Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
bab 3 Rumah Kris


__ADS_3

Kania menatap kosong naskah yang sedang ia baca. Sejak tadi, ia berusaha mengenyahkan ucapan Nyonya Tama dari pikirannya. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, setiap kata yang didengarnya tadi terus terngiang bak kaset rusak.


Wanita cantik itu memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Terdengar pesan masuk di ponselnya. Kania membuka mata dan menatap pesan yang dikirimkan sang kekasih.


Aku merindukanmu. Apa yang sedang kau lakukan? Isi pesan tersebut, membuat Kania tersenyum getir.


Pandangannya menerawang entah ke mana. Batin dan pikirannya mulai berperang. Satu sisi, ia ingin mempertahankan hubungannya dengan Kris. Sisi lainnya, ingin dia mengakhiri semua.


Aku memang mencintainya. Tapi, aku tidak ingin menjalani hubungan yang sudah jelas, akan menyakitiku nantinya, batin Kania.


Kembali, sebuah pesan masuk. Kania melihat Kris mengirimkan gambar. Ia pun mengambil ponsel itu dan membuka pesan dari sang kekasih.



Sepasang cincin cantik terpampang di sana. Angan Kania kembali melayang. Mungkinkah hubungan mereka akan sampai ke jenjang yang lebih serius? Dering ponsel menyadarkan Kania.


Mungkin, Kris tak sabar menanti jawaban darinya hingga segera menghubungi Kania. Dengan setengah hati, Kania mengangkat panggilan dari Kris. Di awali dengan sedikit basa-basi, Kris pun segera menanyakan pendapat Kania mengenai cincin itu.


"Bisa kita bahas nanti?" pinta Kania.


"Kamu kenapa? Kok, suaranya begitu?"


Kania tahu, Kris sedang mengkhawatirkannya saat ini. Wanita itu pun mencoba menetralisir perasaannya, agar tak membuat Kris curiga.


"Gak, kok. Aku cuma capek aja. Tadi, syutingnya sangat melelahkan," sanggah Kania.


"Yakin?"


"Iya." Kania terdiam sesaat. Sebelum Kris melanjutkan ucapannya, Kania lebih dulu bicara. "Kris, kita berpacaran baru sekitar dua sampai tiga bulan. Aku rasa, kita tidak perlu terburu-buru untuk menikah. Nikmati saja semua prosesnya," ujar Kania.


"Aku tahu. Tapi, kita bisa melakukan perkenalan lebih dalam setelah menikah, Sayang."


"Kris, aku lelah. Kita pending dulu pembicaraan ini. Selamat malam." Kania memutus panggilan itu sepihak.


Ia menghela napas dalam setelahnya. Wanita itu pun memutuskan untuk menjauhi Kris perlahan. Ia mengirimkan pesan pada sang manager. Meminta pria itu untuk tidak membeberkan jadwalnya pada Kris.


Beruntung, sang manager tak mempertanyakan alasan dirinya. Hal itu, membuat Kania merasa sedikit lega.


***

__ADS_1


Hampir dua minggu Kania menjauhi Kris. Sesekali, ia masih menanggapi pesan atau panggilan pria yang dicintainya. Namun, ia tak menyangka, bila pria itu justru mendatanginya ke lokasi hari ini.


Kania pun mencoba untuk tetap tersenyum pada Kris. Pria itu memeluk Kania erat. Tak peduli, bila di sana ada banyak kru dan artis yang melihat hal itu.


"Kris, ada banyak orang di sini. Aku malu," bisik Kania.


"Aku kangen sama kamu. Beberapa kali aku ajak ketemu, kamu selalu saja menolak." Kris berucap tanpa melepas pelukannya.


"Iya, maaf. Aku sibuk banget belakangan. Sampai gak ada waktu luang," jawab Kania. Entah Kris mempercayai alasannya atau tidak.


"Bukannya kamu selalu punya waktu libur dalam satu minggu?"


Rupanya, Kris mengingat hal sepele macam itu. Kania menoleh pada Dirga sang manager. Pria itu mengendikkan bahu tak tahu.


"Belakangan, aku sengaja gak ambil libur."


"Kenapa?" Dahi Kris berkerut dalam.


"Aku ingin menemukan orang tuaku secepatnya," jawab Kania dengan tersenyum.


Kris kembali memeluk Kania. "Apa karena aku sempat mengajakmu menikah kemarin?"


"Ya ... sebagian karena itu."


