
Kris membantu ibunya duduk di sofa. Ia mengusap bahu beliau dengan lembut. Kania diam membisu. Ia tidak tahu harus bicara apa saat ini.
"Ma, Kris tahu, Mama, gak bisa terima Kania. Tapi, Kris sangat mencintainya. Tidak bisakah, Mama, memberi restu dengan tulus?" pinta Kris.
Ia menunjukkan raut wajah penuh permohonan pada sang ibu. Nyonya Tama yang masih menangis sesenggukan hanya bisa menggumamkan kata maaf.
"Maafin mama, Nak," ucapnya.
"Kris juga minta maaf. Jujur, Kris ingin belajar mandiri. Merasakan hidup berdua dengan Kania. Mama, pun dulu seperti itu, 'kan?"
"Iya. Mama mengerti. Mama minta maaf, ya. Mama hanya merasa, terlalu cepat membiarkanmu menikah. Mama terbiasa hidup berdua dengan kamu. Begitu Kania datang, mama merasa tersaingi," jawab Nyonya Tama.
Kris memeluk ibunya erat. Sementara Kania memutar bola matanya malas. Ia sangat tahu, bila wanita yang mendapat panggilan 'ibu' di depannya ini, jauh lebih licik dari pelakor.
Nyonya Tama pun melepas pelukan dan menatap Kania. "Maafin mama, ya, Kania," ucapnya kemudian. Nyonya Tama pun memeluk menantunya itu.
"Iya, Ma," jawab Kania.
Melihat mertuanya memainkan drama, Kania pun ikut memainkan perannya sebagai menantu yang baik. Entah bagaimana hasil dari pertarungan ini nantinya.
"Jangan senang dulu! Saya bisa membuatmu pergi dari hidup Kris dengan mudah," bisiknya pada Kania.
Selama beberapa detik tubuh Kania membeku mendengar ucapan ibu mertuanya. Otaknya pun buntu tak bisa berpikir. Sampai Nyonya Tama melepas pelukannya, Kania kembali tersenyum dengan paksa.
"Kris, mama bolehkan, main ke sini kalau bosan di rumah sendiri?" tanya sang ibu.
"Ya, boleh dong. Aku gak akan melarang mama datang." Kris tersenyum manis pada sang ibu.
***
Setelah kepergian mertuanya, Kania lebih banyak diam. Kris menyadari perubahan sang istri. Ia pun memeluk Kania erat.
"Kenapa, Sayang? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kris.
"Enggak kok. Aku cuma lagi capek aja," bohong Kania.
"Benar? Tidak ada yang kamu tutupi dari aku?" tanya Kris lagi.
Kania menganggukkan kepalanya. Sejujurnya, wanita itu tengah memikirkan, rencana apa yang sedang disusun sang mertua untuk menyingkirkannya. Apa lagi, Nyonya Tama terlihat percaya diri saat mengatakan hal itu.
"Udah malam. Kita tidur, yuk!" ajak Kris.
__ADS_1
Kania tersenyum mengiyakan. Mereka pun merebahkan diri di atas ranjang. Dengan cepat, Kris terlelap ke alam mimpi. Sementara Kania, masih tenggelam dalam pikirannya.
Apa yang sedang mama rencanakan. Kenapa perasaanku bilang, ucapannya tidak main-main? Seperti, akan terjadi sesuatu yang jauh lebih buruk, pikir Kania.
Sibuk dengan pemikirannya, Kania tidak menyadari waktu. Kini, waktu sudah menjelang pagi. Pada akhirnya, Kania benar-benar terjaga.
"Pagi, Sayang," sapa Kris yang sudah melihat Kania bangun.
Kania memeluk Kris dan menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Kenapa sulit sekali untuk memilikimu? Apakah kita akan terus bersama?
Kris merasakan ada yang berbeda dari sang istri. "Kamu sepertinya sedang gelisah. Ada apa, Sayang? Coba cerita sama aku. Jangan dipendam sendiri," ujar Kris.
Ia merapikan anak rambut Kania ke belakang telinga. Menatap wajah cantik sang istri dengan lembut.
"Aku masih ngantuk aja, kok, Yang," elak Kania.
Ia tak ingin, membuat sang suami membenci ibunya. Bagaimana pun, tidak ada ibu yang menginginkan kehancuran anaknya. Begitulah pikir Kania.
