
Sudah beberapa hari ini sikap Bagas pada Rasya sangatlah baik dan juga ramah. ia sampai bertanya pada Maminya Sasa, apa ia mengirim guna-guna micin pada mertuanya hingga kini makhluk pelit itu menjadi mertua dermawan, dermawan kebaikan maksudnya. Karena, untuk masalah yang Bagas sama sekali tidak akan berbagi pada menantunya, dimana menantunya adalah orang yang jauh lebih kaya darinya.
"Jadi benar Mami tidak mengirim makhluk pelit itu guna-guna?" tanya Rasya pada Sasa. Kini Abon mini itu tengah pulang ke rumahnya karena merasa sangat penasaran, tentang perubahan dari Bagas si mertua durjana yang pelit akan segalanya.
"Ihhh dasar Abon, guna-guna dari mana atuh. Kan Mami kamu yang cantik dan manis ini bukan dukun!" jawab Sasa sambil mengaduk-aduk adonan bolu pisang, yang sedang ia buat untuk Kingkong kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan Ramon, Kingkong imut berhati pink dan berlogo Hello Kitty itu. Yang kini sedang minum kopi sambil menyimak obrolan absurd anak dan istrinya.
"Aku kan hanya merasa aneh saja padanya Mih, kenapa dia tiba-tiba saja jadi baik dan banyak menyapa. Asal Mami tahu saja bulu kakiku sampai ikut merinding dibuatnya," jawab menantu durhaka ini, bisa-bisanya ia mengatakan hal itu pada Papa wanita yang sangat ia cintai itu.
"Mungkin mertua kamu teh salah minum racun Aca!"
"Kenapa harus minum racun, kenapa tidak minum obat saja. Mami ini sangat aneh!" ucap Rasya, sungguh saat ini otak Ramon mendadak kusut mendengarkan ucapan istri dan anaknya.
"Karena kalau dia minum obat, otaknya pasti waras. Ini kan otaknya jadi jongkok, jadi pasti orang pelit itu salah minum racun. Atau mungkin, dia itu lagi dapat hidayah kali," ucap Sasa sambil memasukkan adonan bolu pisang ke dalam oven.
Mendengar mertuanya mendapatkan hidayah, Rasya malah terbahak-bahak. Ia bahkan sampai mengeluarkan air mata, karena menurut Rasya tidak mungkin jika mertua tidak tersayangnya itu mendapatkan hidayah. Malaikat pun tidak akan betah dekat dengan orang pelit seperti dia.
"Aca! Kamu teh kenapa ketawa-ketawa gitu. Bukannya seneng mertua kamu sadar karena dapat hidayah. Ini malah ketawa, kamu mesti di rukiyah ini mah!" ucap Sasa yang merasa aneh, kenapa putranya itu tertawa sampai terpingkal-pingkal. Dengan suara yang berisik pula, persis seperti micin sedang tertawa, sangat berisik.
__ADS_1
"Kalian berdua ini berisik sekali!" ucap Ramon, tapi protesnya ini sama sekali tidak digubris oleh kedua orang yang sangat ia sayangi itu.
"Mami tidak mungkin, Papa pelit mendapatkan hidayah. Aku lebih percaya jika dia salah minum racun ketimbang mendapatkan hidayah!" ucap Rasya di tengah-tengah tawanya.
"Emangnya kenapa?"
"Malaikat tidak akan ada yang mau dekat-dekat dengannya, pajaknya mahal!" jawab Rasya dan kemudian tertawa lagi
"Bener juga ya, dia kan makhluk pelit pake tarif," jawab Sasa yang ikut tertawa dengan anaknya dan menertawakan Bagas. Hingga Bagas yang saat ini sedang bekerja merasakan telinganya sangat panas, hingga ia mengompresnya dengan air es di kantor. Membuat makhluk kanebo yang melihatnya sampai menggelengkan kepalanya.
"Astaga," Ramon benar-benar tak habis pikir dengan otak micin istri dan anaknya itu. Dan kenapa anaknya ini sangat mirip dengan Sasa, hanya wajah dan bentuknya saja yang mirip dengannya.
"Oh itu, di sana gratis karena tidak tercantum tarif,"
"Tumben gratis,"
"Karena kalau mertuaku yang tidak manis itu memasang tarif, pasti akan ada banyak orang yang mengantri ikut ke kamar mandi," jawab Rasya.
__ADS_1
"Gak bakalan ada yang mau juga, kalau si pelit itu bikin toilet umum Mami yakin gak bakalan laku,"
"Kenapa?"
"Mahal!"
Ibu dan anak ini malah tertawa terbahak-bahak, gara-gara bergosip tentang Bagas yang memiliki sifat langka. Padahal, mereka berdua juga sama-sama makhluk langka.
"Ya Tuhan, anak dan istriku memang sudah gila," gumam Ramon.
*
*
*
Mampir juga di karya temen aku yukk 🥰😘😘
__ADS_1