
"The best healing is art"
Lusi berdiri di hadapan Dara, kedua putri Dara, mbok Inem dan Rani.
Dengan menekuk tubuh semampai nya pada posisi ruku', satu tangan disedekapkan ke arah perut nya yang langsing, satu tangannya lagi terentang pertanda menyilahkan.
Lusi bergaya layaknya pemandu wisata terkemuka.
"Hahahaha... gaya nya kayak paling paham sama art"
Dara terkekeh.
Yang lain ikut tertawa.
... ***...
"Bunda, Adek mau jajan"
Rengek Alsava pada Dara.
"Mmmm .. Adek bosan ya?"
Tanya Dara dengan menangkupkan tangannya ke dagu putri bungsu nya itu.
Alsava mengangguk.
"Ok tapi Adek jajan nya bareng mbok Inem iya, Bunda masih mau keliling dulu" Bujuk Dara.
"Oke Bunda" Jawab si gadis kecil semangat.
"Mbok, tolong temenin Alsava dulu ya"
Pinta Dara pada mbok Inem yang sudah menggandeng tangan Alsava.
"Iya neng" Jawab mbok Inem.
"Dan ini mbok, disana ada selebaran tentang galeri ini juga jadi bisa lihat denah lokasi kantinnya dimana"
Dara mengulurkan dompet wristlet yakni dompet yang di desain untuk bisa dilingkarkan pada pergelangan tangan berwarna hitam miliknya kepada mbok Inem.
"Aku ikut Alsava juga deh, boleh?"
Kali ini Lusi ikut merengek kepada Dara.
"Kakak juga ikut deh Bun"
Giliran Azkia yang turut merengek.
"Rani, kamu gak sekalian ikut mereka juga?"
Tanya Dara pada Rani yang belum terdengar suara rengekannya.
Rani menggeleng sambil tersenyum.
"Gak, biar saya nemenin Ibu aja" Ucap Rani.
"Yakin?" Tanya Lusi pada Rani.
__ADS_1
"Iya Bu, suer yakin Bu" Jawab Rani pula.
Berlalu lah mereka semua menuju tempat jajan alias kantin di galeri ini yang terkenal menyajikan santapan bercita rasa lezat.
... ***...
Rani telaten mengikuti arah kursi roda yang Dara kendalikan.
Menyusuri satu pigura menuju pigura lainnya yang berhiaskan semburat warna warni, menanam ingatan akan potret tersirat realita sebuah kehidupan dalam bentuk lukisan.
Dara yang notabenenya penyuka seni lukis dan pernah mengikuti kelas lukis merasa takjub dengan keadaan di sekitarnya saat ini.
Dari luar, bangunan galeri ini berarsitektur minimalis dengan hanya menggunakan satu warna yaitu putih saja.
Di dalamnya, baru saja memasuki galeri pengunjung sudah di suguhi kehadiran pepohonan dan beberapa jenis bunga yang di tanam tepat di bagian tengah area bangunan.
Sekitaran galeri ini terlihat bersih sekaligus mewah dengan penggunaan marmer berwarna abu-abu pada lantainya.
Beberapa lampu kristal yang tergantung tidak hanya mempertegas pencahayaan dalam ruangan namun juga memberi kesan dramatis yang memanjakan mata.
Belum lagi fasilitas yang bukan hanya lengkap tapi juga memadai. Seperti yang tertera dalam selebaran yang di bagikan karyawan galeri ketika baru hendak masuk ke muka pintu galeri.
Bahwa galeri ini di tunjang dengan beberapa fasilitas umum tambahan. Antara lain;
Tempat ibadah
Aula
Ruang terbuka
dan yang paling mengusik hasrat Dara adalah keberadaan,
Ruang melukis
Sehingga benar pandangan Lusi tadi bahwa tempat ini adalah best healing.
...***...
Benar-benar tidak menyesal Dara menerima ajakan Lusi untuk menghadiri pameran lukisan pelukis kawakan di galeri ini.
Dara yang merasa tertekan dengan kondisi yang Ia alami akhir-akhir ini kini merasa beban nya melayang. Lelah dan gundahnya pun seakan menguap di udara.
Kesal, sedih, kecewa yang di berikan oleh Lukman dan Kiki serta letih fisik dan capek hati dalam menjalani terapi bersama si es, dokter Angga, semuanya melebur jadi sebuah rasa yang patut di beri nama 'kelar'.
