
Bagas merasa sangat kesepian karena Sabrina belum juga pulang ke rumahnya. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Sabrina dan juga Rasya melanggar dari peraturan yang ia buat, akan tetapi itu semua juga atas keinginan Sabrina. Bukannya ia tak mau dekat dengan papanya, akan tetapi itu ia lakukan agar papanya tidak mengomel pada suaminya. Jujur saja Sabrina takut jika ia sampai ditinggalkan oleh Rasya. Karena sikap Bagas yang sangat menyebalkan. Ia takut jika Rasya merasa lelah mempunyai mertua seperti Bagas.
Padahal bagi seorang Rasya yang memiliki pemikiran gurih seperti Maminya, Bagas bukanlah masalah besar untuk Rasya. Sifatnya yang menyebalkan dan juga bicaranya yang seperti petasan sama sekali bukan masalah. Rasya bisa dengan mudah mengatasi mertuanya yang merupakan spesies langka itu. Tak pernah ia masukan kedalam hati ucapan mertuanya itu, setiap perkataan Bagas yang pahit dan pedas, selalu ia telan bulat-bulat agar bisa ia cerna dengan baik oleh ususnya.
Dan hari ini mereka berdua kembali ke rumah Bagas untuk kembali tinggal di sana. Setelah satu bulan lamanya Sabrina tinggal bersama dengan suami dan para mertuanya yang gurih. Akan tetapi, selama itu bukannya Sabrina tak pernah bertemu dengan orang tuanya, hampir setiap hari mereka bertemu. Hanya saja mereka tak tinggal dalam satu atap itu saja.
Dan kabar itu sangat membahagiakan asistent pelit itu, ia sampai meminta Sabrina memasak makanan yang enak untuk menyambut pulangnya putri kesayangannya dan juga menantu tak pernah diharapkan.
Abon mini pun sampai merasa terharu, bahkan ginjalnya pun ikut tersentuh dengan penyambutan yang dilakukan oleh mertua durjananya ini. Sayangnya, sikap baiknya itu tak bertahan lama, karena hanya berselang beberapa jam kelakuannya yang menyebalkan itu kembali lagi. Sepertinya kebaikan yang ada dalam hati dan pikiran asistent pelit itu cepat sekali kadaluarsanya.
Untung saja mental putra mahkota Sasako ini sudah teruji ketahanannya. Mentalnya yang sekuat baja itu tak akan kalah hanya mendengar ucapan Bagas yang terdengar seperti angin lalu saja baginya.
"Hei kau Abon! Jangan bawa kabur lagi putriku. Apa kau tahu jika kami ini selalu merindukannya setiap hari," ucap Bagas, setelah makan malam kini mereka semua berkumpul untuk minum teh hangat bersama sebelum mereka semua tertidur.
Siena sampai mencubit perut Bagas yang keras, agar suaminya ini tak lagi cerewet. Padahal makhluk pelit ini sudah berjanji untuk tidak banyak bicara. Namun, sepertinya ia sama sekali tak peduli dengan apa yang istrinya peringatkan dan apa yang sudah ia janjikan sebelumnya.
"Aku tidak pernah membawa kabur putrimu, Pah," ucap Rasya dengan wajah yang sangat santai.
"Pah, aku ingin tinggal di sana atas kemauanku sendiri. Bukan karena Rasya yang memintaku atau bahkan memaksaku. Tapi karena aku merasa betah di sana," ujar Sabrina pada papanya.
Mendengar pembelaan putrinya pada sang menantu, membuat Bagas berdecak sebal mendengarnya. Ia tak suka jika Sabrina berada dipihak Rasya, meskipun Rasya adalah suaminya. Menurut makhluk pelit itu Rasya si anak Abon tak perlu dibela, karena pertahannya itu sangatlah kuat.
__ADS_1
Bertahun-tahun ia mengejar Sabrina tanpa menyerah bahkan ia tak merasa takut ataupun gentar pada dirinya, yang notabene banyak ditakuti banyak orang. Tapi ia selalu dengan gaya santainya mampu menghadapi Bagas. Entahlah, di sudut hatinya yang paling dalam Bagas mengakui keberanian dan juga kegigihannya. Hanya saja egonya yang terlalu besar tak akan pernah mau mengakui hal itu dihadapan siapa pun.
