Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
bab 6 Surat perjanjian


__ADS_3

Matahari mulai menunjukkan sinarnya. Mengintip melalui celah jendela kamar pengantin baru itu. Keduanya, masih terlelap dalam buai mimpi indah. Kania mulai membuka mata perlahan.


Senyumnya terlihat bersinar, kala mendapati pria yang ia cintai berbaring di sampingnya. Tak pernah ia bermimpi untuk menikahi aktor ternama yang kini tengah memeluknya. Namun, takdir menyatukan mereka.


Perlahan, Kania mulai menggerakkan tubuhnya. Meski terasa perih dan ngilu, ia berusaha untuk tidak merintih. Wanita itu tak ingin membangunkan sang suami yang masih terlelap. Semalam, Kris berhasil menerobos dinding penghalang itu dengan susah payah.


Setelah percobaan yang entah keberapa kali, akhirnya Kris berhasil. Pipi Kania bersemu merah, kala mengingat kejadian itu. Ia yang menatap cermin, sampai menepuk pipinya berkali-kali.


"Astaga! Kenapa aku jadi mesum begini?" tanyanya pada diri sendiri. Kembali, ia tersenyum sendiri.


Kania pun bergegas membersihkan diri. Ia tak ingin, membuat ibu dari suaminya berpikiran jelek tentang dia. Apalagi, ini adalah hari pertamanya berstatus istri sekaligus menantu di rumah itu.


"Pagi, Ma," sapa Kania begitu ia turun.


Nyonya Tama yang sudah duduk di meja makan, menatap datar menantunya yang berjalan perlahan. Melihat tatapan sang mertua, membuat Kania gugup setengah mati. Entah mengapa, suasana canggung begitu kentara. Tak hanya itu, ada perasaan yang membuat Kania rendah diri.


Kenapa aku merasa seperti ini? Tidak Kania, ini pasti karena kamu kesiangan. Ya, itu pasti, gumam Kania.


Kania berusaha mempertahankan senyumnya. Kania pun menarik kursi yang ada di samping Nyonya Tama. Namun, gerakannya terhenti kala mendengar dehaman.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di situ?" tanya Nyonya Tama dengan nada rendah, tetapi mampu mengintimidasinya.


Kania menoleh dengan tatapan terkejut. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan itu. Tanpa sadar, pegangan Kania pada kursi mengencang.


"Dengar baik-baik! Aku tidak pernah benar-benar menyetujui pernikahan kalian. Karena aku, tidak sudih memiliki menantu rendahan sepertimu!" Tatapan Nyonya Tama, terasa menusuk tepat di jantung Kania.


"Lalu, kenapa, Anda, membiarkan aku menikahi Kris?" tanya Kania.


Hatinya terasa tertusuk ribuan jarum, kala mendengar kata-kata sang mertua. Nyatanya, restu yang mereka dapat kemarin, hanyalah kebohongan belaka.


"Karena aku, tidak ingin kau mengotori pikiran anakku. Apa kau tidak curiga, kenapa aku meminta kalian tinggal di rumah ini?"


Kania tak serta merta menjawab pertanyaan itu. Namun, kini ia sadar akan maksud dan tujuan wanita yang berstatus sebagai ibu dari suaminya ini. Jelas, wanita itu tak akan membiarkannya hidup tenang nanti.

__ADS_1


"Aku rasa kau sudah menyadarinya." Nyonya Tama mengeluarkan selembar kertas. Kemudian, meletakkannya di depan Kania.


Di sana jelas tertulis, bila Kania tidak boleh menerima sedikit pun uang dari Kris. Bahkan, terlihat jelas, bila Kris tidak boleh mengetahui hal itu. Ada lagi point, di mana Kania harus membayar semua biaya yang dikeluarkan untuk dirinya di rumah itu.


"Aku ini istri sah Kris. Bukankah sudah kewajiban Kris untuk menafkahi ku?" tanyanya.


"Kalian memang sudah menikah. Tapi, aku tidak pernah merestui kalian. Jika kau tidak setuju, ceraikan saja anakku!" tegas Nyonya Tama.


Kania menarik napas dalam. Haruskah ia akhiri pernikahan ini sekarang, di saat Kris telah mengambil haknya? Jika tidak, mampukah ia bertahan dengan sikap Nyonya Tama, yang notabene ibu mertuanya? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang timbul dalam benaknya.