"Ya udah. Kamu mau tidur lagi? Ada kegiatan gak?" tanya Kris.
"Kebetulan gak ada," jawab Kania.
"Tidurlah. Dua jam lagi, aku bangunin kamu, ya." Kris mengecup kening Kania lembut.
***
Kania membuka mata, saat sebuah benda kenyal mendarat di pelipisnya. Perlahan, ia mulai tersadar dari tidurnya.
"Jam berapa ini, Yang?" tanyanya begitu melihat Kris di sampingnya.
"Hampir jam makan siang. Sekarang bangun, yuk!" ajak Kris.
"Loh, kami gak ada syuting?" tanya Kania heran. Tidak biasanya Kris masih di rumah pada jam seperti ini.
"Syutingku sudah selesai. Hari ini, aku ingin menikmati waktu bersama kamu," ujar Kris.
"Beneran?"
Kris menganggukkan kepala seraya tersenyum manis. Kania pun segera membersihkan diri terlebih dulu. Setelah lebih dari lima belas menit, ia sudah siap.
"Kamu mau nonton gak? Kebetulan, ada film bagus di bioskop hari ini." Kris menunjukkan film yang ingin ditontonnya.
__ADS_1
Seketika, raut bahagia di wajah Kania hilang. Film tersebut adalah film yang dibintangi oleh Crystal. Ada kekecewaan yang terbit di hati Kania.
"Aku lagi gak pengen nonton. Gimana kalau kita jalan-jalan ke pantai?" Kania mencoba untuk terlihat biasa saja.
Sejujurnya, sejak awal ia bertemu Crystal, ada kecemburuan yang timbul di hatinya. Apa lagi, Crystal adalah gadis yang diinginkan sang mertua untuk jadi menantunya.
Crystal juga terlihat berhubungan dekat dengan Kris. Wanita itu, tak segan menggandeng lengan Kris di depan Kania. Hal itu, membuat Kania berpikir, bila Crystal memiliki rasa yang tersembunyi untuk Kris.
"Pantai?" ulang Kris. "Boleh. Ayo!"
Mereka pun segera menuju mobil. Kali ini, Kris menyetir mobilnya sendiri. Mereka pun menuju pantai, tempat yang Kania inginkan.
"Kamu suka pantai?" tanya Kris. Saat ini, mereka dalam perjalanan menuju pantai.
"Iya. Kalau lagi badmood, aku suka pergi ke pantai untuk melepas penat. Setelah lebih rileks, semangat pasti kembali lagi," cerita Kania.
"Sebesar itu manfaat pantai?"
"Hmm."
Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk tiba di pantai. Jalan tidak terlalu macet karena masih dalam jam kerja. Kris bersyukur, mereka ke sana bukan di hari libur.
"Untung pantainya sepi," ucap Kris melihat sekeliling.
"Ya, iyalah, Yang. Ini masih hari kerja. Jadi, gak ada yang ke pantai. Aku lebih suka suasana begini. Lebih nyaman." Kania menggelayut manja di lengan sang suami.
Di tengah kemesraan mereka, ponsel Kris berbunyi. Kris melihat nama si penelepon.
"Crystal?" tanyanya.
Mendengar nama gadis itu, seketika membuat Kania kesal. Ia pun melepas lengan Kris.
"Kenapa?" tanya Kris. "Kecelakaan? Terus, Lo gak apa-apa, 'kan?"
Kris terlihat panik. Kania menatap datar sang suami. Sepanik itu kamu, Yang, dengar dia kecelakaan? Apa kamu sebenarnya cinta sama dia? Lalu, apa artinya aku untukmu? Kenapa kamu ingin menikah denganku?
Ada banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Kania. Terlebih, melihat kekhawatiran Kris saat ini.
"Ok. Aku ke sana sekarang." Kris memutus panggilan. "Sayang, kita ke rumah sakit sekarang, ya!" ajak Kris.
Tak ingin berdebat, Kania pun mengikuti keinginan Kris. Pria itu melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Saat mereka tiba, Kris bahkan melupakan Kania.
__ADS_1
Pria itu segera melesat menuju ruang rawat Crystal. Hati Kania terasa tertusuk ribuan jarum. Sakit sekali rasanya, gumam Kania.
Setetes air mata jatuh membasahi pipi wanita itu.