Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
Bab 36


__ADS_3

Hari telah berganti, malam indah yang dihiasi oleh cahaya bulan kini telah berganti, dengan cahaya mentari yang menghangatkan sebagian penduduk bumi. Pagi ini tak seperti pagi biasanya yang dirasakan oleh Sabrina, jika biasanya setiap pagi ia selalu bangun dengan semangat dan tenaga baru. Tapi kali ini, ia bangun dengan tubuh yang lemas dan juga tidak bertenaga.


Seluruh tubuhnya terasa sangat pegal, bagian intinya terasa sangat perih. Itu karena semalam ladangnya diseruduk oleh pisang tanduk milik Rasya. Semalam Sabrina telah memberikan semua yang ada dalam dirinya termasuk hidupnya untuk Rasya, ia bertekad jika mulai hari ini ia akan menjadi istri yang baik untuk suaminya.


Akan tetapi, baru pertama kali ia melakukan permainan mantap-mantap. Tubuhnya terasa lunglai dan tak bertenaga, bahkan hari ini ia meminta ijin pada Rasya untuk tidak masuk kerja. Dan Rasya pun dengan senang hati mengijinkan Sabrina untuk tidak bekerja. Karena memang sebenarnya itulah yang Rasya inginkan, istrinya tak perlu lelah bekerja cukup dia saja yang berjuang untuk kehidupan mereka.


Pagi ini juga Sabrina absen untuk sarapan bersama, setelah mandi dan membersihkan tubuhnya ia ingin kembali merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Karena semalam Rasya membuatnya terkapar beberapa kali, sampai ia sangat lemas.


Kemampuan pisang tanduk yang Sabrina ragukan, ternyata mampu membuat ia tidak berdaya. Bahkan Sabrina sampai mengeluarkan suara-suara seksih yang membuat ia merasa malu saat mengingatnya.


"Tidurlah," ucap Rasya sambil mengecup kening Sabrina, yang kembali masuk ke alam mimpinya.


Berbanding terbalik dengan Sabrina yang merasa sangat lemas, justru hari ini Rasya merasa sangat bertenaga. Asupan gizi yang semalam ia dapatkan ternyata mampu membuat Rasya menjadi sangat semangat dan juga moodnya yang menjadi sangat baik.


Bagaimana tidak, semalam ia sudah bisa minum susu langsung dari pabriknya. Belum lagi, pisangnya yang selalu mual-mual setiap malam kini bisa muntah pada tempatnya. Semua itu sungguh sangat luar biasa, untuk Rasya. Akhirnya, ia bisa mendapatkan Sabrina seutuhnya. Ia sangat bahagia, apalagi jika mengingat Sabrina yang menggemaskan saat semalam. Membuat Abon ini ingin mengulangi kembali kegiatannya semalam bersama dengan sang istri.


Rasya kini sudah berada di meja makan tanpa Sabrina yang menemaninya, dan itu mengundang tanya dari Sasa. Apa pernikahan putranya ini semakin bermasalah atau bagaimana. Apa semalam mereka bertengkar pikir Sasa, ia jadi menyesal karena sudah memberikan saran pada menantunya. Saran untuk mengetes apakah senjata anaknya berfungsi atau tidak.


Karena rasa penasarannya yang tinggi, akhirnya Sasa pun bertanya tentang apa yang terjadi pada Rasya dan juga Sabrina. Jika benar memang ada masalah, maka Sabrina dengan senang hati akan membantu permasalahannya dari anak dan menantunya ini.


"Rasya, kenapa Sabrina tidak sarapan?" tanya Sasa.


Rasya yang baru saja duduk pun langsung tersenyum pada sang Mami yang menjadi pahlawannya, karena berkat saran dari Maminya Rasya akhirnya bisa bermain jungkat-jungkit dengan Sabrina semalam.


"Oh dia masih tidur, dan hari ini ia ijin tidak masuk kerja," jawab Rasya.

__ADS_1


"Masih tidur? Menantu Mami sakit?" tanya Sasa yang jadi khawatir pada menantu yang menjadi anak kesayangannya sang mantan.


"Iya, dia tidak enak badan," jawab Rasya sambil menyuapkan roti yang sudah ia oles dengan selai coklat kesukaannya.


"Oh ya ampun, kenapa bisa gak enak badan. Kalau si pelit tahu mah bisa gaswat! Dia pasti esmosi sama kamu sayang," sewot Micin ini, ia tidak mau jika anak kesayangannya di omeli oleh mantan kekasihnya itu.


Sedangkan Ramon, hanya memutar bola mata malas saat mendengar ucapan istri ajaibnya, yang selalu mempunyai kosakata sendiri jika bicara.