"Tidak perlu jawab sekarang. Pikirkan saja dulu. Tapi, ketika kau menolak semua point itu, maka bersiaplah pergi dari rumah ini," bisik Nyonya Tama sebelum pergi.


Kania menatap kepergian Nyonya dengan tangan mengepal kuat. Air mata yang mengalir, tak bisa ia hentikan. Sesaat kemudian, ia tersenyum getir. Segera, Kania menghapus air mata dan melipat surat perjanjian itu. Kemudian, menyimpannya dalam saku.


Ia duduk dan menikmati sarapan, yang terasa menusuk perutnya. Dalam kegundahannya, Kania tak menyadari kehadiran Kris.


"Pagi, Sayang. Mama mana?" tanya Kris yang baru saja bergabung.


"Sudah jalan. Baru saja," jawab Kania.


Beruntung, ia sudah menetralkan suaranya. Jika tidak, Kris akan mengetahui ada yang tidak beres antara dirinya dan sang ibu. Kania pun melayani Kris dengan baik.


***


Sepanjang hari, Kania memikirkan keputusan yang harus ia ambil. Tidak seorang pun ia beritahu, masalah ini, termasuk Kris. Bahkan, Dirga pun tidak.


Aku harus bertahan. Mungkin saja, mama akan menerimaku nanti. Ya, aku harus bertahan. Apa kata orang nanti, baru menikah satu hari, kami langsung bercerai. Tidak, aku tidak boleh melakukan itu.


Pada akhirnya, Kania menandatangani surat perjanjian itu. Ia tak ingin merusak reputasi Kris juga dirinya. Bagaimana pun, profesi mereka banyak disorot publik. Akan jadi masalah, ketika hal ini terendus media.


"Ini surat perjanjiannya. Saya menyetujui semua point di dalamnya. Tapi, saya mohon, di depan media dan Kris, kita bisa bersikap layaknya ibu mertua dan menantu," pinta Kania sungguh-sungguh.


Nyonya Tama menatap mata Kania. Kemudian, ia membuka surat itu dan melihat tanda tangan Kania di sana. Senyum miring, terlihat di sudut bibir Nyonya Tama.

__ADS_1


"Ok! Deal!" Nyonya Tama mengulurkan tangannya.


Melihat uluran tangan itu, Kania menyambutnya. Tidak ada senyum yang terlihat di wajah Kania. Karena ia tahu, penderitaan yang sesungguhnya, baru akan dimulai.


***


Kris tiba di rumah. Rasa lelahnya hilang, saat melihat sambutan dari sang istri. Ia mengecup pucuk kepala Kania lembut.


"Sayang, aku lupa memberikan ini padamu. Ini jatah bulananmu. Kalau kurang, beritahu aku, ya," ucap Kris.


"Iya, Sayang," jawab Kania.


Kania menggenggam kartu itu erat. Dari arah tangga, terlihat sang ibu mertuanya yang menatap dirinya. Kania jelas tahu maksud tatapan itu.


"Kamu mau mandi dulu?" tawar Kania.


"Iya, gerah banget," jawab Kris.


"Biar aku siapin." Kania baru akan melangkah, ketika Nyonya Tama menginterupsinya.


"Kris, kamu bisa siapkan sendiri, 'kan? Kasihan menantu mama. Dia juga pasti lelah," ujar Nyonya Tama.


Kris terkekeh mendengar ucapan sang ibu. "Baiklah. Rupanya, istriku sudah menjadi menantu kesayangan, Mama." Kris menoleh pada sang istri. "Kamu temani mama, ya. Aku bisa sendiri, kok!" ucap Kris.


"Iya," jawab Kania lirih.


Setelah mengecup pipi Kania, Kris melangkah menuju kamar mereka. Sepeninggal Kris, Nyonya Tama segera menadahkan tangannya meminta kartu yang ada di tangan Kania.


"Kau tidak pantas menerima uang ini!" sarkas Nyonya Tama.


Wanita paruh baya itu segera meninggalkan Kania yang terlihat tak berkutik sendiri. Sesaat, Kania memejamkan matanya. Mencoba menahan gejolak amarah yang begitu menggelegak.


Tahan, Kania. Kau tidak boleh marah. Ya, aku tidak boleh marah!

__ADS_1


__ADS_2