Mertua Vs Menantu

Mertua Vs Menantu
Bab 39


__ADS_3

Di rumah itu, suara piring dan sendok terdengar silih beradu diiringi suara gelak tawa dan juga obrolan ringan, yang menjadikan acara makan malam pun berjalan dengan lancar. Tak ada pertengkaran ataupun adu mulut antara Deo dan juga Inaya. Itu karena mereka menahan mulut gatal mereka untuk tidak saling menyerang. Yang benar saja, jika mereka harus menikah, mereka tidak akan cocok dan juga pasti mereka tidak akan bisa menebar benih karena untuk berdekatan saja mereka berdua merasa gatal.


Setelah acara makan malam selesai mereka pun mengobrol sebentar dan kemudian keluarga Deo pun pulang. Dan inilah saat bagi Deo untuk membicarakan masalah ini di rumah. Untuk itu, ia sudah tak sabar untuk bisa segera sampai ke rumahnya.


Dan setelah kepulangan keluarga Deo, Inaya langsung menatap kearah Mamahnya yang sedang tersenyum bahagia. Inaya menghela napas berat, ia merasa tak tega. Akan tetapi, ia juga berhak bahagia bukan. Tak mungkin ia menikah dengan orang yang ia cintai, bahkan Deo adalah orang sangat tak ia sukai. Apa jadinya jika ia sampai menikah dengan Deo, pikir Inaya.


"Mah, bisa kita bicara sebentar?" ucap Inaya pada Sintia.


Sintia yang sedang melihat pesan di ponselnya pun tersenyum pada putrinya, ia mengangguk setuju. "Iya sayang, tentu. Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sintia pada putrinya ini.


"Tentang perjodohan ini, aku tidak mau menikah dengan Deo," ujar Inaya tanpa basa-basi dan juga langsung bicara pada intinya. Putri dari asistent Ivan ini memang mempunyai sifat yang selalu to the point jika bicara.


"Apa kau bilang?" Sintia cukup terkejut mendengar pernyataan dari putrinya ini, kenapa ia menolak perjodohan ini di saat, calon dari suami dan juga besannya itu sudah datang ke rumah mereka. Bahkan mereka sudah mengobrol panjang lebar tentang masa depan mereka. Sintia sungguh tak habis pikir dengan pikiran dari putrinya ini. Kenapa ia ingin menghancurkan mimpi yang baru saja aan di bangun.


"Mah, aku tidak mencintai Deo. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai," tutur Inaya.


"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Kenapa tidak kau katakan saja, saat Mamah menawarkan putra dari sahabat Mamah yang sedang mencari calon istri. Kenapa kau tidak langsung menolaknya? Kenapa baru sekarang kau mengatakan hal ini pada Mamah, di saat mereka sudah datang ke rumah ini dengan baik-baik Inaya. Ada apa denganmu!" Sintia kesal dan pergi duduk sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.

__ADS_1


Saat ini Ivan berada dalam posisi yang serba salah, di satu sisi ada putrinya dan sisi lain ada istrinya. Kedua perempuan ini adalah orang-orang yang sangat Ivan cintai. Ia tak mau kedua orang yang sangat penting di hatinya itu terluka.


"Karena saat itu aku tidak tahu jika pria itu adalah Deo, dia adalah pria yang sangat menyebalkan. Dia bermulut besar, dan senang sekali mengejekku. Jika Mamah tidak percaya, Mamah bisa tanyakan saja pada Papa," jelas Inaya yang kini duduk di samping Sintia yang tengah menunduk sambil memijat kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Sintia, apa kau tidak bisa membatalkan perjodohan ini?" tanya Ivan hati-hati.


Sintia yang sedang menunduk pun langsung menatap tak percaya pada anak dan juga suaminya, ia menggelengkan kepalanya yang semakin terasa berdenyut itu.


