Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
Bab 34


__ADS_3

Melihat intreraksi antara Inaya dan juga Rasya, sedikitnya membuat Sabrina merasa cemburu.Ia melihat jika Inaya terlihat sangat dekat dengan suaminya. Dekat dalam arti jika mereka sama sekali tidak merasa canggung, dalam bersikap. Mereka sangat akrab layaknya sahabat, apalagi pembawaan Rasya yang ceria membuat siapa saja mudah dekat dengannya. Dan hal itu membuat perasaan Sabrina terganggu. Ia tidak suka jika suaminya dekat dengan oran lain.


Hingga sedari pulang kerja Sabrina uring-uringan, karena kesal. Membuat Abon ini pun bertanya-tanya. Apa ia mempunyai salah pada istrinya ini. Ia merasa jika semuanya baik--baik saja, dan bukankah tadi Sabrina merasa senang karena ia telah bekerja, seperti yang ia inginkan.


Saat makan malam pun, Sabrina tidak banyak bicara. Ia hanya bicara seperlunya saja. Ia memang berinteraksi seperti biasa pada Sasa dan Ramon, akan tetapi pada Rasya Sabrina terlihat acuh.


Rasya sudah tidak sabar ingin bertanya pada Istrinya ini, akan tetapi Ramon malah mengajaknya dulu ke ruang kerja karena ada hal yang akan ia bicarakan tentang pekerjaan. Membuat Rasya bertambah kesal saja, padahal ia sedang terburu-buru ingin bertanya pada Sabrina. Tapi jika tidak diikuti, Rasya takut jika namanya akan dihapus dari penerima warisan terbanyak. Sepertinya penyakit mata duitan dari mertuanya sudah menular padanya.


Sasa pun melihat ada yang tidak beres dengan menantunya ini, maka ia pun memutuskan untuk bertanya tentang apa yang terjadi padanya dan juga pada Rasya. Jujur saja selama ini Sasa merasa jika ada yang tidak beres dengan hubungan mereka.


Awalnya Sasa tidak mau bertanya karena itu adalah masalah pribadi putranya, akan tetapi sebagai seorang ibu ia tidak ingin hubungan rumah tangga putranya itu tidak ada masalah dan berjalan baik-baik saja. Ia tidak mau jika nanti Rasya akan menjadi duda kaya raya.


"Sabrina, Mami mau bicara apa boleh?" tanya Sasa pada menantunya yang sedang memainkan ponsel.


Sabrina tersenyum dan mengangguk, "Iya Mih, mau bicara apa?" tanyanya sambil menegakan tubuhnya,dan menyimpan ponsel agar ia bisa bicara dengan Sasa.

__ADS_1


"Begini Mami mau tanya, tapi kamu jangan marah ya?"


"Memangnya ada apa?" tanya Sabrina penasaran, sepertinya ada masalah serius yang akan dibicarakan oleh Sasa padanya.


"Sebenarnya selama kalian tinggal di sini, Mami perhatikan jika hubungan kalian ini masih belum baik-baik saja. Apa ada masalah?" tanya Sasa, kini Micin ini sedang dalam mode serius.


"Tidak Mih? Apa kami terlihat sedang ada masalah?" Sabrina mulai merasa tidak enak, apa sikapnya berlebihan karena ia kesal atau lebih tepatnya ia cemburu pada Inaya. Hingga mertuanya sampai menegur seperti ini, ya ampun Sabrina merasa sangat malu karena tidak bisa menjaga sikapnya. Tapi, sebaiknya ia tak boleh mengatakan hal itu pada siapapun. Ia takut semua orang jadi berpandangan buruk tentangnya, ia juga tidak mau jika orang lain berpandangan buruk pada Inaya hanya karena asumsinya saja. Lebih baik ia minta maaf saja pada Sasa. Namun, baru saja Sabrina akan meminta maaf Sasa kembali membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu yang membuat Sabrina shock jantung.


