
Kesedihan masih terlihat menggelayut di wajah Kania. Meski dalam kondisi terlelap, Dirga masih bisa melihatnya. Pria itu menghela napas kasar. Sejak awal mengenal wanita ini, Dirga sangat jarang melihatnya tersenyum, kecuali saat berakting.
Kebahagiaan seolah tak ingin menghampirinya. Sekali pun bahagia, semua itu hanya sesaat dirasakannya. Saat Kania akan menikah, Dirga lah orang yang paling berharap ia mendapatkan kebahagiaan itu.
Dering ponsel menyadarkan Dirga dari lamunannya. Pria itu memilih keluar dari kamar. Terlihat nama Kris di sana.
"Ada apa?" tanyanya ketus. "Sebelum aku memberitahumu tentang keberadaan Kania, bisa kita bertemu dulu?"
Dirga memutus panggilannya. Ia kembali ke kamar, untuk sekedar menatap Kania. Kemudian, menyambar jaket jeans yang tergantung di balik pintu. Tak lupa, ia mengambil kunci mobil dari laci.
***
Kris sudah duduk di hadapan Dirga. Mereka bertemu di rumah Kris dan Kania. Beberapa saat, kedua pria itu hanya saling terdiam.
"Di mana Kania?" tanya Kris memulai pembicaraan.
Bukannya menjawab, Dirga justru mencengkeram baju Kris dan menatapnya tajam. "Lo masih peduli, atau pura-pura peduli?" desis Dirga.
Kris menarik tangan Dirga yang mencengkeram kerah bajunya. "Apa maksudmu bicara seperti itu? Rasanya, tidak pantas orang luar ikut campur dalam urusan rumah tangga kami," ujar Kris.
"Oh, begitu menurutmu? Jadi, apa karena kau suaminya, lantas kau berhak untuk menghina dia?" pekik Dirga.
Sadar akan kesalahannya, Kris duduk terdiam. Ia tak bisa mengelak dari hal itu. Dirga tersenyum sinis melihat Kris tak berkutik.
"Kenapa? Lo gak bisa menjawab? Kalian hanya kenal dalam hitungan bulan. Entah benar Lo cinta sama Kania atau gak, hanya Lo yang tahu. Bahkan, Lo gak bisa lindungi dia dari nyokap Lo!" Dirga melanjutkan
"Pikirkan baik-baik! Apa lo benar-benar mencintai Kania, atau hanya sekedar main-main!" Dirga segera meninggalkan rumah itu. Ia bahkan tak berpamitan pada sang empunya rumah.
Selepas kepergian Dirga, Kris hanya duduk termenung. Ia baru tersadar, saat ponselnya berdering. Nama sang ibu muncul di sana.
"Iya, Ma," jawab Kris. "Aku tidak bisa ke sana sekarang." Kris kembali terdiam mendengarkan. "Ma! Crystal itu bukan tanggung jawabku. Cukup aku menjenguknya kemarin. Lagi pula, aku punya istri yang perlu diperhatikan."
Tak ingin mendengar ceramah sang mama, Kris memutus panggilan sepihak. Di sebarang sana, Nyonya Tama mengumpat kesal saat panggilannya diputus sepihak oleh Kris.
__ADS_1
"Semua ini gara-gara perempuan sialan itu! Seharusnya, aku singkirkan dia sejak awal!" geram Nyonya Tama.
Ia menggenggam ponselnya erat. Kemudian, ia kembali menelepon seseorang. Beberapa kali ia mencoba, tetapi hanya rasa kesal yang ia dapat.
"****! Dia malah mematikan ponselnya! Lihat saja, tidak akan aku biarkan dia semakin lama tinggal di keluargaku!" Nyonya Tama pun pergi dari sana.
***
Kania terbangun dari tidurnya. Ia mencoba untuk merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Entah berapa lama ia tertidur. Matanya menatap jam yang tergantung di dinding.
"Sudah jam tiga. Pantas perutku lapar," gumam Kania.
Wanita itu pun turun dari ranjang. Ia menuju ke dapur. Di sana, Dirga tengah menyiapkan makanan kesukaan Kania. Dengan mata berbinar, Kania duduk bergabung dengan managernya itu.
"Pasti Lo udah laper, 'kan?" tebak Dirga.
