
Kedua mata Kania mulai terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah keberadaan Kris yang menatapnya penuh khawatir. Kania tidak tahu, harus merasa senang atau tidak. Ia pun membuang pandangan ke arah lain.
"Sayang, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Kris.
Kania menarik tangannya yang digenggam oleh Kris. Perlahan, ia mendudukkan diri di atas ranjang.
"Aku baik-baik saja," jawab Kania lirih.
Kris menaikkan pandangan Kania agar menatapnya. Namun, Kania kembali membuang pandangan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Kris.
"Tidak ada." Kania memainkan jemarinya. "Bukannya kamu lebih suka menjaga Crystal? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Kania.
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Kris. Kania melirik pada sang suami dengan ekor matanya. Namun, pria itu hanya diam menatap Kania.
"Aku baik-baik saja. Kalau kamu mau kembali ke sana, kembalilah," ujar Kania.
Wanita itu pun merebahkan tubuhnya membelakangi Kris. Kemudian, berusaha memejamkan matanya. Seakan, menghindari pembicaraan dengan Kris.
"Kamu cemburu?" tanya Kris kemudian.
Seketika, mata Kania terbuka. Posisinya, tetap membelakangi Kris.
"Aku sudah bilang, kalau aku menganggap Crystal sebagai adik. Apa kita harus meributkan hal ini lagi?"
Kania terduduk mendengar kata-kata itu. "Sebenarnya aku tidak ingin membahas hal ini sekarang. Tapi kamu mengungkitnya." Kania menarik napas dalam.
"Adik?" ulang Kania. "Itu bukan sikap yang ditunjukkan seorang kakak pada adiknya. Tapi, lebih kepada wanita yang kamu cintai!" Kania menatap tajam Kris.
"Tahu apa kamu tentang hubungan kakak adik? Bukankah kamu tidak punya keluarga?" Kris menghentikan ucapannya. Ia terlihat menghela napas dalam. Rasa bersalah terpancar di mata pria itu.
Hati Kania semakin hancur mendengar ucapan tajam Kris. Pria itu menyerangnya tepat pada kelemahannya. Air mata Kania jatuh tanpa bisa ia tahan.
"Pada akhirnya, kamu sama dengan yang lain. Kamu, tetap menghina aku yang hanya hidup sebatang kara. Ya, seharusnya aku sadar diri. Aku tidak ada apa-apanya dibanding Crystal. Dia jauh lebih sempurna." Kania menghapus air matanya yang terjatuh.
__ADS_1
"Pergilah! Temani Crystal, yang menurutmu kau anggap sebagai adik. Biarkan aku sendiri di sini. Sama seperti sebelumnya." Kania kembali merebahkan tubuhnya membelakangi Kris.
Hatinya terasa pedih. Ada luka yang tak terlihat. Membuat ia kembali memikirkan hubungannya dengan Kris.
"Sa-sayang, aku ...."
"Sebaiknya, pikirkan kembali hubungan kita. Aku rasa, ini saatnya kita mengakhiri semua," putus Kania. Tubuh Kania bergetar hebat menahan tangis.
***
Langit telah berubah jingga. Satu jam lamanya Kris duduk di dalam mobil. Ia bahkan masih berada di tempat Kania di rawat.
Siang tadi, Kris menghubungi Kania, untuk menanyakan keberadaannya. Ia terkejut, saat mendengar suara laki-laki yang menjawabnya. Lebih terkejut lagi, saat mengetahui sang istri jatuh pingsan dan tengah berada di sebuah rumah sakit.
Tanpa pikir panjang, Kris menuju ke sana. Tiba di sana, Kris menatap sedih pada raut wajah sang istri yang pucat. Dokter mengatakan, bila Kania mengalami stress berat.
Kris tidak tahu, apa yang membebani pikiran Kania. Selama ini, wanita itu tak pernah terbuka padanya, meski status mereka sebagai suami dan istri. Ya, Kania seakan membatasi diri darinya.
Ketika Kania bangun, Kris justru menyakiti hati wanita itu. Menorehkan luka yang seharusnya tidak ada. Kris menyesal, sangat menyesal.
