Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
bab 9 Toko perhiasan


__ADS_3

Seperti ucapan Nyonya Tama di hadapan salah satu stafnya, mereka memang pergi berbelanja ke mall. Sayangnya, bukan hanya mereka berdua yang pergi. Di sana, Crystal sudah menunggu.


"Hai, Tante. Kangen, deh."


Keduanya saling memeluk seakan lama tak bertemu. Ada sedikit rasa iri dalam hati istri dari Kris itu. Sejak Kania menikah dengan Kris, Crystal memang tak lagi datang ke rumah utama. Kania pun tak pernah mencaritahu alasannya.


"Hai, Kania. Gimana kabar kamu?" Crystal beralih pada Kania.


"Baik, Mbak," jawabnya lembut. Kania menyambut uluran tangan Crystal. Wanita itu, bahkan menarik Kania dan memeluknya seperti yang dia lakukan dengan Nyonya Tama tadi.


Setelah puas temu kangen, mereka segera menuju sebuah butik. Dari pelayanannya, Kania bisa menduga, bahwa itu adalah butik langganan mereka. Nyonya Tama dan Crystal dipersilakan masuk ke ruang VIP.


Kania baru saja akan ikut duduk bersama dengan mereka, tetapi Nyonya Tama mencegahnya. Crystal yang melihat itu menatap beliau heran.


"Mama mau kamu jadi model dulu," kilahnya. "Tolong keluarkan semua model terbaru, ya. Ambil yang seukuran dengan badannya saja," titah Nyonya Tama.


"Baik, Nyonya." Pegawai butik itu segera meninggalkan mereka di sana.


"Oh ... Tante, mau beli baju untuk Kania, ya?" Crystal tertawa. "Crystal sempat kaget," imbuhnya.


Nyonya Tama hanya membalas dengan sebuah senyuman. Sementara Kania, hanya berdiri mematung di hadapan Nyonya Tama. Tak lama, pintu ruangan terbuka. Seorang pegawai mendorong standing hanger masuk.


Ada banyak baju yang terlihat mahal. Kemudian, masuk lagi pelayan lain yang membawakan tas serta sepatu mahal. Haruskah aku mencoba semuanya? tanya Kania dalam hati.


"Terima kasih," ucap Nyonya Tama seraya tersenyum. Ia pun mengalihkan pandangan pada menantunya. "Kania, ayo, dicoba."


Kania mengambil salah satu pakaian itu. Kemudian, ia masuk ke dalam ruang ganti. Hanya butuh beberapa menit bagi Kania mengganti pakaiannya.


"Wah, cantik banget," puji Crystal.


"Berputar," titah Nyonya Tama. "Coba pegang tas yang itu, lalu gunakan sepatu yang itu," tunjuk Nyonya Tama pada benda yang dimaksud.


Kania melakukan perintah ibu mertuanya. Memegang tas tangan, menggunakan sepatu heels. Berputar ke kiri, kanan, lalu mengganti dengan pakaian yang lain juga sepatu dan tas lainnya.


***


"Tidak ada yang cocok," celetuk Nyonya Tama setelah peragaan terakhir Kania.


Sudah semua pakaian dari standing hanger itu Kania coba. Namun, tak satu pun dianggap cocok oleh Nyonya Tama. Kania mulai menyesal mengikuti Nyonya Tama ke tempat ini.

__ADS_1


"Kenapa bisa gak cocok? Bagus semua, loh, Tante," ujar Crystal heran.


Karena dia bukan ingin membelikan ku baju, tapi ingin mengerjaiku! Sayangnya, Kania hanya mengatakannya dalam hati.


Kania kembali mengganti pakaiannya. Hatinya sangat kesal, tetapi tak bisa ia salurkan. Selesai mengganti baju, Kania kembali bergabung dengan Crystal dan mertuanya.


"Ayo, kita keluar!" ajak Nyonya Tama.


Tidak bisakah aku duduk sebentar?


Kali ini, mereka memasuki toko perhiasan. Mereka disambut dengan ramah di sana. Lagi, pegawai toko membawa mereka menuju ruangan VIP. Kemudian, pegawai lain masuk dan meletakkan perhiasan di atas meja.


"Crystal, coba kamu pakai yang ini," pinta Nyonya Tama lembut.


Kania yang duduk di belakang mereka, tak peduli dengan yang terjadi. Ia memejamkan mata sesaat. Kedua kakinya ia luruskan karena terasa sangat sakit.