"Sabrina apa kamu sama Rasya belum pernah ehem-ehem, maksudnya kalian belum pernah bercocok tanam gitu?" mulut Sasa ini memang tanpa filter, jika bicara seperti buang angin kakek-kakek yang selalu berisik dan membuat terkejut. Hingga anak asistent pelit ini saja langsung terkena serangan ginjal dadakan gara-gara pertanyaan dari Micin ini.


Sabrina merasa malu dan menunduk, ia merasa jika selama ini ia memang salah karena telah berbicara di awal pernikahan jika ia belum siap kikuk-kikuk dengan Rasya. Akan tetapi sebenarnya saat ini bahkan dari beberapa minggu ke belakang ia sudah siap melakukannya. Hanya saja ia tidak berani memintanya duluan, dan Rasya pun tidak peka dan tidak pernah meminta. Padahal Sabrina sama sekali tidak keberatan, dan juga sebenarnya ia pun menginginkannya ehhh.


"Aahhh sudah kudugong, kalau kalian ini memang belum pernah ehheeeemmmmman," ucap Sasa geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir dengan anak dan menantunya ini. Jadi jika di kamar selain tidur apa yang mereka lakukan, bermain ular tangga? Kenapa tidak bermain-main kuda-kudaan saja pikir Sasa.


"Maaf Mih ..." Sabrina semakin menundukan kepalanya, ia berjanji malam ini ia akan meminta haknya pada Rasya. Jika perlu ia akan memaksanya, ya ... Sabrina sudah membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk Rasya. Untuk itu akan memaksa Rasya untuk membuka celananya malam ini, eh maksudnya pikirannya wkwkwkwk.

__ADS_1


"Tidak sayang, semua ini bukan salah kamu. Kamu nggak salah apa-apa, yang salah itu gagang sapu Rasya yang gak normal. Masa lihat gadis cantik dan seksi kaya kamu gagang sapunya cuma diam, emang gak normal itu Abon. Beda banget sama Papinya yang selalu On kalau lihat Mami," Micin ini geleng-geleng kepala mengetahui kenyataan jika kehidupan rumah tangga anaknya tak semulus wajahnya.


"Tapi, ini memang salah aku Mami. Waktu itu aku memang belum siap melakukannya. Mungkin Rasya merasa enggan jadi dia tidak memintanya," jujur Sabrina, tak apa mertuanya marah karena ini memang murni kesalahannya. Ia tidak mau jika Rasya disalahkan gara-gara masalah ini, tadi siang saja ia sudah mendapatkan ceramah dari Papa pelitnya karena ia bekerja, dan sekarang ia harus menerima asupan memusingkan dari bibir cerewet Sasa. Sabrina tidak setega itu membiarkan suaminya terus mendapatkan omelan dari orang-orang terdekatnya. Padahal Abon mini sendiri tak mempermasalahkannya, karena ia adalah tipikal orang yang tak mudah tersinggung dan selalu berpikir positif sama seperti Sasa ibunya.


"Ya tetep aja Rasya itu aneh, Mami jadi curiga kalau gagang sapunya melehoy. Memangnya gak ada keinginan gitu buat icip-icip gitu, kan aneh dengernya."


Sasa tidak tahu saja, jika selama ini gagang sapu milik Rasya selalu meraung-raung ingin berendam dan muntah pada tempatnya. Hanya saja karena ia sangat menghargai Istrinya ia pun hanya bisa menahannya saja.


"Sabrina, coba nanti kamu tes gagang sapu Rasya normal atau enggak. Mami jadi khawatir,"


"A-pa mengetes?" tanya Sabrina, ia tak habis pikir dengan ucapan mertuanya ini. Bagaimana cara mengetes gagang sapu itu On atau tidak, memangnya ada saklarnya pikir Sasa.


"Iya di tes aja dulu. Coba kamu tarik kalau teksturnya berubah berarti pisangnya normal,"


"Haaaahhhh ..."

__ADS_1


__ADS_2