Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
Bab 37


__ADS_3

"Aku bilang sebentar lagi kau akan mendapatkan cucu, jadi jangan marah-marah. Aku takut jantungmu nanti bermasalah, dan membuat umurmu jadi pendek. Hingga akhirnya kau tak bisa melihat cucumu," ucap Rasya.


"Dasar menantu tak berakhlak, jadi kau menghamili putriku?" tanya Bagas, dengan kesal.


"Menghamili putrimu itu sudah menjadi tugasku Papa mertua," jawab Rasya dengan sangat santai.


"Oh astaga aku tidak bisa membayangkan jika aku akan mempunyai cucu abon gurih darimu,"


Ramon hanya terbahak melihat Bagas yang terlihat kesal dan juga frustasi, Ramon bahagia melihat Bagas yang selalu sok perpect itu akhirnya akan mempunyai keturunan abon, yang gurih-gurih menyebalkan, seperti anak dan juga istrinya.


Begitu juga dengan Rasya yang senang melihat mertuanya kesal, sekali-sekali makhluk pelit ini memang harus olahraga jantung pikir Rasya.


"Kalian anak dan ayah yang sangat menyebalkan," ucap Bagas, menghembuskan napas kasar sembari memijat kepalanya yang terasa sakit, akibat harus menghadapi besan dan menantu yang kurang waras.


"Terima kasih atas pujiannya, kami memang ayah dan anak yang kompak," ucap Ramon.


"Iya, kalian memang kompak dan sama-sama gila!"


*


*


*


Hari sudah siang dan Sabrina pun mulai membuka matanya, ia terlelap lagi tadi karena merasa lemas. Tapi sekarang perutnya terasa lapar, bagaimana ia merasa tak lapar jika ia melewatkan sarapan dan kini waktu sudah memasuki waktu makan siang.


Sabrina pun bangun dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan kemudian ia akan menyiapkan makan siang. Ia sudah terbiasa mandiri jika berada di rumahnya, lagi pula di rumahnya ia tak mempunyai banyak pelayan seperti di rumah mertuanya.


Sabrina berjalan dengan perlahan karena bekas serudukan pisang tanduk Rasya masih terasa. Ia tak melihat jika mertuanya yang sedang menonton aplikasi tok-tok melihat Sabrina yang berjalan menuju arah dapur.


Sasa tahu jika menantunya ini pasti merasa lapar, untuk itu ia mengikutinya untuk membuatkannya makanan. Karena ia juga belum makan siang, jadi ia akan mengajaknya makan siang bersama sambil mencari informasi lagi tentang hubungan mereka berdua.


"Sabrina, kamu mau makan?" tanya Sasa sambil berlari mengikuti Sabrina dari belakang.


Sabrina pun berbalik dan melihat kearah Sasa, ia merasa malu karena sudah bangun sangat siang dan kini ia malah langsung ingin makan.


"Iya Mih, maaf aku bangun terlalu siang," jawab Sabrina merasa malu pada mertuanya ini.


"Gak apa-apa, santai aja sama Mami mah lagian di rumah juga mau apa. Mami juga bosen, eh ngomong-ngomong kamu kenapa kok jalannya kaya bebek abis disunat?" tanya Sasa yang melihat jika Sabrina memang agak lain cara berjalannya hari ini.

__ADS_1


Ditanya seperti itu oleh sang Mami mertua membuat Sabrina agak bingung dalam menjawabnya, pasalnya Mami mertuanya ini adalah manusia langka. Jadi, ia takut sekaligus malu jika sampai Sasa tahu kalau semalam ia baru saja belah semangka dengan anaknya.


"I-itu, tadi ...?"


"Kamu bisulan?'


"A-pa?"


"Oh ya ampun, jadi kamu teh bisulan jadi makanya kaya bebek?"


Astaga, bahkan otak micin yang gurih itu sampai hati mengatakan jika ia bisulan. Padahal, ia merasa sakit dan juga tak nyaman gara-gara pisang tanduk milik suaminya. Tapi, Sabrina juga tak mungkin mengatakan pada Sasa jika semalam ia baru saja main jungkat-jungkit. Jadi ia memiilih untuk mengiyakan saja kata-kata mertuanya yang mengatakan jika ia sedang bisulan.


