Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
Bab 33


__ADS_3

Sudah beberapa hari Sabrina bekerja sebagai asistent suaminya, dan selama itu juga Rasya merasa terbantu dengan pekerjaannya. Karena istrinya ini sangat pintar dann juga cekatan dalam bekerja. Namun, pagi ini ternyata Inaya sudah kembali masuk bekerja lagi. Apa itu artinya Sabrina harus berhenti, dan meninggalkan kantor padahal baru saja ia merasa sangat bahagia karena bisa bekerja dan mempunyai kegiatan untuk mengisi hari-harinya.


"Selamat pagi," sapa Inaya.


"Selamat pagi, woaah ternyata kau sudah sembuh," jawab Rasya.


"Kenapa? Apa kau kecewa karena aku sudah sembuh dan kembali bekerja?"


"Hei kau ini bicara apa? Aku senang kau kembali bekerja, karena istriku tidak akan kelelahan lagi membantuku bekerja," jawab Rasya tergelak.


"Dasar menyebalkan!"


"Rasya, apa aku harus pulang karena Inaya sudah kembali bekerja?" tanya Sabrina.


Rasya pun langsung menarik pinggang ramping Sabrina, dan kemudian mencium pipinya dengan mesra. "Aku sudah membicarakannya dengan Papa, kalau kau bisa bekerja denganku sebagai sekretaris," ucap Rasya, dan jawaban Rasya membuat Sabrina merasa sangat bahagia, tapi tidak dengan Inaya yang merasa tidak suka jika Sabrina ikut bekerja di sana. Karena Rasya pasti akan lebih perhatian pada Sabrina. Dan Rasya pasti akan bermesraan dengannya.


"Benarkah?" tanya Sabrina dengan wajah yang sumringah, ia sangat bahagia karena keinginannya untuk bekerja akhirnya tercapai. Rasya sangat tahu keinginan dari istrinya ini, untuk itu ia bicara dengan papanya Ramon dan Ramon pun menyetujui keinginan sederhana dari menantunya itu. Dan ia tak akan mengekangnya, seperti yang dilakukan oleh Bagas. Dan untuk Bagas sendiri, biar Rasya yang menghadapinya.


"Kau bekerja? Memangnya kau tidak takut jika Papamu akan memarahi suamimu?" tanya Inaya.


"Itu ..."


"Masalah Papa mertua, itu adalah urusanku. Yang terpenting untukku adalah kebahagiaan istriku tersayang. Dan untuk meja kerjamu sendiri, tentu akan berdekatan denganku. Agar setiap waktu aku bisa selalu melihat wajah cantikmu cintaku,"


Cup


Sabrina sengaja mencium pipi Rasya di depan Inaya, karena ia sangat tahu jika Inaya keberatan jika Sabrina ikut bekerja dengannya di kantor. Ia pasti merasa cemburu, melihat Sabrina yang sangat dicintai oleh Rasya akan berada di sekelilingnya setiap hari.


"Astaga sayang, apa kau ingin membuat jantungku terbang!"


"Kalian ingin bekerja atau bermesraan, dasar menyebalkan!" ucap Inaya dan kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


Bukannya Rasya merasa kasihan pada Inaya, ia malah terbahak melihat Inaya yang terlihat kesal, membuat otak Inaya semakin gosong saja dibuatnya.


"Oh ya ampun! Aku lupa jika di sini ada Nona jomblo, maaf ya,"


Namun, Inaya hanya mendelik kesal saja pada mereka berdua.


*


*


*


Di kantornya, Deo sedang uring-uringan. Entah kenapa hatinya masih belum bisa menerima kenyataan jika Sabrina telah menjadi milik Rasya. Rasa cinta yang ia pendam selama bertahun-tahun kini harus lenyap begitu saja. Ia tak terima sungguh mungkin sampa kapan pun juga ia tak akan pernah bisa menerima kenyataan ini.


Perasaan Deo yang sangat kacau, membuat pekerjaan kantor pun itu berantakan. Membuat David harus turun tangan untuk menegur putranya ini.


"Apa Doraemon ini ingin membuat perusahaanku bangkrut?" tanya David yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Deo, yang terlihat sangat kacau..


"Maaf Pih, tapi aku sedang patah hati. Aku minta pengertiannya,"


"Pih ..." rajuknya.


