
Helaan napas lega Kania hembuskan dari bibir mungilnya setelah mendengar ucapan Dokter. Dengan perasaan riang, ia melangkah ke mobilnya. Baru saja ia masuk, dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Terlihat nama ibu mertuanya di sana.
"Ya, Nyonya," ucap Kania setelah panggilan tersambung.
Untuk sesaat, ia hanya diam mendengarkan. Beberapa menit kemudian, wanita itu menatap ponselnya. Panggilan itu telah terputus. Kemudian, Kania memutar kunci mobil dan menstaternya.
Kania pun mengendarai mobilnya keluar dari area rumah sakit. "Dari mana dia tahu aku ke rumah sakit?" tanya Kania pada dirinya sendiri.
Ia sibuk dengan jalan pikirannya sendiri hingga tak menyadari, bila mobil yang dikendarai telah memasuki halaman rumah keluarga Tama. Matanya menatap gamang rumah yang berdiri dengan gagah di depannya ini.
Setelah beberapa menit, Kania pun keluar dari mobil, lalu melangkah masuk. Terlihat di ruang tamu wanita yang berstatus sebagai ibu mertuanya itu duduk.
"Ada apa, Anda, memanggil saya ke sini?" tanya Kania tanpa basa-basi.
Nyonya Tama membanting majalah yang tengah di bacanya ke atas meja. "Dasar tidak tahu sopan santun!" umpatnya.
Kania tak menggubris ucapan sang mertua. Ia mendudukkan diri di hadapan Nyonya Tama dengan santai. Tidak terlihat raut wajah ketakutan di sana. Yang ada, Kania seperti sedang menantang wanita itu.
"Untuk apa kau ke rumah sakit?" tanya Nyonya Tama.
Wanita itu menyilang kan tangan di depan dada. Matanya menatap tajam pada Kania, wanita yang tak pernah ia anggap sebagai menantu. Senyum tipis Kania tunjukkan.
Dari mana dia mendapat berita aku ke rumah sakit? Apa dia memata-mataiku? tanya Kania dalam hati. "Hanya pemeriksaan rutin," jawab Kania.
"Benarkah? Apa kau hamil?" tanya Nyonya Tama ragu-ragu.
Dahi Kania berkerut dalam mendengar pertanyaan itu. Untuk sejenak, ia berpikir bila ibu mertuanya ini mengharapkan kehadiran seorang cucu. Namun, sedetik kemudian, asumsinya dihancurkan.
"Jika, iya, gugurkan! Aku tidak akan membiarkanmu mengandung calon keluarga Tama," tegas Nyonya Tama.
__ADS_1
Ada yang bergemuruh hebat di dada Kania. Sekuat tenaga ia menahan laju air mata yang akan jatuh dari pelupuk. Tubuh Kania bergetar hebat, akibat amarah yang menggelegak. Wanita itu hanya mampu mengepalkan tangan seerat mungkin.
Nyatanya, apa yang Kris harapkan tidak akan pernah terjadi. Wanita di depannya ini, tidak akan pernah menerima anak yang lahir dari rahimnya. Kania menarik napas dalam, mencoba untuk menguatkan dirinya. Ia berharap, air matanya tak jatuh di hadapan ibu mertuanya.
"Tenang saja. Aku belum hamil," jawabnya setenang mungkin. Semoga saja, Nyonya Tama tak menyadari suaranya yang mulai bergetar.
"Bagus. Kalau sampai kau berbohong, aku sendiri yang akan mencari cara untuk membunuh anak dalam kandunganmu, sebelum Kris mengetahui keberadaannya!" ancam Nyonya Tama. "Sekarang, kau boleh pergi!" Nyonya Tama kembali mengambil majalah tadi, setelah mengusir Kania.
Tanpa berpamitan, Kania meninggalkan rumah itu. Ia terus berjalan tanpa berbalik karena air matanya tak lagi mampu ia tahan. Wanita itu menggigit bibirnya kuat, untuk menahan agar tangisnya tak terdengar.
***
Kris baru saja menyelesaikan syuting. Ia mengambil ponsel yang diberikan sang manager padanya.