Kania menganggukkan kepalanya. Ia mengambil sepotong udang dengan jemarinya. Namun, Dirga memukul jemari itu, hingga udang tersebut kembali terjatuh ke dalam piring.
"Mas Dirga!" pekik Kania. Ia mengerucutkan bibirnya.
"Ih, mas Dirga, gak tahu aja asyiknya makan udang tanpa sendok. Apalagi, udangnya segede ini," ujar Kania.
Kembali, Kania mengambil udang tersebut dan langsung melahapnya. Raut wajah yang begitu menikmati, terlihat jelas.
"Pake nasi, biar kenyang!" Dirga mengendikkan nasi ke piring. Kemudian, meletakkannya di depan Kania.
"Thank you, Mas," ucap Kania senang.
Tanpa rasa sungkan, Kania melahap semua makanan yang tersedia. Beberapa bulan ini, Kania mengikuti selera Kris dan mertuanya. Ia melupakan, jika dengan menikmati makanan kesukaannya, ia bisa sedikit menikmati hidupnya.
"Lo gak berencana pulang?" tanya Dirga begitu Kania selesai makan dan mencuci piring.
Kania mengeringkan tangannya dengan lap yang ada di dekat wastafel. Kemudian, ia melangkah dan bergabung lagi dengan Dirga di kursi ruang tamu.
__ADS_1
"Mas, ngusir aku, ya?" tanya Kania dengan raut wajah sedih. "Cuma tempat ini yang gak diketahui Kris. Kalau aku kembali ke apartemen, dia pasti akan menemukan aku," lanjutnya.
"Dia gak akan nyariin Lo. Tenang aja!" Dirga menepuk bahu Kania.
"Dari mana, Mas, tahu?" Kania memicingkan matanya.
Melihat Kania yang menaruh curiga, Dirga berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Sesekali, ia melirik wanita itu dengan ekor matanya. Sayangnya, Kania terus menatapnya tajam.
"Ok! Gue tadi siang nemuin dia. Terus, gue maki-maki dia!" jujur Dirga.
Kania menghela napas lega. "Makasih karena, Mas, ada di pihak aku. Mas, bahkan gak sungkan membela aku. Aku beruntung punya Mas Dirga. Seandainya saja, Mas itu saudara kandung aku. Pasti aku akan bahagia," ucap Kania berkaca-kaca.
"Gak usah mellow! Udah sana, Lo mau ke apartemen atau pulang? Biar gue anterin." Dirga sengaja merusak momen keharuan di antara mereka.
"Dasar perusak suasana!" maki Kania. "Aku mau pulang aja. Aku rasa, aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Apa pun yang akan terjadi, aku harus menghadapinya, 'kan?" Kania tersenyum pada Dirga.
"Good girl," puji Dirga. Pria itu juga mengacak rambut panjang Kania. "Ayo, gue antar!" tawar Dirga.
Anggukkan kepala Kania berikan sebagai jawaban. Dirga segera mengambil kunci mobil dan jaketnya. Kemudian, mereka segera menuju mobil. Empat puluh lima menit kemudian, mereka tiba di rumah Kania dan Kris.
"Lo yakin?" Melihat Kania menganggukkan kepala, Dirga melanjutkan, "Kalau ada apa-apa, segera hubungi gue. Gue siap bantu Lo!"
"Iya, Mas. Makasih, ya," ucap Kania.
Ia pun turun dan melangkah masuk ke rumah. Dirga, terus mengawasi hingga Kania masuk ke dalam rumah.
Kania melihat Kris yang menopang wajahnya Engan kedua telapak tangannya. Ia menghampiri sang suami dan menepuk bahu Kris lembut. Seketika, Kris menoleh.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Kris yang langsung memeluk sang istri erat.
Kris bahkan menangis tersedu. Tak lama, pria itu melepaskan peluknya dan bersimpuh di kaki Kania.
"Mas, kamu apaan, sih?" ujar Kania terkejut.
__ADS_1
"Aku sadar akan kesalahan aku. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk berubah. Aku janji, kejadian kemarin tidak akan terulang lagi." Kris mencium punggung tangan Kania berulang kali.
"Janji? Kalau begitu, aku ingin kau menjauh dari Crystal, dan tak lagi berhubungan dengan dia, kecuali saat bekerja. Apa kau bisa?"