkahnya.


"Akan kulakukan," ucap Kris sungguh-sungguh. Kris juga menatap dalam mata Kania.


Terlihat jelas kesungguhan di mata pria itu. Kania menarik pergelangan tangannya yang di genggam Kris.


"Aku butuh bukti. Bukan sekedar ucapan." Ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar tamu.


"Akan aku buktikan!" teriak Kris.


***


Beberapa hari berlalu. Kris benar-benar tidak lagi menemui Crystal. Kania bahkan harus menebalkan telinganya, saat sang mertua memarahi dia karena Kris tak pernah datang ke rumah sakit lagi.


Mengetahui kenyataan itu, tak lantas membuat Kania tenang. Bisa saja dia menemui Crystal suatu hari nanti.


"Sayang," panggil Kris yang melihat Kania keluar dari kamar.


Pria itu pun menghampiri sang istri dan menuntunnya untuk duduk di ruang makan. Terlihat, berbagai macam hidangan tersaji di sana. Bahkan, ada menu yang sangat Kania sukai.


"Ayo, kita sarapan bareng!" ajak Kris.


Kania menatap Kris sejenak. Wajah pria di depannya ini, terlihat lebih tirus. Sejak pertengkaran mereka beberapa hari lalu, Kania memang tidak lagi mengurus keperluan sang suami. Bahkan, mereka tidak tidur di kamar yang sama. Kris pun mencoba untuk mengerti. Ia tahu, Kania butuh waktu untuk menenangkan diri.


Refleks, tangan Kania terulur mengambilkan lauk untuk Kris. Melihat perhatian yang ditunjukkan sang istri, Kris tersenyum kecil. Perhatian seperti ini, sudah cukup membuatnya tersenyum senang.


Sementara Kania melakukannya karena merasa bersalah. Setelah menyantap sarapan, Kris segera membereskan piring kotor. Kania segera merebut piring itu dari tangan Kris.


"Biar aku saja," ucap Kania datar. Tidak ada ekspresi apa pun di wajah wanita itu.


"Baiklah. Terima kasih, Sayang," ucap Kris selembut mungkin.

__ADS_1


Kania tak membalas ucapan itu. Ia hanya terus melangkah menuju wastafel. Beberapa menit kemudian, Kania sudah menyelesaikan tugasnya. Ia berniat untuk mencari udara segar dengan mengelilingi komplek.


"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Kris yang melihat Kania ke luar. Pria itu bahkan mengejar sang istri hingga pintu depan.


"Pengin jalan-jalan sebentar. Sumpek di rumah," jawab Kania.


"Aku ikut!" seru Kris. Keduanya pun berjalan beriringan.


***


Matahari mulai meninggi, saat Kania dan Kris kembali ke rumah. Selama mereka berkeliling, Kania hanya menatap sekelilingnya, tanpa mengajak Kris berbicara. Sementara itu, Kris selalu mengajaknya berbincang.


Ia menceritakan pengalaman pertamanya berakting. Bagaimana ia mengalami jatuh bangun, hingga akhirnya mendapatkan kesuksesan. Sayangnya, Kania tak pernah menanggapi.


Hanya sekedar ekspresi wajah yang ia tunjukkan. Terkadang ia menaikkan alisnya, membulatkan bibir, atau hanya menganggukkan kepala. Namun, Kris tak mempermasalahkannya.


"Sayang," panggil Kris.


Kania menghentikan langkah dan menoleh. Kris tersenyum manis padanya. Melihat senyum sang suami, Kania merasa bila Kris tengah merencanakan sesuatu.


Jantung Kania berdegup cepat mendengar permintaan sang suami. Sejujurnya, ia juga menginginkan hadirnya buah hati di tengah-tengah mereka. Namun, mengingat bagaimana sang ibu mertua yang tidak menyukainya, membuat Kania berpikir ulang untuk masalah itu.


Melihat kediaman sang istri, Kris mendekatinya dan menggenggam tangan Kania. "Aku tahu, mama belum sepenuhnya menerima kamu sebagai istriku. Karena itu, aku berharap dengan hadirnya anak kita nanti, mama bisa menerim kamu seutuhnya."


