Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
Bab 20


__ADS_3

Sore ini Rasya pulang ke rumahnya, tubuhnya terasa sangat lelah. Ingin sekali ia langsung tertidur saja saat ini. Hingga karena terlalu lela akhirnya Rasya pun hampir saja masuk ke dunia mimpi, setelah sebelumnya ditarik kembali oleh suara cempreng dari sang bidadari pemilik rumah.


"Rasya ..."pekiknya, Sasa sangat terkejut melihat putranya ada di rumah dan tertidur di sofa ruang keluarga. Apa ia diusir oleh mertua pelitnya. Jika itu sampai terjadi, anaknya mungkin akan menjadi hot duda sebentar lagi.


Rasya yang baru saja hendak memejamkan matanya, langsung membuka kembali matanya yang baru saja tertutup. Kenapa Maminya ini selalu berisik pikir Rasya.


"Ada apa Mih?" tanya Rasya malas, tubuhnya terasa sangat lelah sekali.


"Kamu lagi ngapain? Kamu diusir sama mertua kamu?" tanya Sasa penasaran dan duduk di samping putranya yang sangat tampan ini. Rasya yang masih belum konek karena mengantuk, terlihat bingung.


"Mertua? Mertua siapa?"


"Mertua kamu atuh siapa lagi, mertua kamu yang pelitnya gak ketulungan," jawab Sasa. Rasya pun menegakan tubuhnya dan mulai mengumpulkan kesadarannya.


"Oh ya ampun,"


"Kenapa? Jadi bener kamu teh di usir?" tanya Sasa.


"Bukan Mih, ya ampun aku salah pulang. Kenapa aku bisa lupa kalau aku sudah menikah, astaga!" ucap Rasya terkejut. Karena seharusnya ia pulang ke rumah Siena tadi, tapi Rasya yang memang tidak konsentrasi apalagi karena kelelahan. Ia malah pulang ke rumahnya sendiri.


"Eh dasar Anak Kingkong, minta nikah kaya minta jajan. Sekarang udah nikah malah lupa kandang," ucap Sasa, tak habis pikir dengan kelakuan anaknya ini.


"Ya sudah Mih, aku pulang dulu," pamit Rasya dan mencium pipi Sasa kemudian ia pergi meninggalkan Sasa. Sasa yang masih merindukan putranya pun langsung mengejar sampai ke depan rumah.


"Mau Mami antar gak sayang!"

__ADS_1


"Tidak usah, Mih!" jawab Rasya terburu-buru dan kemudian segera pergi meninggalkan rumahnya. Kepergian Rasya bertepatan dengan kedatangan Ramon.


Pria yang masih tampak tampan dan gagah di usianya itu, melihat heran kepada istrinya. Ia sedang berdiri di depan rumahnya dengan wajah yang sedih. Ramon pun segera keluar dari mobilnya dan menghampiri istri kesayangannya yang ajaib ini.


"Sayang kau kenapa?" tanya Ramon, menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya. Ramon sedih melihat istrinya yang terlihat sedih, sejak dulu pria bertubuh tinggi kekar ini memang mempunyai hati yang melow seperti Hello Kitty.


"Sasa teh sedih, Rasya sekarang pulangnya gak kesini lagi," ucapnya sedih.


"Tentu saja dia kan sudah menikah," jawab Ramon.


"Kenapa gak tinggal di sini aja atuh, kan Sasa jadi sedih. Rumah ini jadi sepi,"


"Nanti tunggu giliran saja, sudah jangan sedih lagi. Bukankah masih ada aku di sini," ucap Ramon. Sasa langsung tersenyum dan memeluk Ramon, serta menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Aku punya ide agar kau tidak kesepian," ucap Ramon.


"Bagaimana kalau kita mencetak anak lagi, dengan begitu kau tidak akan kesepian."


