
Ramon masuk ke dalam ruangan Rasya, dan melihat anaknya sedang bermanja-manja pada istrinya. Membuat Ramon berdecak sebal melihatnya. Bisa-bisanya mereka bermesraan di kantor, membuat Ramon ingn membawa Sasa saja ke kantor.
"Oh ya ampun, sudah kudugong. Kalau kalian akan membuat drama membuat anak di kantorku," ejek Ramon paa anak dan juga menantunya. Membuat pasangan itu terjingat kaget.
Rasya berdecak sebal karena papanya ini mengganggu kesenangannya, sedangkan Sabrina merasa malu karena merasa bersalah. Apalagi hari ini adalah hari pertama ia bekerja di kantor. Pasti Ramon akan merasa kecewa padanya.
"Maaf Pih, kami tidak bermaksud untuk ..." Sabrina menundukan kepalanya, merasa malu pada mertuanya itu.
"Papi tahu Sabrina, tenanglah. Papi hanya ingin mengingatkan kalian jika sebentar lagi ada pertemuan di perusahaan Maheswara." ucap Ramon, tersenyum pada menantunya. Ia lupa jika menantunya adalah manusia normal, berbeda dengan anak dan juga istrinya yang selalu bertingkah ajaib dan di luar nurul.
"Lain kali jangan mengagetkan kami seperti itu, Pih! Hampir saja jantungku keseleo, protes Rasya sambil memijat kepalanya.
"Sejak kapan jantungmu pindah ke kepala?"
"Sejak ada manusia abon mengganggu acaraku," jawab Rasya, membuat Ramon ingin membuat anaknya ini menjadi taburan makan siangnya.
"Tunda dulu acara untuk membuat bayi, nanti lanjutkan di rumah saja," melihat Sabrina yang merasa bersalah membuat Ramon mengurungkan niatnya.
"Oke ...oke Papiku yang tampan,"
__ADS_1
"Terima kasih pujiannya, sekarang kau pergilah,"
Akhirnya dengan terpaksa Rasya dan Sabrina pun bersiap untuk pergi ke perusahaan Maheswara, itu berarti ia akan bertemu dengan mertua tersayangnya wkwkwk.
*
*
*
"Apa! Jadi Sabrina bekerja untuk menggantikan aku!" Inaya bangun dan terlihat panik, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar kalau Sabrina bekerja untuk menggantikannya. Ia kesal mendengar orang yang ia anggap rival menggantikan pekerjaannya di kantor. Inaya tidak terima, sakit hati karena Rasya menikah dengan Sabrina pun masih belum hilang. Dan kini, pekerjaannya pun diambil oleh Sabrina.
"Sudahlah, aku malas mendengarnya." Inaya pun kemudian tidur membelakangi Sintia, perasaannya saat ini menjadi kacau karena mendengar Sabrina bekerja. Meskipun hanya sementara tapi tetap saja itu membuat perasaan Inaya menjadi kacau.
*
*
*
__ADS_1
Rasya dan Sabrina kini sudah sampai di perusahaan Maheswara, karena meeting akan segera dimulai Rasya dan Sabrina pun agak tergesa karena takut terlambat.
Saat hampir sampai ke ruang meeting, Rasya berpapasan dengan sang mertua tak baik hati. Seperti biasa ia akan tersenyum sangat manis pada mertuanya, meskipun sang mertua tak pernah membalas senyumannya itu. Karena jika sampai Bagas sampai tersenyum, maka ditakutkan akan terjadi banjir bandang atau bencana yang lainnya.
"Hallo Papa mertua," sapa Abon itu pada mertua yang tak baik hati itu.
Baru saja ia akan menjawab sapaan yang membuat gatal telinganya, ia dikejutkan dengan keberadaan putri kesayangannya yang berada di belakang menantu tak diinginkan. Hampir saja ginjalnya berteriak melihat Sabrina yang ikut bekerja.
"Astaga, apa yang sedang kau lakukan Sabrina. Hei Abon! Kenapa kau menyuruh putriku bekerja, apa kau kekurangan uang!" Asisten pelit itu mendadak terkena serangan ginjal.
"Jika kau sampai kekurangan uang, kembalikan saja putriku padaku!"
"Oh tidak Pah, terima kasih aku tidak siap kehilangan cintaku dan aku tidak mau menjadi duda,"
*
*
*
__ADS_1
Maaf terlambat up, Miminnya lagi mudik 😚😚😚