Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
bab 4 Lamaran


__ADS_3

Kris menggenggam tangan Kania yang ada di bawah meja. Pandangan mereka bertemu satu sama lain. Saling melempar senyum yang menenangkan.


"Ma, apa yang Crystal katakan benar. Kania, hanya belum mendapatkan peran yang sesuai dengan kemampuannya. Suatu saat, dia pasti akan sangat bersinar," bela Kris. Ia menatap lembut sang kekasih.


"Ok. Tante minta maaf, ya," ucap Nyonya Tama terdengar tulus.


"Iya, Tante, gak apa." Kania membalas dengan senyum yang sama. Kalau dia bisa bermain drama di depan Kris, aku pun bisa. Bukankah aku seorang artis?


Mereka pun memulai makan malam itu dengan canda tawa. Sesekali, Crystal membagikan pengalamannya pada Kania. Ia mengatakan, bila tahun pertamanya berakting sama dengan Kania.


"Kalau boleh tahu, kamu dari management apa?" tanya Crystal.


Saat ini, mereka sudah menyelesaikan makan malam dan berkumpul di ruang tengah. Crystal, sangat sering menghabiskan waktu luang dengan Nyonya Tama di rumah itu. Karena itu, Crystal sudah seperti berada di rumah sendiri.


"Tidak sebesar management yang menaungi kamu dan Kris. Masih terbilang perusahaan baru dan kecil. Tapi, aku nyaman," jawab Kania.


Entah mengapa, Kania merasa Crystal sangat tulus. Karena itu, Kania tak sungkan bicara dengannya. Mendengar jawaban Kania, Crystal menganggukkan kepala.


"Setahu aku, perusahaan yang baru merintis di bidang ini, hanya star xx."


"Kau benar. Star xx yang menaungi karirku." Kania membenarkan.


"Benarkah. Aku lihat, perusahaan itu memiliki artis yang cukup berbakat. Hanya saja, hampir keseluruhan artis yang mereka rekrut, masih baru. Sementara artis senior yang bertahan, hanya beberapa," ucap Crystal.


"Kau tahu banyak tentang management kami?"


"Pendiri management kalian adalah mantan managerku," sambar Kris.


Kania terkejut mendengar jawaban Kris. Ia tak menyangka, bila management yang menaunginya pernah menjadi bagian dari perusahaan management yang terkenal.


"Wow. Aku baru tahu," ujar Kania.


Obrolan mereka berlanjut terus. Kania melirik jam yang ada di dinding. Tak terasa, waktu berjalan cepat. Kania pun memilih berpamitan.


"Sudah malam. Besok aku ada syuting pagi. Sebaiknya, aku pamit sekarang," pamit Kania.


"Ah, iya. Aku juga harus pulang, Tante. Makasih, ya, udah ngundang aku makan malam." Crystal turut berpamitan.

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih juga sudah memenuhi undangan tante." Nyonya Tama menggenggam tangan Crystal hangat. Ia pun beralih menatap Kania. "Terima kasih, ya, sudah datang ke rumah ini," ucapnya pada Kania.


"Iya, Tante." Kania berusaha tetap tersenyum. Ia juga tetap mencium punggung tangan Nyonya Tama.


"Ma, aku antar Kania dulu, ya." Kris melakukan hal yang sama dengan kekasihnya. Mencium punggung tangan sang ibu.


***


Dalam perjalanan pulang, hanya keheningan yang menemani pasangan itu. Baik Kania atau pun Kris, tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka berdua, seakan tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Kania sendiri, sibuk memikirkan hubungannya dengan Kris yang terhalang restu. Ia sangat paham dengan cara bicara Nyonya Tama tadi.


Jelas dia tak merestui kami. Haruskah aku bertahan dalam hubungan ini? pikirnya.


Sibuk dengan pemikirannya, Kania tak sadar bila Kris sudah memanggilnya beberapa kali. Kania pun menoleh dan menaikkan kedua alisnya, saat merasakan sentuhan di pundak.


"Kenapa?" tanya Kania kemudian.


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" Bukannya menjawab, Kris malah berbalik tanya.


Pandangan Kania terlempar jauh. Ia menghela napas dalam sebelum menjawab pertanyaan Kris.