Kania menatap dalam mata sang kekasih. Terlihat kesungguhan di sana. Kris adalah pria yang begitu penyayang. Ia bahkan tak segan menunjukkan rasa cintanya pada sang kekasih di depan banyak orang.


Namun, Kania tak bisa menepis kenyataan, di mana orang tua Kris tak menyukainya. Haruskah aku mempertahankan cinta ini? Jujur, aku tak bisa jauh darinya.


Tanpa jawaban, Kania memeluk Kris erat. Sekuat tenaga ia menahan bulir bening yang ingin jatuh dari pelupuk matanya. Namun, semua sia-sia. Bulir itu tetap terjatuh dan membasahi pipi Kania. Bahu yang bergetar, membuat Kris menyadari bila sang kekasih dalam kondisi hati yang terharu.


"Ayo, ikut aku!" Kris menarik tangan Kania.


"Tapi ...." Ucapan Kania terhenti saat sutradara mengizinkannya pergi.


"Gak masalah. Scene kamu sudah selesai hari ini. Kamu boleh pulang lebih dulu." Seakan mengetahui apa yang ingin Kania katakan, sang sutradara lebih dulu memberikan izin.


"Makasih, ya, Bang," ucap Kania.


Mereka pun segera menuju mobil yang dikendarai oleh Kris sendiri. Beberapa kali Kania bertanya, ke mana Kris akan membawanya. Namun, pria itu hanya menjawab dengan senyum.

__ADS_1


Tak lama, mobil yang Kris bawa berhenti di depan sebuah butik. Kania mengikuti setiap langkah sang kekasih. Kris meminta Kania mencoba gaun yang sudah ia pilihkan.


"Ada acara apa, sih?" Kania tak mampu membendung rasa penasarannya lagi.


"Coba saja dulu!" titah Kris.


Pilihan Kris jatuh pada gaun cantik berwarna gold yang terlihat menawan di pakai Kania. Kemudian, ia meminta make up artis untuk merias kekasihnya. Dalam waktu singkat, Kania berubah menjadi seseorang yang berkali lipat cantik dalam balutan gaun tersebut.


Kris bahkan tak berkedip melihat transformasi dari sang kekasih. Beberapa detik kemudian, Kris tersadar dan segera menggandeng sang kekasih ke tujuannya.


Mobil kembali melaju membelah jalanan ibu kota. Mereka menuju rumah mewah, yang begitu megah. Kania menatap Kris dengan kedua alis terangkat.


"Ini rumahku. Tempat tinggalku bersama mama," jawab Kris.


Kania tahu Kris berasal dari golongan atas. Namun, ia tak menyangka, bila Kris termasuk konglomerat. Pantas saja Nyonya bilang aku gak layak mendampingi Kris. Rupanya, mereka berasal dari kasta yang berbeda denganku, gumamnya dalam hati.


Mereka pun masuk ke rumah mewah itu. Kris menuntun langkah Kania ke ruang makan. Di atas meja, sudah terhidang berbagai macam makanan bergaya barat.


Tak lama, wanita yang menjadi ibu kekasihnya muncul. Senyum seperti saat mereka bertemu, menghiasi wajahnya yang masih terlihat cantik. Tak hanya itu, seorang artis yang sangat cantik pun ikut menyertai langkahnya.


Wanita itu, menggandeng lengan Nyonya Tama. Kris hanya tersenyum pada mereka. Nyonya Tama pun mempersilakan Kania duduk.


"Halo, Kania. Bagaimana kabarmu?" tanyanya.


Namun, Kania tahu bukan itu yang ingin ditanyakan wanita di depannya ini. "Saya baik. Terima kasih, Tante, bersedia menanyakan kabar saya." Ia berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


"Oh, iya. Kenalkan, ini Crystal. Kamu pasti sudah mengenalnya, 'kan? Dia adalah pemain film dan drama. Tidak ada film dan dramanya yang tak booming."


Kali ini, Kania tahu maksud ucapan yang tersirat dari mulut wanita paruh baya itu. Ia ingin memberitahu Kania, bila wanita yang layak mendampingi Kris adalah Crystal.


"Ma!" tegur Kris.


"Tante, setiap orang punya keberuntungannya sendiri. Mungkin, Kania belum dikenal masyarakat. Suatu hari nanti, dia pasti bisa terkenal. Lagi pula, dia cantik," ucap Crystal yang terdengar membela Kania.


Entah Kania harus berterima kasih atau tidak. Wajah dan tatapan Crystal, terlihat sangat meyakinkan saat mengatakan semua itu.


Apa ini sebuah drama realita?


***

__ADS_1


Visual Crystal



__ADS_2