Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
bab 5 Menikah


__ADS_3

"Bagaimana dengan keluarga Kania?"


Pertanyaan itu, membuat Kris dan Kania menoleh. Nyonya Tama tersenyum kikuk pada pasangan itu. Bukan rahasia lagi, bila Kania tengah mencari keberadaan orang tuanya.


"Mama tahu, Kania hidup sebatang kara saat ini. Tapi, bukankah Kania sedang mencari keluarganya?" lanjut Nyonya Tama.


Kania ikut menatap Kris. Hal ini juga yang menjadi pertimbangan Kania. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan Nyonya Tama. Kania memiliki keinginan, menikah dengan didampingi orang tuanya. Sebagai wanita, bukankah hal itu suatu kewajaran?


"Itu bukan suatu hambatan. Kita bisa menikah lebih dulu. Setelahnya, aku akan membantu Kania mencari orang tuanya." Kris terlihat yakin dengan ucapannya.


Suasana kembali hening di meja mereka. Nyonya Tama dan Kania, sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Kris yang melihat hal itu pun, menggenggam tangan kedua wanita yang ia cintai.


"Mama dan Kania tidak perlu khawatir. Sejak sekarang, aku bahkan sudah menyuruh orang mencaritahu keberadaan mereka," ungkap Kris.


Kania tak bisa menutupi keterkejutannya mendengar ucapan sang kekasih. "Benarkah?" tanya Kania memastikan pendengarannya.


Senyum dan anggukan yang Kris berikan, membuat Kania terharu. Diiringi tangis bahagia, Kania memeluk sang kekasih erat. Kris menyambut pelukan sang kekasih.


"Baiklah. Berhubung kalian sudah memutuskan, maka mama hanya bisa memberikan restu. Berbahagialah," ucap Nyonya Tama terdengar tulus.


"Terima kasih, Ma," ucap Kris bahagia.


"Terima kasih, Tante." Kania menatap haru pada Nyonya Tama.


"Karena kamu akan menjadi istri dari Kris, jangan lagi panggil 'Tante', ya. Panggil, mama." Nyonya Tama menggenggam tangan Kania yang ada di atas meja.


Anggukkan kepala Kania berikan sebagai jawaban. Kali ini, ia akan merasakan kasih sayang seorang ibu, meski bukan ibu kandungnya.


***


Hampir satu bulan berjalan, sejak lamaran dari Kris. Hari pernikahan keduanya sudah di depan mata. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang tua Kania ditemukan. Kania mulai berpikir, bila ia tak lagi mempunyai keluarga.


Namun, Kris tetap memberinya semangat. Sementara Nyonya Tama, tidak berkomentar. Akan tetapi, terbersit sebuah pemikiran dalam benak wanita paruh baya tersebut.


"Bagaimana jika pernikahan kalian dilangsungkan secara siri lebih dulu?" ungkapnya.

__ADS_1


Bukan hanya Kania yang terkejut mendengar ucapan Nyonya Tama. Kris pun, melakukan hal yang sama. Tepat saat Kris akan protes, Nyonya Tama melanjutkan ucapannya.


"Bukan maksud nama menghalangi keinginan kalian menikah. Tapi, Kania pasti ingin diwalikan langsung oleh ayahnya, 'kan?" Nyonya Tama menatap Kris dan Kania bergantian.


Mendengar itu, Kris mengalihkan tatapan pada calon istrinya. Sayangnya, Kania masih memikirkan ucapan calon ibu mertuanya. Genggaman Kris, menyadarkannya kembali.


"Tidak! Kris tetap akan menikahi Kania secara sah. Tidak masalah bila harus menggunakan wali hakim." Tidak ada keraguan yang terpancar dari wajah Kris.


Nyonya Tama hanya bisa menghela napas dalam. "Oke! Kalau begitu, jangan publikasikan pernikahan kalian pada awak media."


Entah apa maksud Nyonya Tama mengatakan semua itu. Mungkinkah ia tidak bisa memberi restu sepenuhnya? Lagi-lagi, kening Kris berkerut dalam. Sementara Kania, mencoba menebak maksud dan tujuan dari ucapan Nyonya Tama.


"Mama tidak menyetujui pernikahan kami?" Ada kemarahan yang terlihat di mata Kris.


"Bu-bukan begitu, Sayang," elak Nyonya Tama gelagapan.