Wanita itu menatap dalam mata sang kekasih. Tidak ada keraguan yang terlihat di sana. Kris pun ikut menghela napas. Kedua tangannya menggenggam erat roda kemudi.


"Aku tahu. Aku juga merasakan hal itu. Sejauh yang aku tahu, mama tida pernah bersikap seperti tadi. Apalagi, di depan Crystal." Kris menundukkan kepalanya dalam.


Ternyata kamu menyadarinya juga, ucap Kania dalam hati.


Mobil yang dikendarai Kris, terhenti di depan apartemen sang kekasih. Keduanya kembali terdiam. Kania menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sesaat, lalu menarik napas dalam.


"Ada baiknya, kita tak lagi melanjutkan hubungan ini." Kania berucap lirih.


Mendengar ucapan Kania, membuat tatapan Kris beralih padanya dengan cepat. Pria itu menatap Kania dalam.


"Tidak bisakah kita memperjuangkan cinta kita? Kita bisa berusaha meyakinkan mama, tentang hubungan kita." Kris mencoba mempertahankan Kania.


"Kris, sesuatu yang sudah terlihat hasilnya, tidak akan bisa dirubah." Kania menyampirkan tasnya di pundak. "Mulai hari ini, kita jalani hidup masing-masing. Suatu saat, kamu akan menemukan wanita yang tepat." Kania segera keluar dari mobil Kris, tanpa menunggu jawaban pria itu.

__ADS_1


"Apa kau akan menyerah tanpa berusaha? Mama dan kamu, bahkan baru bertemu dua kali," teriak Kris.


Langkah Kania terhenti. Salah! Kami sudah bertemu tiga kali, ujarnya dalam hati. Namun, Kania tidak mengungkapkannya.


"Kau benar. Tapi, haruskah kita tetap mencobanya? Semua hanya akan menjadi sia-sia Kris." Kania terlihat sangat frustasi.


Kris memegang kedua bahu Kania. Menatap mata sang kekasih dalam. Kemudian, tersenyum lembut padanya.


"Bagaimana kalau kita mencobanya dulu. Paling tidak, satu bulan ini. Aku akan membuat kalian sering bertemu. Jadi, mama bisa mengenal dirimu dulu." Kris mendekap hangat Kania.


Kania membalas pelukan Kris. Menenggelamkan wajahnya di dada sang kekasih. Menghirup dalam aroma musk yang bercampur dengan keringat dari tubuh Kris. Kemudian, Kris merenggangkan pelukannya dan menatap Kania lembut.


"Setelah itu, aku ingin kita menikah," ucap Kris.


Sesaat, Kania terpaku dengan kata tersebut. Tidak pernah sedikit pun terbersit dalam pikirannya, untuk menjalin hubungan hingga ke jenjang pernikahan. Terlebih, saat mengetahui sikap ibu dari kekasihnya yang terang-terangan menolak dia.


"Menikah?" ulang Kania.


Kris menganggukkan kepala dengan senyum khas yang menambah pesonanya. Melihat senyuman Kris, Kania pun ikut tersenyum.


***


Kris menepati janjinya. Ia kembali mempertemukan Kania dan Nyonya Tama. Semakin lama, Kania menyadari sesuatu. Apa yang Kris katakan memang benar.


Mungkin, aku hanya kurang mengenalnya. Sekarang, sikap Nyonya terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Ma, aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap Kris.


Saat ini, mereka bertiga sedang makan malam bersama disebuah restoran. Kania menyeka bibirnya setelah menenggak segelas air. Ia ikut memperhatikan Kris. Cukup penasaran dengan apa yang akan kekasihnya sampaikan.


"Apa itu? Kenapa kelihatannya serius sekali?" Nyonya Tama menatap sang putra serius.


"Iya. Ini sangat serius," ujar Kris lagi.


"Kamu mau ngomong apa sih, Sayang?" timpal Kania.


Kris mengalihkan tatapannya pada sang kekasih. Kemudian, merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru. Kania membelalakkan matanya melihat kotak tersebut.

__ADS_1


"Malam ini, aku ingin melamar Kania untuk jadi istriku," ucapnya tulus.


Kania menitikkan air mata haru mendengar ucapan Kris. Ia tak menyangka, Kris benar-benar mengatakan hal itu. Tanpa keduanya sadari, raut wajah Nyonya Tama, berubah.


__ADS_2