Tak bisa menunggu lebih lama, Kris memutuskan ke luar dari mobil. Saat ia di lobby, Kania sudah berjalan ke arahnya dibantu perawat. Kris segera menghampiri sang istri.
"Biar saya saja, Sus," ucap Kris pada perawat.
Kania tak menolak. Tubuhnya masih terasa lemas saat ini. Akan tetapi, mulutnya terkunci rapat. Kris menuntun Kania ke dalam mobil.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit. Berkali-kali Kris melirik Kania. Wanita itu hanya bersandar dan memejamkan matanya. Tak ada suara sedikit pun dari Kania.
Mereka tiba di rumah. Tidak ada seorang pun yang beranjak dari mobil. Kris menatap sang istri masih dalam mode marah.
"Sayang, kita sudah sampai," ucap Kris lembut.
Kania mulai membuka matanya. Tanpa sepatah kata, ia turun lebih dulu. Berjalan perlahan untuk masuk ke rumah. Kris mengikuti langkah Kania.
Langkah Kania berbelok ke arah kamar tamu. Sebelum Kris ikut masuk, ia langsung menutup pintu dan menguncinya. Tak peduli berapa banyak Kris mengetuk pintu, Kania menenggelamkan kepalanya di bawah bantal.
__ADS_1
***
Keesokkan harinya, Kris bangun lebih siang. Ia cepat-cepat membersihkan tubuh. Bahkan, menghubungi managernya untuk membatalkan kegiatan yang akan dilakukan hari ini.
Setelah itu, ia menatap kamar yang ditempati Kania. Pintu itu masih tertutup rapat. Kris kembali mengetuk pintu kamar itu. Tetap tak ada sahutan dari dalam.
Tak ingin menunggu lagi, Kris menuju laci yang ada di dapur. Setelah menemukan apa yang dicari, segera Kris kembali ke kamar Kania. Pintu terbuka, tetapi tempat itu kosong. Kris mencari sang istri ke toilet. Hasilnya, tetap tak ada.
Ia pun menghubungi istrinya. Namun, nomor Kania berada di luar jangkauan. Kris semakin kalut. Rasa takut mulai menyergap hatinya.
"Ke mana kamu, Sayang?" tanyanya pada diri sendiri.
***
Kania bangun lebih pagi dari biasanya. Ia merasa tubuhnya lebih segar. Semalam, entah mengapa ia mudah jatuh tertidur. Kania beranggapan, bila itu efek dari obat yang diminumnya.
Saat membuka pintu, Kris tertidur di sofa. Ia pun bergegas pergi sebelum Kris terbangun. Kania hanya mengenakan apa yang melekat di tubuhnya.
Di luar rumah, Kania segera menghubungi Dirga. Kemudian, meninggalkan tempat itu tanpa berpaling. Ia menghentikan taksi yang kebetulan lewat.
Setelah menyebutkan sebuah alamat, taksi itu segera melaju. Kania pun me non-aktifkan ponselnya. Empat puluh lima menit kemudian, taksi berhenti tepat di alamat yang Kania tuju. Di sana, sudah ada Dirga yang menunggunya. Pria itu segera membayarkan taksi tersebut.
"Ada apa? Kenapa Lo kelihatan kusut masai begini?" tanya Dirga. Saat ini, mereka sedang duduk di sofa rumah Dirga.
"Apa salah jika aku ingin bercerai?" Kania balik bertanya. Ia menatap Dirga dengan wajah memelas.
Dirga terlihat terkejut mendengar ucapan Kania. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba ingin bercerai? Apa dia nyakitin Lo?" cecar Dirga.
"Aku gak tahan lagi, Mas." Kania menangis tersedu di depan Dirga.
Melihat Kania yang tengah rapuh, Dirga tak memaksa wanita itu untuk bercerita. Ia justru menariknya ke dalam pelukan. Memberi bahunya untuk Kania menangis. Setelah sedikit tenang, Dirga melepas pelukannya.
"Kemarin, Kris bilang Lo menghilang. Gue tebak, ini pasti berhubungan dengan mertua Lo, 'kan?" Dirga menatap Kania dalam.
"Cepat atau lambat, dia pasti akan menyingkirkan aku."
__ADS_1