Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
Bab 19


__ADS_3

Demi kerang - kerang yang ada di lautan, Inaya ingin memakan pria - pria yang ia temui. Kenapa semua pria tampan dan kaya mencintai Sabrina, kenapa semua pria tertarik pada Sabrina yang menurut Inaya gadis itu sangat pemilih. Dan tak pernah memperdulikan pria - pria yang mengejarnya.


Padahal jika dibandingkan dengan Sabrina, Inaya pun tak kalah cantik. Hanya saja jika Sabrina cenderung tertutup seperti Siena. Sedangkan Inaya terlalu agresif seperti Sintia. Jadi para pria tidak penasaran padanya, padahal dari segi wajah atau pun tubuhnya Inaya dan Sabrina tak berbeda jauh, karena ibu mereka sama-sama mantan model dulu.


"Ya ampun, sebenarnya mantra apa yang digunakan oleh Sabrina. Sampai - sampai semua orang terpikat padanya," gumam Inaya dalam hati, baru saja ia tahu jika pria yang bernama Deo pun sangat mencintai Sabrina. Meskipun Deo sama sekali bukan tipenya, tapi tetap saja jika Deo itu masuk kedalam jajaran pria tampan dan mapan, beruntung sekali sekali Sabrina dicinta banyak pria.


"Aku juga mau ..." gumamnya lagi.


"Kau mau apa?" suara Rasya tiba-tiba mengejutkan Inaya yang sedang berkhayal mempunyai seorang kekasih yang sangat tampan dan juga kaya raya.


"Aku ... aku mau makan steak. Ya aku mau makan steak, tapi sayangnya aku sedang diet," jawab Inaya kikuk. Hampir saja ia ketahuan mengumpat istri kesayangan bosnya ini. Untung saja saat itu matanya sedang melihat steak yang sedang di pesan oleh para pria tampan ini. Jadi ia bisa dengan cepat mengalihkan apa yang ia pikirkan dan ucapkan.


"Kalau kau mau pesan saja, makan steak satu kali tidak akan membuatmu sebesar sapi!" jawab Rasya, Inaya hanya mendelik kesal pada pria yang ia nobatkan sebagai calon suaminya ini. Namun, karena kebodohannya yang ingin menjebak Rasya. Malah Sabrina yang terjebak dengan Rasya, hingga mereka menikah. Huwaaaa ... jika ingat itu Inaya selalu ingin menangis tersedu - sedu, tapi sayangnya ia harus bisa menahannya agar tidak ketahuan.


Akhirnya untuk menutupi kebohongannya, Inaya pun kemudian memesan steak agar mereka semua percaya jika ia tergiur makanan yang berlemak itu. Makanan yang selama ini sangat ia hindari, tapi sayangnya kenapa makanan ini sangatlah enak. Hingga Inaya ingin merasakannya lagi dan lagi. Setidaknya perasaannya yang sedang kacau terobati oleh steak yang ia makan.


Dan Inaya yang lahap makannya itu mengundang mulut gatal Deo untuk berkomentar. "Kau makan seperti orang yang tidak makan selama satu minggu!" ejeknya.


"Inaya pun menghentikan kunyahannya sejenak dan melihat kearah Deo, "Kau bicara denganku?" tanya Inaya memastikan.


"Iya, memangnya siapa lagi orang yang makan dengan sangat lahap seperti dirimu. Apa kau tidak bisa makan dengan anggun?"

__ADS_1


"Tidak bisa, aku tidak bisa bersikap anggun jika aku sedang lapar. Perutku tidak akan kenyang jika aku makan dengan satu cubit-satu cubit. Sebenarnya aku ingin makan steak ini dengan nasi. Tapi aku tidak enak padamu, karena mulut usilmu itu pasti gatal!" jawab Inaya sambil memakan potongan steak besar ke mulutnya.


Saat ini putri kesayangan sekretaris Ivan ini sedang membutuhkan tenaga yang besar, untuk menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Karena hatinya sedang dihantam habis-habisan oleh penyesalan karena kebodohannya.


