Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
bab 11 Pindah rumah


__ADS_3

Kania dan Dirga di sambut hangat di perusahaan itu. Nyonya Louis dan putranya, juga hadir di sana. Setelah kesepakatan dicapai, Kania menandatangani surat kontrak tersebut.


"Selamat, ya. Mulai sekarang, kamu adalah brand ambasador dari produk perhiasan kami. Tidak hanya itu, kamu juga akan membintangi iklan, dari setiap produk kami yang lain. Eksklusif," ucap Nyonya Louis.


"Terima kasih, Nyonya sudah mempercayakannya pada saya. Semoga, kerjasama kita bisa berjalan dengan lancar." Kania menyambut uluran tangan Nyonya Louis.


Namun, wanita paruh baya itu justru memeluknya. Tak disangka, ada beberapa wartawan yang meliput hal itu hingga akhirnya, berita tersebut diketahui Nyonya Tama.


Nyonya Tama memandang sinis menantunya. Saat ini, ia sedang mengadakan rapat internal dengan para kepala manager.


"Jadi, brand ambasador dan iklan lainnya di tolak?" tanya Nyonya Tama pada mereka.


"Benar, Nyonya," jawab salah satu dari mereka.


"Dan sekarang, mereka justru memilih artis yang bahkan namanya saja tidak dikenal masyarakat. Sayang sekali."


Para kepala manager menundukkan kepala. Mereka takut, Nyonya Tama akan melampiaskan kekesalannya pada mereka. Namun, nyatanya ia tak melakukan hal itu.


"Tidak masalah. Sekarang, kalian boleh bubar." Wajah Nyonya Tama terlihat datar.


Para kepala manager segera keluar dari ruang rapat. Mereka tak ingin, bila Nyonya Tama berubah pikiran.


***


Mobil yang dikendarai Dirga berhenti tepat di depan rumah mertuanya. Kania pun berpamitan pada managernya.


"Makasih, ya, Mas, udah nganter aku. Sampai jumpa besok," pamit Kania.


Dirga hanya mengeringkan sebelah matanya. Kemudian, melajukan mobil menjauh dari kediaman keluarga Tama. Setelah mobil Dirga menghilang, Resti pun melangkah masuk.


"Sudah sore seperti ini baru pulang?"


Suara itu membuat Kania menoleh. Di ruang tamu, ibu mertuanya sudah menanti. Kania menghampiri Nyonya Tama. Begitu mereka berhadapan, tangan Kania dicengkeram dengan kuat.


"Apa yang kamu lakukan, sampai keluarga Louis memilihmu menjadi brand ambasador mereka?" desis Nyonya Tama.


Kania merasa bila tangannya sangat sakit, akibat cengkeraman sang mertua. "Sakit, Nyonya," ucap Kania.

__ADS_1


"Hah, ini tak seberapa." Nyonya Tama menarik kuat tangan Kania.


Beberapa kali Kania mencoba memberontak. Namun, tenaganya kalah kuat. Saat ini, Nyonya Tama dalam keadaan marah. Karena itu, tenaga jauh lebih besar dibanding Kania.


"Kau lebih memilih pekerjaan itu dibanding tugasmu sebagai istri dan menantu?" tanya Nyonya Tama.


Saat ini, Kania diseret ke tepi kolam renang. Raut wajah Nyonya Tama, terlihat sangat marah. Entah apa yang terjadi di kantor, hingga ia meluapkan amarahnya pada Kania di rumah.


"Jawab!" sentak Nyonya Tama.


"Tentu saja aku tahu tugasku sebagai istri. Anda, bilang apa? Menantu? Apa pernah, Anda, menganggap saya menantu di rumah ini? Bukankah, Anda, hanya menganggap saya pembantu gratisan?" Nada suara Kania terdengar sedih.


Nyonya Tama terbahak mendengar ucapan Kania. "Dasar bodoh! Apanya yang gratisan, bila kau tak berkontribusi apa pun di rumah ini? Aku yang memberimu makan. Aku juga memberimu uang belanja dan jajan. Jadi menurutmu, gajimu yang kecil itu bisa memenuhi kebutuhan rumah ini?" ejek Nyonya Tama.


Kania terdiam. Hanya air matanya yang mengalir. Ia tahu, bagaimana pun ia membela diri, Nyonya Tama tidak akan pernah menyukainya. Ucapan Dirga kembali terngiang.


Aku harus bicara dengan Kris. Semakin lama, aku semakin tidak tahan dengan sikap ibunya, gumam Kania dalam hati.


