
Pagi - pagi Rasya sudah bersiap pergi ke kantor, karena hari ini ia ada meeting bersama dengan sepupunya Reby. Yang berarti di sana ia akan bertemu dengan mertua tersayangnya wkwkwkwk .
Seperti biasa Sabrina akan menyiapkan pakaian dan seluruh persiapan Rasya ke kantor. Istrinya yang cantik ini masih saja ori dan belum tersentuh olehnya. Padahal Sabrina tidak mempermasalahkannya, hanya saja sifatnya yang pendiam dan jarang bicara membuat ia malu pada Rasya. Mana mungkin ia akan meminta duluan pada Rasya, ia tidak mau melakukannya. Ia sangat malu sungguh, sepertinya hari ini ia membutuhkan tempat curhat. Dan siang nanti sepertinya ia akan datang mengunjungi Areta, untuk bercerita.
"Oh ya ampun!"
Sabrina yang sedang membereskan tempat tidurnya pun terkejut saat mendengar suara Rasya. Ia pun segera menghampiri suaminya yang sedang berdiri di depan cermin itu.
"Ada apa?" tanya Sabrina terkejut.
"Astaga Sabrina, aku terkejut melihat wajahku dan juga penampilanku," ucap Rasya sambil terus membolak-balikan tubuhnya dan sesekali memegang wajahnya.
"Memangnya kenapa dengan wajah dan juga penampilanmu?" tanya Sabrina penasaran.
"Aku hanya tidak menyangka saja, jika ternyata aku ini sangat tampan dan menawan!" jawabnya sambil berdecak kagum melihat cermin.
Gubrak
Mendengar jawaban Rasya, ingin sekali Sabrina menenggelamkan dirinya di kolam plastik milik si kembar. Kenapa suaminya ini mempunyai perangai yang sangat aneh dan langka. Tidak bisakah ia bersikap normal seperti manusia biasanya. Jangan selalu membuat Sabrina shock jantung, dengan kata -katanya.
Bukankah memang setiap hari ia terlihat tampan, sampai - sampai Inaya sangat menyukai suaminya ini. Tunggu dulu, Inaya?
Bukankah Inaya sudah beberapa hari ini tidak masuk, karena sedang sakit. Itu yang ia dengar dari Rasya. Untuk itu ia selalu bilang jika kini pekerjaannya bertambah banyak, karena Inaya tidak bisa membantunya. Sabrina jadi punya ide.
__ADS_1
"Rasya ..."
"Iya sayang ada apa? Apa ada kekurangan dalam wajahku? Jika ada minus tolong katakan, jadi aku bisa memolesnya agar menjadi plus," jawabnya menyebalkan.
"Apa Inaya masih sakit?" tanya Sabrina.
"Iya, menurut Om Ivan ia masih sakit. Badannya demam dan ia belum bisa bekerja untuk satu minggu ke depan. Memangnya kenapa?"
"Apa aku boleh bekerja sebagai asistenmu, hanya selama Inaya sakit saja. Jika Inaya sudah sembuh aku akan berhenti,"
"Apa! Oh tidak -tidak, kau tidak boleh bekerja sayang. Kau hanya cukup diam, duduk manis dan tidur cantik dan aku akan memberikan uang yang banyak untukmu,"
Terdengar helaan napas dari Sabrina, sepertinya ia kecewa dengan jawaban suaminya. Ia hanya bosan dan ia juga ingin ada kegiatan dan melakukan pekerjaan, tapi ia tidak pernah mendapatkan ijin dari Papahya maupun dari suaminya. Sabrina pun kemudian duduk di pinggir ranjang, tak bisa dipungkiri hatinya sangat sedih sekarang. Diantara yang lainnya, hanya ia yang tak memiliki pengalaman bekerja. Bahkan anak bis Tayo pun pernah menjadi asisten Reby dan asisten Arka suaminya. Dan Sabrina, pengalaman yang ia tahu hanyalah duduk di rumah saja.
Melihat istrinya bersedih, Rasya pun mera yang tidak tega. Ia pun kemudian menghampiri Sabrina dan kemudian duduk di sampingnya. Ia lihat wajah cantik itu sedang bersedih, Rasya membelai wajah cantik itu. Rambut Istrinya ini hanya di cepol asal tapi kenapa terlihat sangat cantik. Dan leher jenjangnya itu sungguh menggoda dan ingin rasanya anak Abon ini bermain-main di sana. Belum lagi pabrik susu yang terlihat sedikit mengintip, membuat Rasya semakin merasa haus saja.
Namun, Sabrina tidak mau menyahut Rasya dan malah memalingkan wajahnya. Abon ini tahu jika istri tercintanya sedang marah, dan ini tidak bisa dibiarkan. Makhluk Abon ini sangat mencintai Sabrina, ia tidak mau melihat istrinya ini bersedih.
"Baiklah, jika kau ingin bekerja aku ijinkan dan kau hanya boleh bekerja menjadi asisten pribadiku saja, apa kau mau?"
Ucapan Rasya sukses membuat Sabrina tersenyum seketika, dan langsung memeluk suaminya.
"Baiklah aku mau ... aku mau." saking bahagianya ia terus memeluk Rasya.
__ADS_1
Ternyata membuat Istrinya bahagia ini tidaklah sulit, yang sulit itu adalah membuat mertuanya tersenyum.
Rasya yang merasa bahagia pun kemudian melepaskan pelukan Sabrina, dan langsung mencium bibir ranum itu. Ia sudah tidak mau menahannya lagi, untuk menikmati bibir indah itu. Betapa bahagianya saat ciuman Rasya dibalas oleh Sabrina. Hingga tubuhnya mendadak panas dan ingin melakukan hal lebih, minum susu misalnya. Namun, baru saja tangannya akan menyentuh kembali benda kenyal itu tiba - tiba suara nyaring Sasa mengagetkan mereka berdua.
"Ya ampun, ditungguin sarapan teh malah lagi main patuk-patukan!"
Mereka yang terkejut pun langsung melepaskan ciuman mereka dan melihat Sasa menutup pintu kamar.
"Ada apa?" terdengar suara Ramon bertanya, karena pagi-pagi Istrinya itu sudah berbunyi sangat nyaring.
"Itu anak Abon mau minum susu kayanya,"
"Astaga ..."
*
*
*
Bonus visual Rasya
__ADS_1
Visual Sabrina