
Setelah selesai berkemas, Sabrina pun langsung berangkat ke rumah mertuanya, diantarkan oleh Siena. Ibu dan anak ini terlihat seperti adik kakak saja, mereka berdua sama-sama sangat cantik. Apalagi mereka mempunyai sifat yang sama, membuat mereka semakin terlihat seperti seorang sahabat.
.
"Mamah harap kau betah di sana," ucap Siena, kini ia sedang menyetir mobil, dan Sabrina berada di sampingnya.
"Sepertinya aku akan betah, Mamah tahu sendiri kan, kalau Mami Sasa itu sangat baik dan juga sangat lucu," jawab Sabrina.
"Sabrina, Mamah ingin bertanya padamu,"
"Bertanya tentang apa?"
"Apa kau mencintai Rasya?"
"Maksud Mamah?"
"Oh ayolah sayang, Mamah hanya ingin tahu perasaanmu," Ditanya seperti itu, Sabrina hanya terdiam dan tak mau menjawab. Karena ia sendiri masih bimbang dengan perasaannya sendiri.
Bagaimana perasaannya terhadap Rasya, entahlah karena setiap Rasya memeluknya. Ia merasa sangat nyaman dan juga aman. Ia merasa jika Rasya adalah pelindungnya, selain papanya.
"Aku tidak tahu Mah,"
"Apa kau tahu, jika Inaya menaruh hati pada suamimu?"
"Apa? Dari mana Mamah tahu?" tanya Sabrina, sungguh ia terkejut mengetahui jika gadis yang selalu bersikap ketus padanya itu, ternyata menaruh hati pada Rasya suaminya. Atau jangan-jangan, selama ini Inaya selalu bertingkah tak menyukainya karena selama ini Rasya menyukainya. Dan hal itu tentu saja pasti membuat hati Inaya terluka.
Kali ini Sabrina paham, kenapa gadis cantik itu selalu terlihat membencinya. Lalu, bagaimana dengan perasaannya sekarang. Inaya pasti sangat membencinya, karena sudah menikah dengan Rasya .
Akan tetapi, Sabrina pun tak rela melepas Rasya demi Inaya. Meskipun saat ini perasaannya masih gamang terhadapnya.
"Dari mana Mamah tahu?"
"Apa kau lupa, jika Aunty Sintia adalah teman Mommy?"
"Oh ya ampun, jadi Aunty yang menceritakan semuanya pada Mamah?" Siena pun hanya mengangguk saja. Karena memang benar jika, Sintia mengatakan hal itu padanya, saat pernikahan Sabrina dan Rasya akan digelar beberapa hari lagi. Entah apa maksud dari ucapan Sintia, mengatakan hal itu pada Siena. Tapi meskipun begitu, hubungannya dengan Sintia masih berjalan dengan sangat baik. Sintia pun bersikap seperti biasanya dan tak menunjukkan jika ia tak menyukainya.
Kini kedua wanita cantik beda generasi ini, dibuat sibuk dengan pikiran masing-masing. Siena yang memikirkan Sintia, dan Sabrina yang memikirkan Inaya.
*
*
*
__ADS_1
"Oh ya ampun, kepalaku yang proposional menjadi benjol!" ucap Deo, sambil terus mengusap - usap kepalanya yang barusan terkena jurus hame-hame asistent Ivan.
"Rasakan!" ejek Inaya, ia merasa sangat senang saat papanya memberikan pelajaran pada si mulut besar Doraemon ini.
"Lain kali jaga mulutmu itu, jika tidak ingin aku jahit!" sentak Ivan.
"Mana aku tahu kalau, duyung galak ini anakmu," gumam Deo.
"Ada apa ini?" tanya Rasya yang baru sampai di kantor, sepertinya ia ketinggalan pertunjukan menarik, jika dilihat dari wajah mereka yang tak biasa.
"Hei Abon, lihatlah kepalaku! Apa ada yang berbeda?" tanya Deo pada Rasya.
Rasya pun kemudian melihat kearah Deo yang terus mengusap - usap kepalanya, dengan tatapan dibuat sok berkonsentrasi. Padahal sebenarnya ia tidak peduli.
"Terlihat jelek seperti biasanya, memangnya kenapa?" tanya Rasya, sambil mendorong tubuh Deo yang menghalangi jalannya.
"Ahhh kau memang sangat menyebalkan! Aku sangat heran dengan orang- orang yang ada di kantormu. Apa penglihatan kalian terganggu, sampai - sampai di sini tak ada yang menyadari ketampananku!"
"Jangan membuat keributan di kantorku, ada apa kau datang kemari?" tanya Rasya.
Deo pun kemudian menyampaikan tujuannya datang ke kantor Rasya, karena memang ada yang akan ia bicarakan tentang masalah pekerjaan.
*
*
*
"Iya, aku titip putriku di sini ya,"
"Iya tenang aja, lagian jangan bilang dititip atuh, Sabrina kan udah jadi menantu Sasa sekarang mah. Jadi kamu teh tenang aja Siena, anak kamu aman. Suami aku mah gak segarang suami kamu yang pelit itu, jadi Sabrina bakalan aman luar dan dalam. Ehh ... kalau bagian dalam mah, Sasa gak bisa jamin. Soalnya itu mah di luar jangkauan," ucapnya sambil terbahak.