Tak mendapat jawaban dari Kania, Nyonya tana pun mendorong wanita itu hingga terjatuh ke kolam renang. Suara teriakan Kania cukup melengking di telinga orang yang mendengarnya.


"Bersihkan pikiranmu dari hal negatif!" titah Nyonya Tama. Ia pun berbalik meninggalkan Kania di kolam. "Menantu? Dia pikir aku akan menganggapnya menantu? Hah! Bodoh. Dia tidak pantas menjadi menantuku," umpat Nyonya Tama kesal.


***


"Sayang, ayo, makan dulu!" ajak Kris.


Pria itu membawakan nampan berisi makanan untuk Kania. Ia pun menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Kanis mulai menyantap makan malamnya.


Baru beberapa suap, Kania tak lagi sanggup menelannya. Kris terus berusaha membujuk sang istri hingga akhirnya Kania membuka mulut. Belum juga makanan itu masuk ke perut, Kania sudah terlihat akan muntah.


Wanita itu berlari menuju closet. Ia memuntahkan isi perutnya. Kris membantunya dengan memijit tengkuk Kania. Kini, tubuh Kania semakin lemas. Ia bahkan tak sanggup untuk berdiri.


"Kamu kenapa sih, Sayang? Pagi tadi baik-baik aja kok. Kenapa sekarang jadi begini?" tanya Kris bingung. Pria itu pun menggendong sang istri ke tempat tidur.


Ia merebahkan tubuh Kania dan menyelimutinya. Rasa cemas terpancar di wajah tampan Kris.


"Kita ke dokter aja, ya!" ajak Kris.

__ADS_1


"Gak apa, Yang. Aku cuma kecapean aja. Masuk angin juga. Istirahat juga sembuh, kok," tolak Kania.


"Yakin? Udahlah, pekerjaan rumah kamu serahin ke pelayan aja. Kamu, 'kan udah capek syuting, jangan tambah lagi dengan pekerjaan rumah tangga. Gak masalah, kok." Kris benar-benar mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Iya, Yang." Kania memeluk pinggang sang suami. "Yang," panggil Kania.


"Hmm," sahut Kris lembut. Pria itu memainkan rambut sang istri yang tergerai.


"Gimana kalau kita pindah dari rumah mama?" tanya Kania hati-hati.


Kania menatap sang suami. Ingin tahu, respon yang ditunjukkan Kris. Pria itu pun menatap sang istri. Ia terlihat tidak terkejut sedikit pun.


"Oke!" jawab Kris.


Semudah itu dia menerima permintaanku? Apa aku gak salah dengar? gumam Kania.


"Kebetulan, aku sudah cari rumah untuk kita tinggal. Tapi, untuk saat ini sedang tahap renovasi. Apa kamu mau kita bertahan di sini dulu, atau tetap pindah?"


"Renovasi?" ulang Kania.


Kris menganggukkan kepala. Kania tak langsung menjawab pertanyaan sang suami. Ia takut, Kris aka tahu bila hubungannya dengan sang mertua tidaklah baik.


"Apa renovasinya masih lama?" Kembali, Kania bertanya.


"Mungkin, sekitar tiga sampai enam bulan lagi. Kalau memang kamu sudah tidak nyaman di sini, kita bisa pindah ke apartemen dulu."


Kedua mata Kania berkaca-kaca mendengar ucapan sang suami. Kris terkejut melihat air mata yang akan menetes dari sudut mata sang istri.


"Loh, kenapa nangis, Sayang." Kris memeluk Kania. "Aku paham, bagaimana perasaan kamu. Aku juga mengerti keputusan kamu yang ingin membantu membereskan rumah. Kamu pasti merasa gak enak, 'kan sama mama?"


Mendengar ucapan Kris, Kania akhirnya tahu bila pria itu salah paham. Baguslah Kris tidak tahu apa yang terjadi. Paling tidak, aku bisa menjaga hubungan mereka untuk tetap harmonis.


"Makasih, ya, Yang, kamu udah ngertiin aku," ucap Kania.


"Iya, Sayang." Kris mengecup puncak kepala sang istri. "Berhubung Sabtu ini aku break syuting, gimana kalau kita pindah hari Sabtu?"


"Berarti besok?"

__ADS_1


Kris tersenyum mengiyakan. Kania memeluk Kris erat. Ia bahkan menghujani Kris dengan ciuman. Tentu saja Kris tidak menolaknya.


Semoga, ini keputusan yang tepat.


__ADS_2