"Kania!"


Suara itu membangunkan Kania yang hampir terlelap. Tubuhnya yang terasa sangat lelah, membuat ia mudah tertidur.


"Kenapa?" tanya Kania. Wanita itu menegapkan posisi duduknya.


Ia menyodorkan sebuah gelang yang terlihat sangat cantik. Desainnya tidak mencolok, tetapi cukup elegan. Tangan Kania terulur menerima gelang itu.


"Gimana?" tanya Crystal terlihat berbinar.


"Cantik," gumam Kania.


Entah mengapa, Kania begitu menyukai gelang itu. Namun, seseorang menengadahkan tangan untuk mengambil gelang tersebut. Kania menatap orang yang mengulurkan tangan.


"Maaf gelang ini tidak kami jual, Nona," ucap seorang pria tampan yang berdiri di depan Kania. Pria itu mengalihkan tatapan pada para pegawai. "Bukankah sudah kubilang, untuk tidak mengeluarkan gelang ini?"


"Tuan, Anda, tidak perlu marah pada mereka. Ambil saja kembali gelang itu," sela Kania.


"Ini semua gara-gara kau!" bisik Nyonya Tama pada Kania.


Pria itu tak menjawab ucapan Kania. Matanya masih menatap para pegawai. Sementara Kania, menatap mertuanya yang menuduh dia.


"Maaf, Tuan. Kami tidak sengaja membawanya dari ruang penyimpanan," ucap salah seorang pegawai.

__ADS_1


"Ya, sudah. Lain kali, tolong lebih berhati-hati lagi." Pria itu beralih pada pelanggan yang masih menatapnya terkejut. "Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terutama, Anda, Nona."


Kania menoleh saat seseorang mengajaknya bicara, "Tidak apa. Saya juga tidak tahu kalau gelang itu tidak dijual," ucap Kania.


"Terima kasih. Ini adalah satu-satunya barang milik adik saya," terang pria itu. Matanya menatap sedih gelang itu.


"Maksudmu, putri keluarga Louis?" sambar Nyonya Tama.


Pria itu menjawab dengan anggukkan kepala. Nyonya Tama, merupakan pelanggan di sana. Toko tersebut adalah salah satu cabang milik keluarga Louis.


Mata Kania terpaku pada gelang yang dipegang pria itu. Ia merasa sangat familiar dengan gelang itu. Namun, ia tidak ingat apa pun.


"Bukankah Nona Karen menghilang saat usianya masih tiga tahun? Kalau tidak salah, sudah diumumkan, bila Nona Karen meninggal dunia sekitar lima tahun lalu," lanjut Nyonya Tama.


Tragedi yang menimpa keluarga Louis, menjadi perbincangan publik sejak kurang lebih dua puluh tahun lalu. Kemudian, mulai mereda lima tahun ke belakang. Pasalnya, pihak keluarga mengumumkan kematian putri mereka.


"Anda, benar. Tapi, aku yakin jasad itu bukan adikku. Dia pasti masih hidup."


"Jasson!" teriak seseorang dari pintu masuk. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu berjalan mendekat. "Kenapa kau mengumbar masalah keluarga di depan pelanggan? Itu tidak baik, Nak," lanjut wanita itu.


"Maaf, Mom."


"Nyonya Louis, saya minta maaf karena justru ikut campur urusan keluarga, Anda." Nyonya Tama menghampiri wanita yang baru masuk tadi.


"Tidak apa. Tapi, tolong pembicaraan ini jangan sampai terdengar keluar. Anggap saja, kalian tidak pernah mendengarnya," pinta wanita bernama Nyonya Louis.


Mata Kania terpaku pada wanita itu. Jantungnya berdegup cepat melihat wajah wanita itu. Ada perasaan yang tak bisa Kania jabarkan saat bertemu ibu dan anak itu.


Perasaan apa ini? Kenapa aku ingin menangis melihat mereka?


"Kalau begitu, kamu permisi dulu," pamit Nyonya Tama.


Kania tak memperhatikan, bila Crystal dan Nyonya Tama sudah meninggalkan ruangan itu. Wanita dan pria tadi pun menatap Kania dengan kedua alis yang terangkat.


"Kau masih di sini?" tanya Nyonya Louis.


"Ah, maaf saya ingin bertanya."


"Silakan." Nyonya Louis mempersilakan.

__ADS_1


"Bagaimana, Anda, bisa kehilangan putri, Anda, saat kecil?"


__ADS_2