"Astaga! Aku tidak percaya kalian berdua tega melakukan semua ini padaku. Dari sejak awal, aku sudah memperlihatkan orang yang akan datang kemari. Dan kalian berdua sama sekali tidak ingin melihatnya dan menyerahkan semuanya padaku. Tapi sekarang lihatlah apa yang kalian berdua lakukan. Kalian benar-benar tidak punya perasaan!" sentak Sintia kesal.


Inaya dan Ivan saling pandang, karena memang benar dengan apa yang dikatakan oleh Sintia. Jika mereka memang menyerahkan semuanya padanya. Karena sejujurnya, Inaya malas dengan perjodohan ini. Ia mau dijodohkan dengan anak dari sahabat Mamahnya, hanya karena ia ingin melupakan Rasya dengan memiliki kekasih. Akan tetapi, Inaya bahkan tidak ada waktu untuk hal itu. Untuk itulah ia menerima tawaran dari Sintia untuk dijodohkan dengan putra dari sahabat Mamahnya. Yang awalnya, ia juga tidak tahu jika pria yang akan dijodohkan dengannya itu adalah Deo, Doraemon cerewet yang selalu merusak hari-harinya. Jika saja ia tahu semua ini dari awal mungkin ia akan menolaknya. Sayangnya semua ini sudah terlambat, dan semua itu karena salah Inaya yang memang tak ingin mencari tahu pria yang akan dijodohkan dengannya.


"Mah, Deo itu mencintai Sabrina. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak mencintaiku," ucap Inaya, masih berharap jika Sintia akan membatalkan perjodohan ini.


"Bukankah kau juga mencintai Rasya, jadi apa bedanya denganmu?"


"Aku menerima tawaran Mamah karena aku ingin melupakan Rasya,"

__ADS_1


"Deo juga mencari seorang istri karena ia juga ingin melupakan Sabrina. Kalian sama-sama ingin melupakan orang yang kalian cintai lalu kenapa kalian tidak mencobanya Inaya!"


"Tapi jangan dengan Deo Mah, memangnya tidak ada pria lain lagi apa?" Inaya dibuat frustasi dengan perjodohan dengan pria yang sangat tidak ia sukai. Ia berharap jika papanya akan membantunya membatalkan perjodohan ini, tapi nyatanya melihat Sintia kesal nyali pria bertubuh kekar ini langsung menciut, dan langsung terdiam membisu.


Ivan hanya mampu terdiam mengahadapi masalah ini, ia tidak ingin menentang Sintia karena itu akan berpengaruh pada jatah aye-ayenya nanti. Jadi, demi kesejahteraan gagang sapu ia memilih diam saja. Jika sampai nanti Deo menikah dengan Inaya, sepertinya ia akan berguru pada asistent pelit yang mampu sedikit mengendalikan kesabarannya saat menghadapi menantu durjananya. Ya ... asistent pelit itu hanya mampu mengendalikan sedikit kesabarannya. Karena tiap kali bertemu dengan menantunya itu, ia pasti adu mulut dengannya.


"Ada, tapi apa kau bersedia menikah dengannya?" tanya Sintia serius.


"Siapa?" tanya Inaya, karena ia tidak mau lagi salah pilih apalagi salah melangkah dalam mencari suami untuk mendampinginya seumur hidup.


"Sony," jawab Sintia tersenyum licik, ia sangat tahu jika Sony bahkan lebih ia benci dibandingkan ia membenci Deo.


"Apa!"


"Oh astaga, Mamah memang menyelamatkan aku dari lubang singa. Tapi Mamah memasukanku pada kolam ikan piranha. Kenapa tidak cekik aku saja!" kesal Inaya, bisa-bisanya Sintia ingin menjodohkannya dengan Sony yang bahkan menyebalkannya lebih dari Deo. Sony bahkan memiliki mulut yang sangat pedas jika bicara. Dan hal itu selalu memancing Amarah Inaya sampai ke ubun-ubun.


***

__ADS_1


Kasih like dam komentar dong, biar Mimin semangaaaattt upnya 😌😚


__ADS_2