
Sesuai keinginan Kris, Kania pun memutuskan bertemu dengan ibu dari kekasih hatinya. Jantungnya berdentam kuat, begitu tiba di depan restoran yang sudah di reservasi oleh sang kekasih.
"Kenapa? Gugup?" tanya Kris saat membukakan pintu mobil untuknya.
"Sedikit," jawab Kania.
Kris tersenyum dan mengajak Kania keluar. Ia menggenggam tangan sang kekasih yang berkeringat. Kris sadar, ada banyak rasa khawatir dalam diri Kania. Terlebih, sang kekasih merasa tak percaya diri.
Kania bukanlah artis ternama. Ia juga tidak memiliki keluarga, tidak memiliki harta, bahkan, management yang menaunginya tergolong kecil. Tidak ada yang bisa Kania banggakan selain wajahnya yang cantik.
"Jangan merasa rendah diri. Mama tidak akan memandang materi." Kris mencoba meyakinkan sang kekasih.
Kania menganggukkan kepala mengerti. Mereka pun menuju ruang VIP di lantai dua. Pintu geser itu terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya dengan tampilan ala sosialita. Cantik, anggun, dan mempesona.
Melihat itu, Kania semakin tidak percaya diri. Semua kepercayaan diri yang ia bangun sejak dari rumah hilang tak bersisa. Kini, gadis itu hanya bisa menundukkan kepala.
Kris mengangkat dagu Kania. Meminta gadis itu untuk tidak perlu khawatir. Kania mengerti dengan tatapan Kris. Ia pun mencoba membangkitkan rasa percaya diri itu lagi.
You can do it, Kania! gumamnya dalam hati.
Pasangan itu pun duduk di hadapan Nyonya Tama. Wanita paruh baya yang sempat Kania takuti itu tersenyum hangat. Seketika, persepsi Kania berubah tentangnya.
Astaga, ternyata pepatah yang bilang 'jangan menilai buku dari sampulnya' itu benar. Aku jadi malu. Wajah Kania memerah. Gadis itu menahan senyum dengan menggigit kecil bibirnya.
Kania pun mencium tangan ibu dari kekasihnya. Nyonya Tama masih tersenyum ramah. Kemudian, Kania kembali ke bangkunya.
"Jadi, kamu Kania?" tanya Nyonya Tama dengan nada suara yang terdengar lembut.
Karena itu, Kania mulai merasa relax berhadapan dengan ibu dari sang kekasih. "Iya, Tante," jawab gadis itu.
"Cantik. Kamu berhasil menaklukkan hati anak saya," ucap Nyonya Tama penuh penekanan.
"Terima kasih atas pujiannya." Bagi Kania, ucapan Nyonya Tama terdengar seperti sebuah pujian.
Tak lama, pelayan masuk dan menghidangkan makanan yang sudah dipesan lebih dulu oleh Nyonya Tama. Sambil makan, ibu dari sang kekasihnya itu pun mulai mempertanyakan banyak hal.
__ADS_1
Kania pun menjawab apa adanya. Mulai dari status keluarganya, hingga pekerjaan yang ia jalani saat ini. Tidak ada yang berubah dari raut wajah Nyonya Tama. Namun, hati kecil Kania merasa ada yang aneh dengan senyum dari ibu sang kekasih.
Apa ini hanya perasaanku saja? Kenapa senyum mamanya Kris terlihat berbeda? gumam Kania dalam hati. Kania pun larut dalam pikirannya sendiri.
"Ah, berhubung saya ada rapat, saya permisi duluan, ya," pamit Nyonya Tama setelah menyelesaikan makannya. "Kris, jangan lupa antar Kania dengan selamat," imbuh sang ibu.
Nyonya Tama menepuk bahu sang putra lembut. Kris pun mengangguk senang. Setelah itu, Nyonya Tama pun menghilang dari ruangan. Kania bahkan belum menyadarinya.
"Kenapa bengong?" tanya Kris setelah pintu ruangan tertutup.
"Gak, kok," elak Kania yang baru saja tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum pada sang kekasih. Mungkin, itu hanya ketakutan ku saja. Semoga, harap Kania.
