
Setelah kejadian tadi, Sabrina tidak banyak bicara. Ia bukanlah gadis yang memiliki sifat seperti Sasa yang tebal muka setebal tembok tetangga, yang tidak akan pernah memikirkan hal - hal yang akan membuatnya malu. Lain halnya dengan Sabrina yang mempunyai mental setipis tisu, yang tidak tahan dengan hal yang sangat memalukan. Ia terus saja terbayang-bayang hal yang sangat memalukan tadi.
"Sabrina kita belanja dulu ya, Mami mau belanja keperluan rumah. Jadi kamu temani mau ya ..." ajak Sasa, Sabrina hanya mengangguk saja sambil tersenyum menanggapinya. Otak Sasa yang sedang konek rupanya menyadari jika, menantunya ini tengah merasa malu padanya. Mungkin karena tadi ia terpergok saat akan bercocok tanam dengan anaknya.
"Udah, jangan terlalu dipikirin yang tadi mah. Mami juga dulu kaya gitu kok, jangankan dulu sekarang juga masih," ucapnya tergelak.
Melihat ekspresi wajah mertuanya, yang terlihat seperti tidak terjadi apa-apa membuat Sabrina sedikit merasa lega. Seharusnya ia tak terlalu memikirkan apa yang terjadi tadi. Karena bahkan mertuanya yang langka ini cuek-cuek saja. Dan tidak mempermasalahkannya.
"Oh ya, kalau kamu capek mah gak apa-apa. Mami belanja sendiri aja,"
"Tidak apa-apa Mih, lagi pula aku bosan jika berada di rumah. Jadi lebih baik aku menemani Mami belanja saja," jawab Sabrina, ia tidak mau Mami mertuanya kecewa. Karena ingin pergi berbelanja dengan menantu perempuannya. Lagi pula memang benar, jika ia hanya diam di rumah itu akan sangat membosankan. Sabrina jadi ingin bekerja, apa ia bekerja saja dan meminta ijin pada Rasya. Dan setelah hamil nanti ia baru berhenti, eh tunggu dulu. Bagaimana mungkin Sabrina bisa hamil jika bercocok tanam saja belum pernah. Ahhh, seharusnya Sabrina tak boleh begitu pada Rasya. Tapi jika ia memintanya duluan juga itu pasti akan sangat memalukan.
Sabrina bukanlah perempuan agresif, jadi ia akan sangat malu jika nanti ia mengajak Rasya mantap-mantap. Gadis cantik ini berpikir keras, bagaimana caranya agar ia tidak merasa malu jika nanti ia mendekati Rasya.
Sepanjang perjalanan, ia hanya melamun saja. Memikirkan cara untuk mendekati Rasya. Jujur saja ia tidak mau jika suaminya sampai tergoda oleh Inaya yang juga sangat cantik, pintar dan juga mempesona. Tidak! Sabrina tidak boleh kalah dengan Inaya. Ia harus bisa lebih menarik dibandingkan dengan Rasya.
*
*
*
Sampailah mereka di pusat perbelanjaan, pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Semua barang-barang yang dibutuhkan ada di sana. Mulai dari kebutuhan rumah tangga dan juga yang lainnya.
Sasa mulai mencari barang-barang yang akan ia beli, mulai dari kebutuhan rumah sampai dapur. Sabrina hanya mengikuti kemana mertuanya berjalan.
"Eh ya ampun si Timmy sama si Tayo ngapain di situ, emang suami mereka gak nyari apa?" ucap Sasa.
Sabrina yang mendengar Timmy dan Tayo mengira jika di sana ada Anggi dan Yura. Tapi setelah matanya berkeliling ia tak melihat orang yang di maksud Sasa.
__ADS_1
"Dimana Aunty Timmy dan Yura?" tanya Sabrina.
"Itu di etalase," jawab Sasa yang memperlihatkan sebuah boneka bus kecil ramah dan boneka anak kambing lengkap dengan dotnya, astaga Sabrina lupa jika mertuanya ini makhluk ajaib yang terjebak di dunia nyata. Ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saat melihat benda yang ditunjuk Sasa.
"Sabrina, kita belanja kebutuhan dapur dulu yuk," ajak Sasa.
"Iya Mih ..."
Sabrina mulai mengikuti Sasa sambil mendorong troli yang baru sedikit terisi barang yang Sasa beli.
"Sabrina, tolong cariin Papi ya soalnya Rasya suka banget makan Papi," ucap Sasa, ucapan Sasa membuat ginjal Sabrina terkejut. Kenapa mertuanya ini meminta ia mencari Papa mertuanya yang akan di makan oleh suaminya.
"M-maksud Mami?" tanya Sabrina gagal paham, jujur ia masih belum mengerti dengan apa yang di maksud oleh mertuanya yang ajaib ini.