"Aihhh ... gak mau ah. Nanti hamilnya bakal balapan sama menantu. Nanti teh, anakku main dengan cucuku," ucap Sasa dan kemudian meninggalkan Ramon yang masih mematung di depan rumah. Ia jadi membayangkan jika ia dan Rasya mempunyai bayi. Sepertinya itu bukan ide bagus, jadi Ramon mengurungkan niatnya.


*


*


*

__ADS_1


Rasya merutuki kebodohannya, kenapa ia bisa salah pulang. Mungkin karena ia memang sedang tidak berkonsentrasi. Tapi ya sudahlah, namanya juga manusia pasti ada khilafnya. Rasya pun kemudian memarkirkan mobilnya di depan rumah dan kemudian segera masuk. Sebelum masuk, ia penasaran karena melihat ada mobil asing terparkir di sana. Itu bukan mobil Bagas mertuanya, mobil mertuanya justru belum ada di sana. Jadi, itu mobil siapa pikirnya.


Rasya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, samar - samar ia mendengar suara orang tertawa. Dan itu adalah tawa seorang pria, siapa pria yang ada di dalam. Rasya semakin penasaran kemudian yang segera mendekati sumber suara itu. Alangkah terkejutnya saat ia melihat jika pria yang ada di dalam itu adalah Deo, pria yang selama ini juga menaruh hati kepada istrinya, sedang apa pria itu ada di sana.


Hati Abon mini ini mendadak terasa panas, aroma - aroma gosong pun mulai tercium. Dengan langkah gagah ia menghampiri Sabrina dan langsung duduk di sampingnya. Tak lupa tangan kekarnya ia rangkulkan di pinggang ramping Sabrina. Membuat jantung Deo mendadak matang saat melihatnya.


Tak cukup membuat jantung Deo matang, Rasya dengan sengaja mencium pipi Sabrina di hadapan Deo, hingga kini hati Deo yang menjadi gosong.


"Ternyata ada tamu,"


"Iya, katanya Deo ingin membagi-bagikan oleh-oleh untuk kita, ini dari Aunty Danisa," ucap Sabrina. Rasya langsung menatap Deo dengan tatapan ingin menelan pebinor itu saat ini juga, kebetulan ia sedang sangat lapar.


"Kenapa kau membagi-bagikan oleh-oleh pada istriku?" tanya Rasya sambil mengatupkan bibirnya menahan gemas.


"Kenapa memangnya ada yang salah?" tanya Deo.


"Salah, sangat salah. Karena kau datang langsung menemuinya, Kenapa kau tidak menitipkannya saja padaku tadi bukan kasih yang kita bertemu," ucap Rasya.


"Silahkan di minum," ucap Siena dan kemudian ikut bergabung dengan mereka bertiga di sana. Siena tahu, jika saat ini menantunya tengah cemburu karena ada rivalnya main ke rumah.


Sebenarnya itu hanya sebuah bingkisan kecil dari Danisa, yang sengaja ia bagi-bagikan kepada teman-temannya. Karena sudah lama tidak bertemu, tapi itu malah dibuat kesempatan oleh dia untuk bertemu dengan Sabrina.


"Sayangku," panggil Rasya pada Sabrina.


"Iya kenapa?" tanya Sabrina.

__ADS_1


"Aku sangat lelah, ayo kita ke kamar," ajak Rasya dengan sengaja ingin membakar hati Deo. Baru saja Sabrina akan menjawab ucapan Rasya, terdengar suara papa mertua yang tak baik hati. Rupanya ia sudah pulang, sama halnya seperti Rasya Ia pun terkejut melihat ada Deo berada di sana. Sedang apa pikir Bagas, orang yang dulu pernah mengejar putrinya ini kini berada di rumahnya. Apa jangan-jangan, ia ingin menjadi cacing kremi di rumah tangga anaknya. Sama seperti papanya dulu.


"Sedang apa Dora Emon di rumahku?" tanya Bagas.


__ADS_2