"Ponselmu berbunyi terus. Mungkin penting," ujar sang manager.
Kris mengangkat kedua alisnya, saat mendengar ucapan sang manager. Ia segera melihat log panggilan pada ponselnya. Terlihat nama Crystal yang menghubunginya sebanyak dua puluh kali. Ada pula pesan dari gadis itu.
Apa mungkin Kania hamil? tanyanya dalam hati. Ia segera menyimpan ponsel itu ke dalam saku, lalu mengajak sang manager untuk segera pulang.
Lokasi syuting yang tak terlalu jauh dari rumah, membuat Kris tiba dalam waktu empat puluh menit. Dadanya berdebar kencang, saat melihat mobil Kania terparkir di rumah. Jelas, sang istri telah kembali.
Pria itu mencoba menenangkan diri dari euforia kebahagiaannya. Apa seperti ini rasanya menjadi calon ayah? pikirnya.
Sekali lagi Kris, lalu turun dari mobil. Ia segera melangkah masuk, setelah mengucapkan terima kasih pada sang manager. Matanya menelisik seluruh ruang tamu. Tidak terlihat keberadaan sang istri.
Ia pun berjalan ke arah kamar yang Kania tempati belakangan ini. Pintu itu tidak terkunci. Tidak ada lagi barang-barang sang istri di sana. Kini, kamar itu seakan tak ditempati. Raut wajah Kris berubah tegang.
"Kamu ngapain di situ?"
__ADS_1
Suara itu membuat Kris menoleh cepat. Tak jauh dari posisinya berdiri, ada Kania yang menatapnya dengan dahi berkerut. Secepat kilat Kris berhambur memeluk sang istri.
"Aku pikir, kau pergi meninggalkan aku," ucap Kris.
Mendengar itu, hati Kania menghangat. Meski sang ibu mertua tak merestui hubungan mereka, Kania bersyukur mendapat cinta dari Kris. Pria itu membuktikan, bila Kania jauh lebih berarti dibanding wanita lain—ternasuk Crystal.
Perlahan, Kania membalas pelukan Kris. Demi kamu, aku akan mencoba untuk meraih restu dari ibumu, putus Kania dalam hati.
"Aku mindahin barang-barangku ke kamar kita," jawabnya.
Kris menatap mata Kania. Raut wajah pria itu terlihat berbinar mendengar jawaban sang istri. Sekali lagi, Kris memeluk Kania erat. Mengecup sisi samping kepala wanita itu berkali-kali.
"Kamu udah maafin aku, 'kan?" tanya Kris.
Kania tersenyum seraya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Setelah kembali dari rumah sang mertua, Kania berpikir apa yang menyebabkan ibu dari suaminya itu tidak menyukai dia. Aku yakin, bukan hanya status keluargaku yang dilihat Nyonya Tama. Crystal bahkan tidak sepadan dengan keluarga Kris. Jadi, jelas bukan harta yang ia lihat. Tapi ... apa?
Kania hanya bisa mempertanyakan semua itu dalam benaknya. Sepanjang perjalanan tadi, Kania sempat membandingkan dirinya dengan Crystal. Secara ketenaran, mungkin ia jauh tertinggal. Namun, untuk masalah kecantikan, Kania tak kalah dari Crystal.
Sayangnya, Kania tak menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan itu.
***
Hari berganti hari. Hubungan antara Kania dan Kris mulai kembali menghangat. Nyonya Tama yang mengetahui hal itu, memilih tak banyak bicara, meski sejujurnya ia tidak suka.
Pagi itu, Kania baru saja selesai mandi. Terlihat, Kris sudah membuka kelopak matanya. Pria itu menghampiri sang istri dan mengecup keningnya lembut. Kania mengerutkan dahi mendapati perlakuan seperti itu.
"Kamu tambah cantik," goda Kris.
"Aku curiga, ada udang di balik batu. Ada apa, Sayang?" Kania mengalungkan tangannya di leher sang suami.
__ADS_1
Kris mendekatkan bibirnya di telinga Kania. Membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu. Belum sempat Kania bereaksi, Kris sudah melancarkan serangannya. Ia tak memberi kesempatan bagi Kania untuk menolak.