
Pagi ini berjalan seperti biasanya, Sabrina dan Siena sibuk menyiapkan sarapan untuk suami - suami mereka. Meskipun di rumah itu ada pelayan, akan tetapi untuk melayani suaminya mereka menyiapkan sendiri makanan mereka.
Rasya merasa bahagia dengan kehidupan rumah tangganya, karena meskipun Sabrina belum bisa menjadi miliknya seutuhnya. Akan tetapi, Sabrina selalu melayaninya dengan sangat baik. Begitu pun dengan Siena, bertahun-tahun menjadi istri Bagas kemampuan memasaknya mengalami kemajuan. Dan sangat layak untuk dimakan, Bagas sangat bersyukur karena tidak ada lagi makanan kombinasi yang akan ia makan dan ia cerna.
Kasihan sekali alat-alat pencernaan tubuhnya, jika Bagas harus memakan masakan Siena. Karena sistem pencernaannya harus mengalami kesulitan untuk mencerna makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Belum lagi lidahnya yang harus memiliki kesabaran yang seluas samudera, karena setiap kali ia mengecap rasa makanan yang ia makan. Ingin sekali Bagas memuntahkannya. Namun, karena rasa cintanya pada Siena akhirnya Bagas menelan makanan itu walaupun harus mengorbankan lidah dan ususnya.
"Rasya, aku berangkat dari sini saja ya. Jadi, nanti kau dari kantor langsung pulang ke rumahmu," ucap Sabrina.
"Tidak masalah, tak usah membawa pakaianku. Karena di rumahku sudah banyak. Jadi kau tidak perlu repot-repot membereskannya," ucap Rasya.
"Hei tunggu dulu, Abon kau akan mengajak putriku kemana?" tanya Bagas
"Ke rumahku," jawab Rasya dengan mata polosnya ia menatap wajah mertua pelitnya itu. Takut jika nanti mertuanya yang tak baik hati itu akan berubah pikiran, dan tidak mengijinkan Sabrina tinggal di rumahnya.
"Memangnya kau mau apa kesana?" tanya Bagas.
"Bagas, ini minggu kedua apa kau lupa? Jika setiap minggu kedua mereka akan menginap di sana," Siena mencoba mengingatkan suaminya tentang perjanjian setelah menikah. Bagas terlihat berdecak sebal mendengarnya. Ditambah melihat wajah Rasya yang sok polos itu, membuat Bagas mual saja.
"Aku tidak lupa," jawab Bagas, meskipun sebenarnya ia tak menyukai perjanjian ini, akan tetapi bagaimana pun juga, kini putrinya sudah menjadi istri seseorang. Dan ia tak berhak melarangnya.
Melihat Bagas yang tak mengeluarkan suaranya lagi, membuat Rasya bahagia. Karena artinya itu tidak akan drama antara mertua dan juga menantu.
"Kau harus menjaga baik-baik putri kesayanganku! Awas nanti kalau dia sampai lecet!"
"Memangnya mau aku apakan, sampai Sabrina lecet," jawab Rasya.
"Bisa saja kau menggigitnya kan?" cibir Bagas.
Mendengar kata gigit pikiran Abon mini ini jadi berkelana kemana-mana. Ia jadi membayangkan menggigit Sabrina yang menggemaskan. Apalagi sampai menggigit pabrik susunya, jiaaahhhhh ... pikiran Abon mini kini sudah meluber sampai kesana.
Akan tetapi, ia harus bersabar untuk bisa minum susu lagi sampai pabriknya akan dibuka kembali nanti.
*
__ADS_1
*
*
Inaya sudah berada di kantor sejak pagi, Ivan memang mengajarkannya untuk menjadi seorang asistent yang handal dan bertanggung jawab. Meskipun Inaya seorang perempuan, itu tidak akan ia jadikan penghalang untuk menjadi seorang asisten yang hebat seperti papanya.
Sebelum Rasya datang, Inaya akan mengatur semua pertemuan dan pekerjaan yang akan dilakukan oleh Rasya. Hingga saat Rasya tiba, ia tinggal melakukan semua pekerjaan yang sudah Inaya siapkan.
"Dimana Bosmu yang cerewet itu?" tiba-tiba suara seseorang yang memberikan kesan buruk pada Inaya, kini muncul di hadapan gadis cantik itu.
"Dia belum datang, mau apa kau?" tanya Inaya malas.