Bukannya menjawab Sasa malah tertawa melihat Sabrina, " Ya ampun, kamu belum paham ya sama yang Mami maksud," ucap Sasa dengan wajah tanpa dosa, walaupun sudah membuat jantung menantunya bingung.
"Maksudnya Mami, tolong cariin Abon. Soalnya kan Papi itu manusia Abon," ucapnya tergelak. Menertawakan suaminya yang kini tak sedang bersamanya. Hingga membuat telinga Ramon panas bahkan berdengung saat di kantor.
Kembali ke pusat perbelanjaan, di sana Sabrina mulai mencari papi mertuanya. Maksudnya makanan kesukaan suaminya wwkkwkwk. Dan setelah menemukan makanan itu. Ia pun segera memberikannya pada Sasa.
"Yang ini Mih?" tanya Sabrina sambil menunjukkan beberapa merk mertuanya pada Sasa.
"Wahhh ada yang baru rupanya, ambil masing-masing tiga aja," Sabrina pun kemudian mengambil seperti yang Sasa inginkan. Dan kemudian mengikuti lagi kemana Sasa melanjutkan perburuannya. Ternyata belanja dengan mertuanya ini selain membuat jantung bingung tapi juga bisa membuat ginjal tertawa, itu karena tingkah Sasa yang sangat lucu.
"Sabrina, kalau kamu mau belanja tinggal ambil aja ya,"
"Iya Mih,"
"Hei ... hei lihatlah siapa ini, ternyata ada orang desa yang mendadak menjadi orang kaya," terdengar suara seseorang yang Sasa dan Sabrina tidak kenal. Seseorang yang sudah sangat terlupakan dalam kehidupan Sasa. Bahkan ia lupa siapa sebenarnya perempuan yang barusan memanggilnya.
__ADS_1
Sasa dan Sabrina pun menghentikan langkahnya, dan kemudian melihat perempuan yang memanggilnya barusan.
"Siapa ya?" tanya Sasa, karena jujur saja, ia memang lupa siapa perempuan yang kini ada dihadapannya ini. Otak Sasa yang sebesar jantungnya itu, tak sanggup mengingat-ingat orang yang pernah singgah di kehidupan masa lalunya.
"Perempuan itu berdecih saat Sasa menanyakan siapa dirinya, lupakah ia jika selama bertahun-tahun ia harus menerima hukuman dari Ramon karena sudah melukai Sasa.
Luka yang menurutnya tak seberapa jika dibandingkan dengan luka yang Sasa dan Ramon torehkan di hatinya. Bahkan luka itu belum sembuh dan masih menganga sampai sekarang. Karena luka itu selalu ia jaga, agar tetap terasa dan ia bisa membalas dendam pada orang yang sudah membuatnya menderita.
"Bisa-bisanya kau melupakanku! Setelah Kau menghancurkan hidupku! Dasar wanita kampung tidak tahu diri!"
"Hei jaga bicaramu! jangan kurang @jar!" sentak Sabrina yang tak suka saat ada orang yang menghina mertuanya.
"Kau yang jangan kurang aj@r! Bicaralah yang sopan pada orang yang lebih tua!" balasnya.
"Jangan teriak sama menantu aku ya! Atau enggak aku bakal robek mulut kamu!" sentak Sasa yang juga tak terima menantunya dibentak oleh orang yang tidak ia kenal sama sekali.
"Woooww, aku sangat takut sekali. Sangat takut ..." ejeknya.
"Kamu teh siapa sih?"
"Coba ingat-ingat kembali wajah ini. Wajah yang dulu kau buat menderita. Wajah yang harus kehilangan kebebasan dan kebahagiaannya karena wanita kampung sepertimu! Dan aku berjanji, aku akan membalas semua yang kau dan Ramon lakukan padaku!"
"Siapa Mih? Siapa wanita jahat ini?" tanya Sabrina yang penasaran dengan perempuan yang seumuran dengan mertuanya ini. Malah terlihat lebih tua sebenarnya.
"Tunggu dulu, Mami inget-inget dulu dia teh siapa," ucap Sasa, sambil terus memandang wajah wanita itu. Beberapa menit kemudian otak Sasa pun langsung sinkron dan kini ia ingat siapa saja wanita jahat ini.
"Ya ampun, sekarang aku ingat siapa kamu," ucap Sasa antusias, karena otaknya yang kecil itu mampu mengingat orang di masa lalunya, wanita itu tersenyum sinis saat melihat Sasa.
"Siapa Mih?" tanya Sabrina penasaran.
__ADS_1
"Aku baru inget kamu Sapi kan, mantannya A Abon?
"Apa? Sapi?"