Jauh di lubuk hati, gadis itu merasa bila Nyonya Tama tidak akan bisa menerima dirinya. Namun, wanita itu berpura-pura di depan sang putra. Kania tidak mengatakannya pada sang kekasih. Ia tak ingin membuat Kris dan sang ibu bertengkar hanya karena hal yang belum pasti.
***
Kania baru saja menyelesaikan syuting. Ia sedang mengganti pakaiannya di ruang ganti. Dering ponsel, membuatnya segera menggunakan kaus yang telah ia siapkan.
"Halo," sapa Kania begitu panggilan tersambung.
"Bisa kita bertemu."
"Tidak usah sok akrab dengan saya! Kamu boleh memanggil saya seperti itu, hanya di depan Kris! Mengerti!"
"Maaf, Nyonya," jawab Kania lirih.
"Temui saya, di tempat yang akan saya kirimkan. Jangan beritahu Kris!"
Panggilan terputus secara sepihak. Kania menghela napas lelah. Ternyata, apa yang ia rasakan benar terjadi. Dari nada bicara Nyonya Tama, bisa dipastikan wanita itu tidak merestui hubungan mereka.
Di tengah kegalauannya, sebuah pesan masuk datang. Kania segera membaca pesan itu. Ia menatap jam tangan yang melingkar di lengannya.
"Aku harus berangkat sekarang." Kania segera meninggalkan ruang ganti.
Di mobil, Dirga sang manager sudah menantinya. Namun, Kania tak ingin Dirga mengantarkannya pulang. Gadis itu berkata, bila ia ada urusan lain.
__ADS_1
"Lo yakin, gak perlu gue temenin?" tanya Dirga.
"Gak usah, Mas. Ini masalah perempuan," bisik Kania pada Dirga.
"Kayak gak biasa aja Lo!" Dirga terkekeh mendengar alasan Kania.
Pria itu pun tak memaksa lagi, saat melihat Kania tersenyum seperti biasa. Ia yakin, artis yang ditanganinya tidak akan membuat masalah yang mungkin akan menghancurkan image-nya.
***
Kania segera menuju ruangan yang ada di pesan masuk tadi. Di sana, ibu dari Kris sudah menunggunya. Dengan gaya yang elegan, wanita itu menatap rendah Kania.
"Duduk!" perintah Nyonya Tama.
Gadis itu pun menuruti ucapan Nyonya Tama. Kini, mereka saling berhadapan. Kania meremas tangannya yang berada di bawah meja. Berusaha mengenyahkan pikiran negatif dari otaknya.
"Kamu tahu alasan saya meminta kamu datang?" tanya Nyonya Tama tanpa basa-basi.
Melihat Kania tak menjawab, Nyonya Tama mengambil tasnya. Ia mengeluarkan buku cek dari sana. Kemudian, menuliskan sesuatu di atasnya.
"Ini, 'kan yang kamu mau?" Nyonya Tama mengulurkan cek tersebut.
Kania melirik isi yang tertulis di sana. Tidak ada nominal yang tertera. Bukankah itu berarti Kania diperbolehkan meminta berapa pun yang ia mau?
"Anda, ingin saya meninggalkan Kris?" tanya Kania. Sudah cukup paham dengan apa yang diinginkan wanita di hadapannya ini.
Ternyata, kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di dunia sinetron, pikir Kania.
"Tepat sekali! Tinggalkan anak saya! Kamu tidak pantas untuk dia!" Nyonya Tama menatap nyalang pada Kania.
Kania menarik napas panjang, lalu mendorong cek itu pada Nyonya Tama. Wanita yang berstatus ibu dari kekasihnya itu mengerutkan dahi.
"Saya yakin, Kris akan kecewa jika mengetahui hal ini." Kania menjeda ucapannya, "Karena menurut dia, Anda, adalah sosok ibu yang mengutamakan kebahagiaan anaknya," lanjut Kania.
"Kau tidak perlu memberitahu Kris. Cukup tinggalkan dia dengan tenang." Nyonya Tama bersedekap, seraya menatap remeh pada Kania.
__ADS_1
"Sayangnya, cinta saya pada Kris tidak bisa, Anda, nilai dengan uang. Saya permisi." Kania bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
Nyonya Tama mengeratkan rahangnya mendengar jawaban Kania. "Jika kau tetap menikah dengan Kris, akan kubuat kau menderita seumur hidupmu! Lihat saja nanti!"