Sabrina pun hanya mengangguk saja, untuk menghindari pertanyaan yang aneh-aneh lagi dari makhluk micin dihadapannya.


"Ya udah ayo Mami bantu siapkan makan siang, kasihan banget kamu lagi bisulan masa harus masak," ucap Sasa simpati pada dugaannya sendiri.


Mendengar Sasa bicara itu lagi, ingin sekali rasanya Sabrina menjedotkan kepalanya ke tembok karena merasa sangat malu.


*


*


*


Ia pun kini menerima perjodohan yang akan dilakukan oleh orang tuanya. Danisa mengatakan jika ia akan menjodohkan Deo dengan salah satu anak sahabatnya. Deo pun setuju karena ia pun tak mempunyai kandidat calon istri, dan salah satu cara untuk melupakan Sabrina adalah dengan menerima seseorang yang akan ia jadikan pengganti. Dan itu adalah anak dari sahabat Mami kesayangannya.


Deo sangat percaya dan menyerahkan semuanya pada Danisa, ia sangat percaya pada Maminya yang memang selalu memberikan yang terbaik untuknya.


"Acaranya nanti malam," tiba-tiba saja David datang dan duduk dihadapannya.


"Acara apa?" tanya Deo yang masih fokus pada pekerjaannya. Hingga David berdecak sebal mendengarnya.


"Kau lupa, jika nanti malam adalah acara perjodohanmu?"


"Ah iya maaf, aku tidak bersemangat karena aku akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai,' jawabnya dengan acuh.


"Awas saja jika nanti kau berubah pikiran! Dan mempermalukan kami,"


"Tenang saja aku tidak akan melakukan hal itu, aku hanya merasa agak malu. Karena pria tampan sepertiku harus mendapatkan jodoh dengan bantuan kalian. Aku merasa harga diriku sedikit tumpah," jawab Deo lemas. Dan sejenak menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah David.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan, bahkan penguin si anak unta saja dijodohkan dengan anak bis kecil ramah. Dan mereka kini sangat bahagia. Lagi pula Mamimu yang baik hati itu sudah menjamin, jika gadis yang akan dijodohkan denganmu itu adalah gadis yang sangat cantik. Dan juga dari keluarga baik-baik,"


Deo hanya mengangguk pasrah dengan apa yang dikatakan oleh David, keadaannya sudah seperti ini, tak mungkin jika ia mundur dan mempermalukan orang tuanya. Jadi, mau tidak mau jika ia harus menerima perjodohan ini. Sudah kepalang basah, lebih baik ia tenggelam saja.


*


*


*


Akhirnya malam pun tiba, dan kini keluarga 3D itu sudah siap untuk pergi ke rumah sahabatnya Danisa, yang putrinya akan ia jodohkan dengan Deo.


"Deo sayang, wajahmu jangan ditekuk seperti itu. Kau terlihat sangat jelek," ucap Danisa dengan sangat lembut pada putranya itu.


"Oke Mam, maaf,"


Tak lama setelah itu, kini mereka sudah sampai di depan sebuah rumah bergaya minimalis modern. Rumah yang sangat asri dan juga sangat nyaman.


Danisa pun menekan bel rumah itu, dan tak menunggu lama ada seorang perempuan cantik yang usianya tak beda jauh dengan Danisa. Hanya saja ia jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Danisa yang mungil.


"Danisa, ya ampun akhirnya kau datang. Aku pikir kau tidak mau datang," ucap perempuan itu sambil mencium pipi Danisa.


"Aku pasti datang, mana mungkin aku ingkar janji,"


"Ya sudah, ayo masuk. Hei Suneo ah tidak menyangka jika kita akan besanan," sapanya pada David.


"Jadi anakmu yang akan dikenalkan dengan putraku?" David hanya geleng-geleng kepala saja melihat perempuan yang sangat ia kenal ini.


Perempuan itu hanya tertawa dan kemudian ia pun memanggil putrinya yang akan ia kenalkan dengan Deo.


"Sebentar aku akan memanggil putriku dulu,"


"Inaya ..."


'*Kenapa namanya tidak asing di telingaku ... '


***


Sambil nunggu novel aku up, mampir di karya salah satu temen aku sesama author yuk, ceritanya pasti seru 🤗😘😘*

__ADS_1



__ADS_2