
Kania segera menghapus air mata itu cepat. Kemudian, melangkah dengan anggun ke ruangan Crystal di rawat. Kania mengetuk pintu perlahan. Tak ada sahutan sama sekali. Hanya terdengar suara tawa di antara mereka.
Setelah menghela napas, Kania membuka pintu. Semua mata tertuju padanya. Kris pun ikut menoleh. Pria itu segera menghampiri sang istri yang baru saja datang.
"Aku minta maaf ninggalin kamu tadi," ucap Kris penuh penyesalan.
Wanita itu hanya tersenyum membalas ucapan suaminya. Meski Kania bisa melihat kejujuran di mata Kris.
"Crystal itu, udah aku anggap seperti adik sendiri. Jadi, suka khawatir mendadak waktu dengar sesuatu yang buruk menimpa dia," jelas Kris.
Sebelah alis Kania terangkat. Di sana, ibu mertuanya seakan menatap penuh ejekan pada Kania. Kris pun menarik Kania untuk mendekat ke arah ranjang Crystal.
"Hai, Kania. Terima kasih sudah mau datang menjengukku," ucap Crystal lemah.
"Ah, jangan sungkan. Bagaimana pun, kamu sudah seperti keluarga untuk kami." Kania menekankan kata keluarga. Entah Crystal menyadarinya atau tidak, bila Kania tak menyukai kehadirannya.
Pintu ruang rawat kembali diketuk. Kali ini, perawat datang dan memberikan salinan resep yang tidak tersedia di sana.
"Jadi, harus cari di apotek luar?" tanya ibu dari Crystal.
"Benar, Bu," sahut perawat. "Kalau begitu, saya pamit dulu." Perawat itu pun meninggalkan ruang rawat Crystal.
Sesaat, ruangan itu berubah hening. Tanpa sebuah alasan, hati Kania merasa tak tenang. Ia seperti merasakan sesuatu akan terjadi.
"Sudah, sebaiknya, Jeng, istirahat saja. Biar Kania yang menebus obat itu." Nyonya Tama melirik pada Kania.
Kris menatap ibunya tak percaya. Ia merasa, bila hal itu disengaja.
"Ma, ...." Ucapannya terhenti.
"Kania, kamu bisa, 'kan tolong mama tebus resep ini di apotek luar?" Nyonya Tama menatap penuh harap pada menantunya itu.
"Biar saya aja, Jeng. Ini, 'kan kebutuhan anak saya," tolak ibu dari Crystal.
"Biar saya aja, Tante." Kris menawarkan diri.
__ADS_1
"Kris, kamu itu artis terkenal loh, Nak. Nanti pasti banyak yang minta foto, kalau kamu yang pergi. Lebih baik Kania, tidak banyak orang yang mengenal dia."
Dari cara bicara Nyonya Tama, Kania tahu ia tengah dihina saat ini. Kania menarik napas dalam dan menghela perlahan.
"Biar aku aja, Yang. Mama benar. Kalau kamu yang tebus, nanti akan lebih lama lagi. Kamu itu artis terkenal. Banyak orang yang kenal sama kamu."
Kania sengaja mengulangi ucapan mertuanya. Ia pun mendekat pada mereka, lalu mengambil resep tersebut. Membacanya sebentar, dan berpamitan.
"Saya permisi dulu." Tanpa menoleh lagi, Kania segera meninggalkan ruangan Crystal.
***
"Brengsek! Mereka seakan sedang menghina aku!" maki Kania.
Ia menggenggam roda kemudi seerat mungkin. Mencoba menyalurkan amarah pada barang tak bergerak itu.
Tak ingin terlalu lama meninggalkan suaminya di sana, Kania segera menuju apotek terdekat. Untungnya, jarak tempuh ke sana tak terlalu jauh. Obat yang ia cari pun tersedia di sana.
Setelah membayar obat itu, Kania bergegas kembali. Tiba di dekat ruang rawat Crystal, Kania tak langsung berbelok. Ia tak sengaja mendengar obrolan ibu mertuanya dari lorong tempatnya berdiri.
"Kenapa, sih, Jeng Yanti menikahkan Kris dengan wanita itu? Sudah jelas lebih cantik Crystal. Lagi pula, bukannya, Jeng, udah janji akan menyatukan mereka? Kenapa diingkari?"