"Lantas?"


"Begini." Nyonya Tama menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Kalian ini selebriti. Tidak menutup kemungkinan, berita pencarian orang tua Kania sudah mulai tersebar. Jika itu terjadi, akan ada banyak orang yang memanfaatkan keadaan ini. Apalagi, keluarga kita cukup ternama."


Sesaat, Kris dan Kania terdiam memikirkan ucapan Nyonya Tama. Secara logika, tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun, bagaimana cara mereka menjelaskan pada publik nantinya? Sampai kapan mereka akan menutupi hubungan mereka?


"Mama, benar. Kita tidak bisa gegabah." Kali ini, Kania ikut berkomentar.


"Lalu, bagaimana jika ada orang yang menuduh kita kumpul kebo atau semacamnya, sementara kita ini pasangan?" tanya Kris.


"Itu mudah, Sayang."


Kris dan Kania menoleh mendengar jawaban itu. Nyonya Tama tampak tersenyum pada mereka.


"Kalian bisa tinggal bersama mama."


***


Pada akhirnya Kris dan Kania memutuskan untuk menikah di KUA dengan wali hakim. Sampai detik ini, Kania tak juga menemukan petunjuk keberadaan orang tuanya. Rasa frustasi membuatnya menyerah. Kini, ia tak lagi berniat mencari mereka.

__ADS_1


Baginya, Kris dan Nyonya Tama, sudah menjadi keluarganya. Ia akan mengabdikan diri pada mereka. Baik sebagai istri, ataupun menantu. Terlebih, mereka tinggal dalam satu atap.


Ya, mereka telah mencapai kesepakatan yang sempat dibicarakan. Hanya beberapa orang, yang benar-benar mengetahui status pernikahan keduanya.


"Selamat, ya, Kania. Semoga kebahagiaan berpihak padamu kali ini," harap Dirga yang hadir di acara itu.


"Makasih, ya, Mas." Kania memeluk sang manager.


Ia bersyukur memiliki manager seperti Dirga. Pria itu, tak pernah mengeluh apalagi menyerah terhadap Kania. Hubungan mereka pun, sudah seperti kakak beradik.


"Oh, iya. Apa setelah ini Lo masih bisa kerja?" tanya Dirga.


"Belum tahu, Mas. Nanti, aku tanyakan sama Kris, ya." Kania menatap tak enak pada sang manager.


"Okey. Kabari secepatnya, ya. Gue mau atur jadwal kalo Lo masih bisa jadi artis," bisik Dirga sebelum berlalu.


Pria itu pun memilih pergi lebih dulu setelah melambaikan tangannya. Kania, menatap punggungnya hingga menghilang.


Malam harinya, Kania sudah berada di kamar yang ditempati Kris. Kamar bernuansa krem itu terlihat tertata rapi. Luas kamar itu, dua kali lebih besar dari apartemennya.


Tak lama, pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Kris yang baru selesai membersihkan diri. Kania tersenyum malu melihat tubuh bagian atas pria itu yang terbuka tanpa pakaian.


"Kenapa? Malu?" tanya Kris dengan mengungkung tubuh mungil sang istri.


Lidah Kania terasa kelu, saat ingin menjawab. Ia pun menganggukkan kepala sebagai jawaban. Tanpa sadar, sebuah benda kenyal mendarat di kening Kania. Wanita itu terjengkit kaget mendapati ciuman lembut Kris.


Wajahnya memerah bak saus tomat. Kris terkekeh melihatnya. Pria itu pun menyingkir ke dalam ruang wardrobe. Kania menepuk pipinya yang terasa panas.


"Astaga! Otakku traveling," lirihnya. Kania menepuk pipinya berkali-kali agar terbangun.


Kris kembali duduk di samping Kania, membuat wanita itu duduk kaku. Tubuhnya menegang, saat aroma shampo dan sabun menguar dari tubuh sang suami.


"Aku bahkan belum meminta hakku," goda Kris.


Kania menepuk lengan Kris pelan. Pria itu pun tertawa seraya menangkap tangan kecil sang istri. Kemudian membisikkan sesuatu di telinga Kania dan menggigitnya kecil.

__ADS_1


Tubuh Kania meremang sesaat. Perlahan, tetapi pasti Kris dan Kania melancarkan ritual malam pertama bagi pengantin baru.


__ADS_2