"Woahhh, baru kali ini aku melihat seorang gadis yang tak tahu malu saat makan," ucap Deo menggeleng - gelengkan kepalanya. Namun, Inaya sama sekali tidak peduli dengan ucapan Deo. Ia terlanjur tak menyukai sifat pria yang baru ia lihat ini. Menurutnya Deo terlalu meremehkan orang jika bicara. Membuat Inaya hilang respect.


Setelah makan siang bersama, kini mereka pun kembali ke perusahaan masing-masing. Saat di jalan, Inaya terlihat melamun. Bukan kali ini saja Rasya melihat Inaya melamun. Akan tetapi akhir - akhir ini, asistentnya ini memang terlihat banyak pikiran. Ia sering kali melamun dan tak banyak bicara seperti seperti biasanya yang selalu ceria.


Dan hal ini pun menjadi perhatian Ivan, hingga ia berbicara pada Ramon. Apakah di kantor ia ada masalah dengan Rasya. Akan tetapi Rasya merasa jika ia memang tidak mempunyai masalah dengan Inaya. Bahkan Rasya tak memberikannya banyak pekerjaan. Karena ia tak mau menjadi bos yang kejam pada asistentnya. Apalagi Inaya seorang perempuan, Rasya tidak akan memporsir tenaganya.


"Inaya,!. panggil Rasya yang saat ini sedang fokus menyetir, terganggu oleh Inaya yang hanya diam sejak tadi.


"Kenapa?" jawab Inaya tanpa melihat kearah Rasya, jujur saja hatinya sakit melihat pria yang ia cintai menjadi milik orang lain.


'Hatiku yang sakit ...'


"Tidak, memangnya kenapa?" tanya inaya balik.


"Aku perhatikan akhir - akhir ini kau banyak melamun, apa kau tahu aku sampai ditegur oleh Papi karena dikira aku membuatmu tertekan," ucap Rasya.


'Aku memang tertekan karenamu, kau saja yang tidak peka,'

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, aku memang sedang banyak pikiran. Tapi ini tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan, jadi kau tenang saja," jawab Inaya sambil tersenyum, karena memang benar hal yang membuatnya tertekan adalah bukan karena pekerjaan yang diberikan oleh Rasya. Akan tetapi yang membuatnya tertekan adalah apa yang dilakukan oleh Rasya. Karena yang dilakukan oleh Rasya sangat menyakiti hatinya.


*


*


*


"Bagaimana hubunganmu dengan menantumu?" tanya Regan yang penasaran, dengan hubungan mertua pelit dan menantu pecicilan.


Bagas hanya menghela napas kasar, sejujurnya ia masih belum bisa membiasakan dirinya dengan kehadiran menantu yang tak diinginkan di rumahnya, akan tetapi mau tidak mau ia harus membiasakan diri. Karena jika tidak begitu, maka anak Abon itu akan membawa pergi putrinya. Karena saat ini putri kesayangannya sudah menjadi hak milik suaminya.


"Anda bisa menebaknya sendiri Tuan. Bagaimana perasaan saya saat ini," jawab Bagas.


"Kau tahu, aku ingin sekali tertawa melihatmu. Jarang sekali melihat hidupmu tertekan seperti ini," jawab Regan terbahak melihat ekspresi Bagas yang sedih tapi kesal. Ingin kasihan tapi ia lebih ingin tertawa melihatnya. Sejak dulu Regan memang bos durjana, sayangnya Bagas sangat betah bekerja dengannya dari mulai Bagas berstatus jomblo merana sampai menjadi suami dari Siena, dan kini ia menjadi papa Sabrina , jiaaahhhhh ....


"Tertawa saja Tuan, saya tidak akan melarang."


"Hei, kau ini perasa sekali. Apa kau sedang datang bulan?" ejek Regan lagi.


"Bagaimana caranya saya datang bulan Pak, jika saya hanya punya satu lubang. Anda bisa bayangkan, akan ada antrian nanti di dalam sana," jawab Bagas asal. Membuat Regan semakin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bagas.

__ADS_1


'Astaga ...jika saja dia bukan bos ku. Sudah aku buat sup ubur-ubur sejak dulu,' batin Bagas. Entah kenapa sedari dulu ia bisa betah dan sangat setia pada atasannya ini.


__ADS_2