"Jeng Rini, tenang aja. Saya pasti akan menepati janji. Sekarang, saya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menendang wanita itu dari hidup Kris selamanya."
Entah mengapa, Kania tak lagi berniat bertemu dengan mereka. Ia pun menuju meja perawat dan menyerahkan obat yang ia beli pada mereka. Hatinya terlanjur sakit, setelah mendengar pembicaraan mertuanya tadi.
***
Sudah lebih dari tiga jam kania pergi. Kris mulai merasa khawatir. Entah sudah berapa akali Kris melihat ponselnya. Nyonya Tama yang melihat itu pun menghampiri putranya.
"Kamu kenapa gelisah begitu?" tanyanya.
"Kania belum kembali, Ma. Aku khawatir banget," jawab Kris dengan jujur.
"Ya sudah, coba kamu hubungi," titah ibunya.
__ADS_1
Beberapa kali ia mencoba menghubungi istrinya. Namun, Kania tak juga mengangkatnya. Suara ketukan pintu, membuat mereka menoleh. Kris berharap, bila itu Kania.
Pintu terbuka dan menampakkan perawat yang mendorong troli masuk. "Selamat sore. Ini ada titipan obat yang tadi diresepkan, ya," ucap perawat itu.
Kris terkejut mendengar ucapan perawat. "Ini, obatnya, Suster?" Perawat itu menganggukkan kepala. "Lalu, di mana istri saya?"
"Oh, mbak tadi langsung pergi," jawab perawat itu.
Kris terkejut. Begitu pun dengan Crystal. Sementara Nyonya Tama, tersenyum senang mendengar Kania pergi.
Bagus, aku tidak perlu susah payah mengusirnya dari sini.
Kris segera meninggalkan ruang rawat Crystal tanpa berpamitan. Kris mencoba menghubungi Dirga, manager sang istri. Sayangnya, Dirga tidak mengetahui keberadaan Kania sama sekali. Kania juga belum menghubunginya hari ini.
Kris semakin kalut. Ia berlari menuju parkiran mobil. Berharap sang istri berada di mobil menunggunya. Lagi, lagi, Kris harus menelan pil pahit. Kania tak berada di sana.
"Di mana kamu, Sayang? Kenapa tidak memberi tahuku, kalau pergi?" gumam Kris.
Kania sendiri, terus menyusuri jalan. Ia hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah. Kania juga tak peduli dengan dering ponselnya yang terus berbunyi.
Ia merasa, hidupnya tak lagi bermakna. Tidak ada orang yang mempedulikan dirinya. Ia berhenti di tepi laut. Menatap lautan yang terbentang luas di hadapannya.
"Kenapa, Tuhan? Kenapa aku yang Kau uji seperti ini? Tidakkah Kau lihat betapa menderitanya aku?" Kania berteriak keras.
Ia bahkan tak peduli, dengan air matanya yang terus mengalir. Dadanya terasa begitu sesak. Berulang kali ia menepuk dada, tetapi tak kunjung menghilangkan rasa sesak itu.
"Sampai kapan aku harus menanggungnya?" Tangis Kania terdengar begitu menyayat hati.
Perlahan, ia melangkah menuju lautan. Terus menerjang deburan ombak yang membasahi kakinya. Perlahan, kakinya mulai tenggelam ke dalam air. Namun, seseorang justru menariknya ke luar dari sana.
"Kau pikir, dengan bunuh diri semua masalahmu selesai? Kenapa tidak kau hadapi? Kenapa kau memilih lari dari kenyataan?" tanya seorang pria beruntun.
"Untuk apa aku hidup? Tidak ada yang menginginkan aku di dunia ini," jawab Kania di sela tangisnya.
Tekanan demi tekanan, perlahan menghancurkan hati Kania. Membuat hati wanita itu lemah. Pria itu pun menatap sedih padanya. Kania tak peduli, ia hanya terus menangis dan menangis.
__ADS_1
Lambat laun, rasa lelah membuat Kania jatuh pingsan. Reflek, pria itu menangkap tubuh Kania.
"Nona, kau tidak apa-apa? Nona!" panggil pria itu. Ia pun memutuskan membawa Kania ke klinik terdekat.