Melihat wajah putranya yang terlihat sangat memelas membuat David berdecak sebal, ia ingin marah tapi ia pun merasa kasihan. Lantas David harus bagaimana? Entahlah ia sendiri pun tak tahu. Mungkin ia akan membicarakan masalah ini dengan Danisa nanti.


"Jika kau belum bisa bekerja, sebaiknya kau pulang,"


"Jika aku pulang, siapa yang akan membereskan pekerjaan ini?"


"Biarkan saja, mungkin nanti aku akan mencari anak adopsi untuk aku jadikan penerus perusahaan," jawab David sangat santai.


"Apa!"

__ADS_1


Deo terkejut mendengar penuturan David yang akan mencari penerus baru perusahaannya yang sangat besar ini. Dan Deo tidak terima jika seluruh kekayaan dari David akan jatuh ke tangan orang lain.


"Pih, kau boleh marah padaku. Tapi jangan membuatku miskin. Seperti Kakek yang membuangmu dulu," ucap Deo, yang takut jika ia akan diusir hingga harus mencari pekerjaan baru dan yang ia dapatkan hanyalah menjadi seorang OB saja. Dari mana Deo tahu semua itu, tentu saja dari David yang dengan bangganya menceritakan kisahnya dengan Danisa pada Deo.


Oh tidak! Itu tidak boleh terjadi Deo tidak mau jika itu sampai terjadi padanya. Ia akan berusaha melupakan Sabrina bagaimana pun caranya, karena gadis pujaannya itu sudah tak mungkin menjadi miliknya.


"Itu akan aku pikirkan, tapi jika kau terus seperti ini, maka aku tidak akan segan-segan untuk membuangmu!"


"Tidak -tidak! Jangan lakukan itu, aku akan melakukan apapun untuk melupakan cintaku. Tapi jangan usir aku,"


David senang melihat Deo yang berjanji akan berubah, semoga saja itu benar. Karena jika Deo terus seperti ini, maka perusahaan akan semakin kacau nanti.


"Papi, punya saran kau bisa dengan mudah melupakan gadis itu,"


"Bagaimana caranya," Deo yang sedang duduk di kursi kerjanya pun, langsung menghampiri David yang sedang duduk santai di sofa, yang ada di ruangan kerjanya.


"Caranya sangat mudah, kau tinggal mencari pacar saja. Apa susahnya,"


Deo berdecih mendengar saran dari David, Deo pikir saran yang akan David berikan adalah saran yang bagus dan luar biasa. Nyatanya, sarannya itu adalah saran yang sangat sulit ia lakukan. Karena Deo bukanlah tipe pria yang mudah jatuh cinta. Ia tak mau sembarangan menjalin kasih dengan dengan seorang perempuan. Untuk itulah sangat sulit baginya untuk melupakan Sabrina.


"Aku tidak mau sembarangan punya pacar, aku ini bukan pria yang mudah jatuh cinta. Aku juga bukan pria yang sembarangan akan menjadikan perempuan untuk menjadi kekasihku. Aku ini terlalu tampan dan juga sempurna, tak sembarangan wanita bisa menjadi kekasihku,"


"Menyebalkan! Jangan jadi pria yang terlalu pemilih. Yang penting gadis itu cantik, baik, dari keluarga baik-baik pula. Jangan terlalu banyak tipe, kecuali kau ingin menjadi perjaka tua," ejek David.


"Enak saja, dalam sejarah mana pun pria tampan tidak akan pernah menjadi perjaka tua,"


"Ngomong - ngomong Papi akan meminta Mami untuk untuk mencarikanmu istri saja ya, supaya kau cepat bisa move on. Jika menunggumu melupakan anak asistent pelit itu. Perusahaanku keburu bangkrut,"


"Ya ... terserah Papi dan Mami saja, yang penting aku tetap menjadi pria tampan dan kaya. Oh ya jangan lupa, perempuan itu harus, cantik dan juga seksi. Harus baik dan bisa membuat hidupku enak," ucapnya sambil tersenyum menyebalkan.


"Kau sedang meminta jodoh atau memesan makanan?"

__ADS_1


***


Udah kasih Vote belum nihh 😚😚😚


__ADS_2