
Keadaan Rasya memang sudah membaik, akan tetapi ia merasa jika ada yang salah dengan indra perasa dan juga pengecapnya. Ia merasa jika makanan yang ia makan dan juga penciumannya selalu merasa tidak nyaman.
Seperti sekarang ini saat ini Siena dan Sabrina menyiapkan sup hangat untuk sarapan, mereka sengaja menyiapkan makanan itu untuk Rasya yang baru sembuh dari sakit. Akan tetapi, Rasya malah tidak mau memakannya. Menurut Abon gurih ini, aroma sup itu membuatnya mual. Hingga Sabrina pun merasa heran, karena ia merasa jika ia memasak dengan bumbu yang sama. Dan rasa sup itu juga enak menutupnya, tetapi kenapa suaminya ini malah mengatakan jika sup itu membuatnya mual.
"Sayang aku tidak mau sarapan ya," bisik Rasya pada Sabrina, sengaja ia berbisik karena takut terdengar oleh mertuanya yang pelit itu. Ia pasti akan memberikan siraman jasmani dan rohani pada Rasya, jika ia tak mau memakan sarapan, yang telah dibuat oleh dibuat dengan sepenuh hati oleh istrinya yang tercinta.
"Makan sedikit saja, kau tidak ingin Papa mengganti kau menjadi menu sarapannya kan?" bisik Sabrina.
"Tapi sayang ..."
"Aku suapi ya," bujuk Sabrina, ia tak ingin papanya yang selalu erosi itu marah pada suaminya.
"Baiklah," jawab Rasya terpaksa, semoga suapan dari tangan Sabrina mampu mengurangi rasa mualnya.
Sayangnya, rasa mual dan aroma tak nyaman yang ia rasakan masih terasa. Hingga ia ingin sekali menyelesaikan sarapan yang membuatnya tersiksa ini.
Melihat menantunya yang terlihat manja, bibir makhluk pelit ini tak kuasa menahan rasa gatalnya untuk berbicara. "Apa bayi Abon ini tidak bisa makan sendiri?" ejek Bagas, yang sebal melihat anak dan menantunya. Ia merasa kesal pada Sabrina yang selalu memanjakan suaminya itu. Menurutnya laki-laki itu harus kuat dan tidak lemah. Sepertinya ia lupa, jika sedang tak ada orang sisi manjanya pun selalu muncul, dan membuat Siena kewalahan melayani bayi pelit itu.
"Tidak bisa! Tanganku sedang sakit dan juga sangat lemas," jawab Rasya manja.
"Haaahh ... sudah menyebalkan, manja pula anak abon! Ingin rasanya aku memakanmu sebagai sumber proteinku pagi ini!"
"Aku ini tidak enak di konsumsi, kecuali dikonsumsi oleh istriku. Iya kan sayang," ucap Rasya semakin manja pada Sabrina, dan semakin membuat Bagas mual melihatnya.
__ADS_1
Sabrina dan Siena hanya diam saja melihat menantu dan mertua yang tidak ingin kalah ini. Mereka terlalu malas untuk membuat mereka berdua rukun. Karena itu adalah hal yang sangat percuma.
"Sudahlah, cepat habiskan makananmu,"
"Baik sayangku!"
"Siena ambilkan kantung muntah untukku!"
"Bagas jangan mulai!"
*
*
*
Untungnya, ia masih bisa mengendalikan diri dan hanya bisa menikmatinya lewat pandangan matanya saja. Tak apa, itu cukup mengobati rontaan gagang sapu miliknya, yang akhir-akhir ini selalu berbuat nakal jika melihat Inaya.
Tampilan Inaya yang selalu menggodanya membuat Deo harus menahan hasrat setiap harinya. Padahal sebenarnya Deo bisa saja mengambil pakaian Inaya ataupun membelikannya. Namun, karena ia tak mau kehilangan kesempatan untuk melihat pemandangan indah yang ada pada istrinya. Deo memilih untuk pura-pura tidak memegang uang, dan pura-pura jika saat memesan makanan pun semuanya dibayar oleh David.
Padahal David sama sekali tak ikut campur dengan keuangan anaknya, itu hanya modus Doraemon saja yang suka melihat pabrik susu murni milik Inaya.
"Akhirnya, aku bisa berpakaian normal lagi. Beberapa hari ini aku sangat tersiksa," ucap Inaya.
__ADS_1
"Ya kau benar, aku juga sangat tersiksa beberapa hari ini," jawab Deo, kini mereka berdua sedang menikmati teh hangat untuk menikmati pagi terakhirnya di hari libur. Karena esok hari mereka berdua akan mulai kembali bekerja.
"Kau tersiksa? Tersiksa karena apa? Seluruh barang-barangmu semuanya ada di sini!"
"Apa kau pikir melihatmu dengan pakaianku, berjalan setiap hari didepanku dengan tubuh yang sangat seksi, itu tidak membuatku tersiksa? Aku sangat tersiksa tahu!"
"Tersiksa bagaimana maksudmu Dorayaki!"
"Oh astaga .... Hei Tinky Winky! Kau pikir melihat pabrik susu murni milikmu setiap hari tidak membuatku tegang?"
"Tegang?"
"Iya tegang! Dan aku juga kesakitan, coba saja kau berbaik hati membiarkan aku meminumnya. Mungkin aku tak akan sesakit ini,"
"Apa! Dasar makhluk gila!
Inaya jadi merinding membayangkan Deo menjadi bayi besar, yang meminta minum susu darinya.
Astaga ...
****
Hai sambil nunggu novel ini up mampir di karya temen aku ya 🤗😘😘
__ADS_1