
Sebagai perempuan dan juga sebagai seorang istri, tentu Sabrina sangat penasaran bagaimana keadaan gagang sapu milik suaminya. Sabrina takut jika gagang sapu milik Rasya tidak berfungsi seperti apa yang mertuanya ucapkan. Jika pada kenyataannya memang seperti itu, maka Sabrina akan membawa suaminya untuk berobat dan sebagai seorang istri yang baik tentu ia akan selalu mendukungnya.
Akan tetapi bagaimana caranya Sabrina memastikan jika senjata suaminya itu berfungsi atau pun tidak. Tidak mungkin jika ia bertanya pada suaminya, itu pasti akan melukai harga diri Rasya sebagai seorang suami dan juga sebagai seorang laki-laki. Lalu, apa ia harus menyentuhnya?
Oh ya ampun, demi kerang ajaib Sabrina rasanya ingin bersembunyi saja di rumah cacing alaska. Ia bahkan merasa sangat malu padahal ia baru membayangkannya saja, bagaimana jika ia sampai menyentuhnya. Ia pasti sudah pingsan karena merasa sangat malu. Akhirnya ia pun mempunyai ide, untuk memancing apakah Rasya normal ataukah tidak. Ia pun kemudian tersenyum karena akhirnya ia tahu bagaimana caranya untuk menguji kemampuan dari senjata suaminya tanpa harus menyentuhnya.
*
*
*
Rasya baru saja selesai membicarakan masalah pekerjaan bersama dengan Ramon, ia pun segera kembali ke kamarnya karena ingin bertanya pada Sabrina. Apa ia memiliki masalah atau tidak, karena sikapnya yang sedari tadi berbeda, ia tidak mau melihat istrinya itu marah ataupun bersedih. Untuk itu ia akan mengajaknya berbicara.
Sesampainya di kamar, Rasya melihat jika Sabrina sudah tertidur dan berbalut dengan selimut. Abon mini ini menghela napas kasar karena merasa terlambat untuk bicara dengannya.
Ia pun kemudian langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka dan juga tangan serta kakinya. Setelah selesai, ia pun kemudian naik ke atas tempat tidur dan kemudian ia pun akan segera beristirahat.
Namun, baru saja ia akan naik dan menarik selimut tiba-tiba saja Sabrina terbangun dan duduk di samping Rasya. Abon mini ini sangat terkejut saat melihat Sabrina. Ginjalnya sampai ternganga saat melihat penampilan Sabrina yang menggoda iman. Bagaimana ia tidak tergoda jika istrinya ini hanya memakai tanktop tali spageti dengan bagian dada rendah yang memperlihatkan buah mangga ranum milik Sabrina yang dulu pernah ia cicipi.
Warna merah sangat cocok di kulitnya yang putih mulus, belum lagi hot pant yang digunakan membuat kaki jenjangnya terekspos jelas. Seketika pisangnya yang sejak tadi menunduk pun langsung celingukan.
"Ya ampun, kenapa panas sekali di sini?" bohong Sabrina sambil mengipas-ngipas dadanya dengan tangan, padahal saat ini ia sama sekali tak merasa kepanasan, semua itu ia lakukan hanya untuk memancing Rasya saja.
"S-sayang, kenapa kau memakai pakaian seperti itu. Memangnya kau tidak takut masuk angin?" tanya Rasya gugup, karena melihat pabrik susu yang melambai-lambai ingin diminum.
"Aku kepanasan, memangnya kau tidak?" tanya Sabrina sambil memegang kening Rasya yang mulai dibanjiri keringat.
"Sebenarnya tadi tidak? Tapi sekarang aku jadi kepanasan," jawab Rasya yang merasa tiba-tiba sesak karena atmosfer si sekelilingnya terasa berbeda.
"Benarkan di sini sangat panas?" ucapnya lagi sambil matanya terus curi-curi pandang ke arah dimana burung pelatuk itu bersembunyi, sayangnya ia tidak bisa melihat apa-apa karena sangkar burung itu tertutup selimut.
__ADS_1
"I-iya sayang, aku sangat kepanasan," ucap Rasya yang masih gugup saat melihat benda kembar itu terus menggodanya sedari tadi.
Merasa kesal karena Rasya tak kunjung menyentuhnya, akhirnya Sabrina pun naik ke atas pangkuan Rasya. Hingga akhirnya ia pun bisa merasakan benda tumpul yang di duduki olehnya. Sabrina pun menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia duduki, hingga ia pun sedikit menggeser tempat duduknya takut jika benda itu ia duduki maka akan berubah bentuk.