"Ada pekerjaan, memangnya mau apalagi," jawab Deo sambil duduk di meja kerja Rasya. Membuat Inaya mendelik sebal. Karena melihat tingkah Deo yang terlihat seenaknya.
"Apa kau sudah membuat janji? Karena di jadwalku tidak ada janji temu denganmu," tanya Inaya tanpa melihat kearah Deo, dan fokus pada pekerjaannya.
"Ckk, menyebalkan,"
"Aku mendengarmu, Doraemon," ucap Inaya, tapi kali ini ucapan Inaya cukup memancingnya, Deo tak terima dipanggil Doraemon oleh gadis dihadapannya ini.
"Doraemon, apa kau tuli Tuan tampan," ejek Inaya.
Tadinya Deo akan marah pada Inaya, akan tetapi karena di ujung kalimat Inaya mengatakan jika Deo ini tampan, maka Deo memutuskan untuk memaafkannya.
"Untung saja kau memanggilku tampan, jadi aku memaafkanmu,"
"Memangnya kau tidak marah aku memfitnahmu?" tanya Inaya.
"Memfitnah? Memangnya kau menyebar gosip apa tentangku?"
"Aihhhh, Doraemon ini memang bodoh," gumam Inaya.
"Hei cepat katakan! Kau memfitnahku apa? Jangan menambah dosa dengan mengatakan jika aku ini tidak tampan ya! Aku tidak terima!" ucapnya semakin kesal. Namun, Inaya sama sekali tidak mempedulikannya.
__ADS_1
"Terserah kau saja, dasar Doraemon cerewet! Lebih baik kau tutup mulutmu yang lebar itu!"
"Apa! Oooohhh ya ampun, kau menghinaku sampai begitu! Ternyata aku memang tidak salah menilaimu. Kau ... kau memang sangat menyebalkan!"
"Kau pikir kau mempesona? Kau juga sangat menyebalkan, pergi sana!"
"Tidak mau!"
"Kalau kau tidak mau pergi, sebaiknya tutup mulutmu atau akan aku ..."
"Kau mau menciumku? Oh ya ampun, ternyata asistent Abon mini ingin menciumku! Astaga aku takut dicium olehmu, bibirku yang seksi ini masih ori tahu!"
Woaaahh Doraemon ini rupanya senang membuat Inaya esmosi jiwa, sampai- sampai hidung Inaya kini terlihat sedang push up. Karena sedang menahan kesal padanya.
"Siapa yang mau menciummu, makhluk aneh!"
"Tentu kau, memangnya siapa lagi," jawab Deo sangat-sangat menyebalkan. Ia sengaja membalas ucapan Inaya yang mengatakan jika ia memfitnahnya sebagai seorang pria tampan. Padahal ketampanan seorang Deo bukanlah sebuah fitnah akan tetapi sebuah kenyataan, jika ia memang adalah seorang pria yang sangat tampan. Untuk itu ia sengaja menjawab ucapan Inaya dengan mengada-ada juga.
Mendengar ada keributan di ruangan Rasya Ivan pun kemudian masuk dan melihat apa yang terjadi di dalam sana. Ternyata ia melihat titisan Nobita sedang berhadapan dengan putrinya
"Ada apa ini?" tanya Ivan heran melihat ekspresi dua orang ini, jika Inaya terlihat sangat kesal. Lain halnya dengan Deo yang terlihat sangat senang. Ivan berpikir jika putra dari David ini tengah mengerjai putrinya. Jika itu benar, maka Ivan akan membuat Deo menjadi makanan lumba-lumba saat ini juga.
Baru saja Inaya akan menjawab ucapan Ivan, Deo langsung segera mendahului menjawab pertanyaan dari Ivan.
"Wahh kebetulan ada Om Ivan, apa Om tahu jika asistent makhluk Abon ini akan menciumku barusan!" bohong Deo pada Ivan, tanpa tahu hubungan antara Ivan dan juga Inaya sebenarnya, Doraemon ini menyebar fitnah kejam ada Putri kesayangan Ivan.
"Apa kau bilang!"
"Dia bohong Pah, mana mungkin aku mau mencium pria sepertinya. Seperti tidak ada pria lain saja,"
"Kau dengar itu putriku tidak mungkin melakukan hal itu kepadamu! Jangan suka mengarang cerita, atau aku makan kau!" sentak Ivan.
"A-apa p-putri, jadi duyung galak ini putrimu?" tanya Deo tanyanya dengan jantung berdenyut ngilu. Karena ia baru tahu jika, Inaya adalah putri dari Ivan.
__ADS_1
'Sial ...'