"Tentu saja kau pasti betah di sana, karena mertua yang gurih itu lebih menyenangkan dari pada mertua yang pelit, benar begitu kan menantu?' tanya Siena, sambil mendelik ke arah Bagas yang kebakaran bulu kaki.
"Kau ini kenapa malah membelanya?" protes Bagas pada istrinya.
"Karena kau sangat menyebalkan!"
"Oh astaga!"
"Sudahlah kau jangan cerewet, aku sudah bilang dari dulu, jangan hanya produksi satu anak. Karena suatu saat anakmu itu akan punya kehidupan masing-masing. Setidaknya kau tidak akan terlalu kesepian seperti sekarang. Biarkan mereka mempunyai kehidupan mereka sendiri. Sama seperti kita, kita juga mempunyai kehidupan kita sendiri, bukan? Jadi jangan usik kehidupan anak dan juga menantumu. Jangan jadi mertua durhaka!"
"Jadi, maksudmu kau ingin hamil lagi?" tanya Bagas tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Jika istrinya ini ingin mempunyai anak lagi.
Sedangkan Rasya dan Sabrina hanya saling pandang, mereka hanya berpikir bagaimana nanti jika Siena hamil lagi dan Sabrina memiliki adik. Sabrina bahkan geli sendiri membayangkannya. Dimana usianya sekarang ini ia akan mempunyai seorang adik.
*
*
*
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain sepasang laki-laki dan perempuan yang tidak saling mencintai, kini sedang berdiskusi merencanakan sesuatu. Mereka sedang berada di sebuah restoran untuk membicarakan hal penting, tentang masa depan mereka berdua, siapa lagi kalau bukan Deo dan juga Inaya.
Mereka berdua sedang membuat kesepakatan pernikahan, yang akan mereka jalani. Ya ... pada akhirnya mereka berdua tak bisa menolak perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka.
Hingga akhirnya mereka berdua akan melakukan perjanjian pra nikah yang akan mereka lakukan, agar pernikahan yang sama sekali tak mereka inginkan itu bisa berjalan dengan baik. Dan mudah-mudahan saja tidak akan ada banyak masalah, meskipun mereka berdua ragu akan hal itu. Dimana mereka berdua itu, jangankan menikah dan satu rumah, setiap kali mereka bertemu saja mereka selalu saja bertengkar. Seperti sekarang ini, mereka berdua tengah adu mulut.
"Aku tidak ingin ada kontak fisik! ketus Inaya.
"Oh tentu saja, aku juga tidak mau menyentuhmu. Aku takut gatal," jawab Deo. Inaya pun hanya mampu mendengus kesal, menahan kekesalannya. Karena kini mereka sedang berada di tempat umum, ia tak mau membuat keributan dan akan membuatnya malu nanti.
"Kita juga harus pisah kamar, karena aku tidak mau satu kamar denganmu," ucap Inaya lagi.
"Oke, aku setuju. Sejujurnya aku juga takut satu kamar denganmu, aku takut kau mengintipku, iuhhh aku sangat takut pada gadis galak sepertimu," balas Deo tak mau kalah dengan setiap perkataan Inaya, yang merobek harga dirinya sebagai seorang pria tampan.
Ucapan Deo memang sangat mampu membuat jantung Inaya naik turun, tidak salah jika ia tak mau mempunyai suami sepertinya. Akan jadi apa rumah tangganya nanti, jika imamnya modelan Doraemon seperti ini.
"Jangan campuri urusanku!"
"Urusanku sudah banyak, untuk apa aku ikut campur masalahmu. Hanya membuat telinga berkunang-kunang saja," jawaban Deo sedari tadi sangat mampu mengaduk-aduk esmosi duyung galak ini.
"Astaga ..."
__ADS_1
Sambil nunggu up, mampir dulu di karya teman aku yukk ... ceritanya pasti seru 😘😘😘