Apa yang Kris harapkan tidak salah. Banyak kasus dalam sebuah pernikahan, di mana menantu dan mertua tidak saling akur satu sama lain. Namun, ketika sang menantu melahirkan cucunya, hubungan mereka menjadi lebih baik.


Kania pun memikirkan hal yang sama. Mungkinkah hal itu benar? Bisakah kehadiran anak mereka nanti memperbaiki hubungannya dengan Nyonya Tama? Sejujurnya, Kania pun mengharapkan hal yang sama.


"Memiliki seorang anak bukanlah hal mudah, Kris. Kau tahu, jika aku hamil, maka secara otomatis semua pekerjaanku harus berhenti. Apa mama akan tetap bisa menerimaku?" tanya Kania. "Ah, salah! Seharusnya, aku bertanya, apa kamu tahu alasan mamamu tidak menerimaku, yang lebih dulu."


Kris mengerutkan dahinya mendengar semua ucapan Kania. Seakan tengah berpikir keras alasan sang mama menolak istrinya ini. Secara sikap, Kania sopan, baik hati, dan penyayang


"Tidak mungkin mama memandang latar belakangmu," ucap Kris.


Senyum sinis Kania tunjukkan. "Sayangnya, itu yang mamamu pikirkan. Terlebih, aku hanya artis dari kalangan biasa dan tidak terkenal. Sepertinya, beliau takut aku hanya melakukan pansos."

__ADS_1


"Lain cerita, jika kau bersama dengan Crystal," lanjut Kania.


"Apa hubungannya semua ini dengan dia?" tanya Kris dengan mengerutkan dahinya.


"Kau pasti tidak tahu, kalau mama sudah berencana menjodohkan kalian."


Raut wajah Kris berubah shock. Kania merasa, bila Kris benar-benar tidak mengenal watak asli ibu kandungnya, termasuk rencana perjodohan itu. Wanita itu pun melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Sekalipun ucapanmu benar, bukankah tidak ada salahnya kita mencoba cara ini? Mungkin saja mama akan merubah pikirannya dan menerimamu, 'kan?" Kris sedikit berteriak. Pasalnya, Kania sudah mencapai pintu kamar tamu.


Gerakan Kania pun terhenti. Tangannya yang akan menarik gagang pintu pun tak ia lanjutkaaaaaaaaaaaaaa Ia menarik napas dalam, lalu menghelanya perlahan.


"Bagaimana jika kehadiran anak juga tidak meluluhkan hati mama?" tanya Kania.


"Kita belum mencobanya, Sayang. Tidak bisakah kita berpikir positif?" Kris terlihat memohon.


"Akan kupikirkan," jawab Kania.


Ia pun masuk ke dalam kamar. Kris hanya bisa menatap punggung Kania, yang perlahan menghilang di balik pintu.


"Semoga saja, kau akan menyetujui ideku ini," gumam Kris.


***


Setelah memikirkan ucapan sang suami sepanjang hari, Kania pun memutuskan untuk mencobanya. Sejujurnya, aku mengharapkan hal yang sama dengan Kris. Tapi, kenapa aku belum juga hamil, ya? tanya Kania dalam hati.


Kania pun memutuskan untuk menemui dokter lebih dulu. Entah mengapa, pikiran buruk melintas dalam benaknya. Ia takut, seandainya tidak bisa punya anak. Kemudian, hal itu akan dijadikan alasan oleh ibu mertuanya untuk mereka bercerai.


"Tidak, tidak! Aku tidak boleh berpikir seperti itu," ucapnya pada diri sendiri.


Berkali-kali ia menarik napas dalam dan menghelanya perlahan. Berharap, semua itu bisa mengurangi rasa takut dalam hatinya.


Keesokkan harinya, Kania datang ke rumah sakit. Ia menuju poli obgyn, untuk memastikan kesuburannya. Tanpa ia sadari, seseorang melihat keberadaannya di sana.


"Kania! Untuk apa dia ke dokter kandungan? Apa dia ... hamil?"

__ADS_1


__ADS_2