"Oh ya ampun!" ucap Sabrina terkejut.
Jangankan Sabrina Rasya pun juga sangat terkejut dengan tingkah Sabrina yang mendudukinya tiba-tiba duduk dipangkuannya.
"Astaga!"
Gairah yang tadi sudah muncul, kini malah semakin menjadi saat Sabrina duduk dipangkuannya. Apalagi benda indah itu kini terpampang indah di depan matanya.
Dengan cepat Sabrina pun hendak turun dari pangkuan Rasya. Namun, Rasya menahan tubuh Sabrina agar tetap berada dalam pangkuannya.
"Mau kemana duduklah di sini, aku menyukainya," bisik Rasya di telinganya hingga tubuhnya meremangnya. Dan dengan sengaja Rasya malah menggigit leher jenjang Sabrina hingga ia memekik terkejut dengan perlakuan Rasya padanya.
"Awww ...!"
Sabrina mendorong tubuh kekar suaminya, tapi itu tak membuat Rasya bergeming. Ia malah dengan sengaja merapatkan tubuh Sabrina dengan tubuhnya, hingga pabrik kembar itu pun menempel di tubuhnya.
"T-tidak!"
"Lalu kenapa kau seperti ini?" tanya Rasya yang kemudian mengecup bibir ranum Sabrina, yaang sejak tadi menggodanya.
"Aku tidak menggodamu, aku hanya ingin memastikan sesuatu saja. Apa kau ini normal atau tidak?" gumam Sabrina merasa sangat malu pada suaminya ini, karena sudah ketahuan menggodanya. Saat ini ia pasrah jika Rasya akan memarahinya, karena apa yang dilakukan olehnya mungkin memang keterlaluan karena sudah meragukannya.
Namun, bukannya marah Rasya malah tertawa gemas pada istrinya ini. Rasya tahu jika istrinya ini masih sangat polos, semua ini pasti ada sangkut pautnya dengan sang Mami, yang pasti telah mengatakan sesuatu padanya yang entah apa itu, yang jelas Rasya sangat suka melihat istrinya yang seksi ini. Sepertinya Abon mini ini harus berterima kasih besok pada Mami Micin. Karena sudah memudahkannya untuk menjelajahi nikmatnya surga dunia.
Tanpa basa-basi lagi, Rasya pun kemudian mencium bibir Sabrina dan mengangkat kedua tangannya agar ia lingkarkan di leher kokoh Rasya.
Sabrina yang mengerti dengan kemauan suaminya pun membalas ciuman Rasya yang bermula lembut tapi kini berubah menjadi ciuman yang sangat panas.
__ADS_1
Tangannya pun mulai menurunkan tanktop yang digunakan oleh Sabrina. Hingga kedua benda indah yang masih terbungkus setengah itu terlihat begitu indah.
Dengan satu tarikan saja, benda itu langsung terbuka, langsung saja Rasya melahapnya dan memainkannya dengan tangan. Membuat tubuh Sabrina memanas dan merasakan sensasi yang sangat luar biasa di tubuhnya.
Lama Rasya bermain di sana dan juga tanpa mereka sadari, kini sudah ada lagi penghalang antara mereka berdua, bahkan sehelai benang pun sudah tak menghalangi lagi penyatuan mereka.
Rasa sakit Sabrina rasakan saat milik Rasya berusaha menembus sesuatu yang selama ini ia jaga. Sakit dan juga perih ia rasakan, akan tetapi ia tahan karena ia tak mau jika Rasya akan menghentikan kegiatannya. Sabrina sangat tahu jika suaminya ini tidak akan pernah bisa melihat ia kesakitan.
Ia hanya mampu menggigit bibirnya dan juga mencengkram punggung dan leher Rasya dengan erat hingga kuku-kukunya menancap di punggung Rasya dan di lehernya dan meninggalkan jejaknya di sana.
'Awww ... " Bukannya Sabrina yang memekik kesakitan tapi malah Rasya yang kesakitan, karena rasa perih di punggung dan juga lehernya.
"Maaf," ucap Sabrina perlahan.
"TIdak apa-apa sayang,"
*
*
*
"Sabrina berhasil gak ya nangkap burung?" gumam Sasa, tapi masih terdengar jelas di telinga Ramon.Karena kini Micin ini sedang ada dalam pelukan suaminya.
"Burung apa?" tanya Ramon penasaran dengan apa yang ia dengar.
"Burung Abon,"
"Apa!"
*****
__ADS_1
Mampir di cerita baru MImin ya, Rembo sama jupi-jupi mau besanan nihh