"Mami tenang saja, aku tidak takut jika mertuaku yang tak baik hati itu marah. Karena aku adalah putra dari Ramon Adyatama yang keren dan juga kuat. Aku tidak akan kalah dengan manusia pelit seperti dia!" ucap Rasya semangat. Membuat Papi Abon semakin bangga pada putranya ini.


"Aku padamu Nak!" jawab Ramon, sambil melakukan gerakan tangan seolah menunjuk Rasya dengan kedua telunjuknya, dan bersikap sok keren.


"Ssssuuuuuttttt ... pelan-pelan ngomongnya, ada keturunannya di sini," ucap Sasa pelan-pelan. Hingga mereka bertiga langsung meletakkan telunjuk mereka di bibir mereka masing-masing. Kenapa keluarga Abon gurih ini bisa lupa jika Sabrina adalah anak dari makhluk pelit yang mereka bicarakan. Bagaimana jika ia mendengarnya, dan kemudian mengadu pada makhluk pelit itu. Bisa-bisa urusannya menjadi runyam.


"Oh ya semalam kamu gak berantem kan sama Sabrina?" tanya Sasa.


"Oh syukurlah, Mami takut kalau kalian berantem,"


"Kami tidak pernah bertengkar, Mami tahu itu kan?" Sasa pun mengangguk mengiyakan karena Rasya dan Sabrina sama sekali tak pernah bertengkar. Sangat berbeda dengan dirinya yang selalu bertengkar dengan Ramon dulu. Bahkan mereka sering kali saling mengejek sampai akhirnya mereka bersatu dan tercetaklah Abin mini kurang garam ini.


'Alhamdulillah, kalau gitu mah. Sasa teh cuma takut itu pisang Ambon dicekik sama Sabrina,' Sasa hanya bisa membatin dengan pertanyaannya, karena tak mungkin ia bertanya jika pisang milik anaknya ini baik-baik saja atau tidak. Ternyata semuanya baik-baik saja, dan pisang Ambon milik anaknya tidak sesak napas.


*


*

__ADS_1


*


Setelah selesai sarapan, Rasya pun berangkat ke kantor. Namun, saat sampai di kantor ia sangat terkejut karena melihat ada penampakan makhluk pelit yang ia bicarakan tadi pagi.


Untuk apa ia pagi-pagi datang ke kantornya pikir Rasya, Ramon yang melihat wajah tak bersahabat dari besannya itu langsung maju ke depan dan akan menjadi tameng untuk putra kesayangannya.


"Mau apa orang pelit pagi-pagi datang ke kantorku?" tanya Ramon menyebalkan. Hingga asistent pelit ini pun berdecak sebal mendengarnya.


"Aku ingin bertanya, dimana putriku?" tanya Bagas kesal, karena sudah dua minggu ini Sabrina tak kembali ke rumahnya seperti saat perjanjian mereka sewaktu mereka menikah saat itu. Jika mereka akan tinggal satu minggu dengan Bagas, dan satu minggu bersama dengan Ramon. Akan tetapi, ini sudah melewati batas waktu dan mereka sama sekali tak memberikan kabar apapun padanya. Itulah yang membuat suami dari Siena itu datang ke perusahaan Adyatama pagi-pagi. Itu karena ia hanya ingin menanyakan keadaan putrinya.


"Putrimu sedang tidur cantik Papa mertua," jawab Rasya.


"Tidur? Kenapa dia tidur pagi-pagi? Apa dia sakit?" tanya Bagas khawatir, karena tak biasanya Sabrina tidur pagi, kecuali ia sedang tidak enak badan.


"Dia tidak sakit dia hanya kelelahan saja," jawaban Rasya, memancing esmosi dari mertuanya ini.


"Kau bilang apa! Putriku kelelahan! Sudah aku bilang jangan buat putriku bekerja, dasar menantu kurang garam!"


"Jangan memarahi anakku makhluk pelit!"


"Biar saja! Dia memang pantas dimarahi, karena dia sudah membuat anakku sakit!"


"Aku sudah bilang dia tidak sakit, dia hanya kelelahan Papa mertua. Jangan marah-marah seperti itu. Hargailah usaha kami yang sedang berusaha mencetak cucu untukmu," jawab Rasya santai, bahkan senyum mengembang terus menghiasi bibirnya.


"Apa kau bilang!"

__ADS_1


***


Like dan komentarnya mana nihh, di statistik yang baca banyak. Tapi yang like sama komentar sedikit. Kan Mimin jadi sedih 😌🥲


__ADS_2