"Oh ya ampun," gumam Siena, sedangkan Sabrina hanya tertawa melihat mertuanya yang sangat lucu ini.
*
*
*
"Jadi bagaimana? Apa pekerjaannya sudah selesai?" tanya Rasya.
"Sebentar lagi," jawab Inaya, yang masih fokus pada laptopnya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Inaya pun terlihat memeriksa pekerjaan yang Rasya berikan. Dan kemudian ia pun menghampiri Rasya dan memberikannya, akan tetapi Inaya yang tidak berkonsentrasi malah tak sengaja terjatuh tepat di pangkuan Rasya. Sepatu hak tingginya tidak terinjak sempurna membuat kakinya terkilir hingga ia terjatuh di pangkuan Rasya.
"Aaaaarkhhhh ..."
Dan di saat yang tidak tepat, Sabrina datang untuk mengantarkan makan siang yang dibuat oleh mertuanya, untuk Rasya. Semula ia mengira, jika Rasya akan terkejut saat melihatnya, karena selama ini Sabrina tidak terlalu memperhatikan Rasya. Dan itu membuat Sabrina merasa menyesal karena belum bisa menjadi istri yang baik. Dan mulai hari ini, ia berjanji jika ia akan berubah dan menjadi istri yang baik untuk Rasya, meskipun ia belum memantapkan hatinya pada Rasya.
Akan tetapi, di saat ia akan berubah untuk suaminya dan berniat untuk memberikan kejutan kecil untuknya, justru malah ia yang dikejutkan oleh pemandangan yang merusak mata dan hatinya. Apalagi, ucapan Siena kini mulai terngiang-ngiang di telinganya, jika wanita yang menjadi asisten suaminya ini memiliki perasaan pada suaminya.
Ini tidak bisa dibiarkan, karena Sabrina tidak ingin ada duri dalam pernikahannya. Pandangan Sabrina mengarah pada Rasya yang tampak terkejut dan Inaya yang tersenyum padanya. Berharap jika Sabrina akan salah paham padanya, dan mereka akan bertengkar.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Sabrina
Rasya langsung berdiri, tanpa mempedulikan Inaya hingga ia terjatuh dan memekik kesakitan. Sudah kakinya terkilir, kini pinggangnya pun sakit karena terjatuh.
"Sayang ..." panggil Rasya panik, takut jika istri yang belum mencintainya ini malah semakin tidak mencintainya pikir Rasya.
"Rasya pinggangku sakit," rengek Inaya.
Pandangan Rasya pun langsung mengarah ke arah Inaya begitu juga dengan Sabrina. Mereka tahu jika gadis di depannya ini sakit, akan tetapi Rasya merasa takut Sabrina marah jika ia menolongnya. Dan Sabrina pun tak rela jika suaminya menolong Inaya.
Untungnya di saat yang membingungkan, Doraemon yang belum pulang kembali masuk ke ruangan Rasya, setelah ia dari ruangan Ramon karen urusannya memang belum selesai. Ia ditugaskan oleh David untuk menyelesaikan kerja sama antara perusahaannya dengan perusahaan Ramon.
Melihat gadis cantik pujaannya, Deo langsung tersenyum manis semanis madu dicampur susu.
"Sabrina," ucapnya senang..
"Deo kebetulan kau ada di sini, aku ingin minta tolong" ucap Sabrina dengan senangnya.
Mendengar Sabrina ingin meminta tolong padanya, membuat jantung Deo terasa melayang - layang. Karena walaupun ada suaminya, Sabrina malah meminta tolong pada dirinya. Ya ampun hati Deo bagaikan dipenuhi oleh bunga - bunga cinta saat ini.
"Minta tolong apa? Aku pasti akan menolongmu," girangnya hati Doraemon ini, serasa akan makan Dorayaki sebentar lagi.
"Bisa kau tolong Inaya, kasihan dia terjatuh," ucap Sabrina.
"Apa! Menolong duyung galak, memangnya kenapa dia?" pandangan mereka pun langsung mengarah pada Inaya yang sedang terduduk menahan sakit di kaki di kaki dan pinggangnya.
"Oh ya ampun ada duyung terdampar rupanya," ucap Deo sambil tertawa dan menghampiri Inaya, yang tengah terduduk.
"Kenapa kau?" tanya Deo sambil melihat ke arah kaki Inaya yang memerah, sedang dipegang olehnya.
"Bukan urusanmu!" ketus Inaya.
Namun, tanpa basa-basi Deo langsung menggendong Inaya untuk diobati, meskipun sebenarnya pertolongan yang dilakukan oleh Deo demi terlihat baik di depan Sabrina. Akan tetapi, Deo juga bukan pria yang jahat yang akan membiarkan orang lain terluka. Sifat baiknya memang menurun dari Danisam
__ADS_1
"Hei kau mau membawaku kemana?" tanya Inaya takut.
"Aku akan membawamu ke habitatmu tenang saja," jawab Deo.