Semua perasaan gelap yang Dara rasakan tertuang dalam ukiran di atas kanvas.
"Marah sekaligus sedih"
Suara yang keluar dari mulut pria bertopi jenis flat cap warna cokelat itu mengejutkan Dara yang tengah tekun menggerakkan tangannya di atas kanvas.
Ya. Dara sedang melukis.
Tidak ingin melewatkan kesempatan Dara memanfaatkan ruang melukis yang di sediakan oleh pihak galeri ini.
__ADS_1
Siapa sangka ternyata ada orang lain selain Dara dan Rani di ruangan ini dan lebih mengejutkannya lagi, laki-laki yang tampak lima tahun lebih muda dari Dara itu sepertinya faham betul mengenai lukisan sebab makna dari lukisan yang Dara lukis tadi itu memang mengenai kemarahan sekaligus kesedihan seperti yang di katakan laki- laki itu tadi.
"Klasisme, Romantisme, Realisme, Naturalisme, Ekspresionisme, Surealisme, Abstrak, Gotik, Futurisme, Konstruktivisme? Nona bagian yang mana?"
Cecar laki-laki itu antusias pada Dara.
Sementara matanya masih penuh binar kagum memandangi kanvas berisi lukisan karya Dara.
"Entah lah, saya tidak yakin bagian yang mana. Yang saya tahu pasti hanya, saya penikmat warna"
Jawab Dara yang mulai meletakkan peralatan lukisnya ke atas meja yang tersedia.
Dara mengendalikan tuas kursi roda nya sehingga alat bantu bagi orang lumpuh itu otomatis mundur beberapa jarak dari tempat semula.
Dara memandangi hasil lukisannya yang entah telah menghabiskan waktu berapa jam pengerjaan.
"Kenapa Tuan mengira ini adalah marah dan sedih yang berpadu?"
Tanya Dara pada Laki-laki yang tidak Ia ketahui namanya itu.
"Karena ada kenangan atas pengalaman batin yang seketika berasa ketika saya memandang lukisan Nona"
Dara terhenyak mendengar penuturan Laki-laki itu.
'Benar kah sedemikian terasa atau cuma karena laki-laki ini jeli, cermat, dan teliti dalam mengamati lukisanku?'
Tanya Dara pada hatinya yang merasa heran bagaimana laki-laki muda di hadapannya ini bisa benar dalam menafsirkan makna lukisan yang Dara buat.
"Nona penikmat warna, selain inspirasi tahu kah Anda apa yang membuat sebuah lukisan menjadi maha karya?"
Mendengar nada rendah namun dalam yang keluar dari pita suara laki-laki itu seolah membius setiap pendengarnya untuk menjadi lawan bicara yang baik.
Seperti Dara saat ini yang mulai merasa asyik menikmati rangkaian percakapan meski tidak tahu siapa lelaki di samping nya itu.
"Apa yang membuat sebuah lukisan menjadi maha karya?"
Dara melempar tanya yang sama.
"Hahaha.. persis seperti hidup. Nona menjawab pertanyaan dengan tanya"
Laki-laki itu kini sedikit menggeser posisi tubuhnya sehingga tanpa sadar Ia memandangi berlanjut dengan menikmati paras wajah ayu milik Dara.
"Tuan, karena tidak tahu itulah kenapa aku kembali bertanya"
Ungkap Dara yang hanya sepintas lalu menatap si 'Tuan' lawan bicara nya itu.
"Perjalanan hidup. Itu lah yang membuat sebuah lukisan dapat menjadi maha karya sebab, perasaan berdasarkan pengalaman yang di tuangkan dalam warna di atas kanvas adalah nyawa bagi sebuah karya. Seperti lukisan Nona ini"
Jelas si 'tuan' pada si 'nona'.
Menit demi menit berikutnya berlalu tanpa berasa hingga hampir hitungan jam.
Dara dan laki-laki yang masih saling belum tahu nama masing-masing itu tampak betah berlama-lama di depan lukisan karya Dara melalui putaran jam dengan perbincangan hangat seputar perbandingan makna sebuah lukisan dengan kehidupan nyata.
"Nona, boleh kah saya menyimpan lukisan karya ini di galeri handphone saya berikut dengan potret gambar diri sang pelukis?"
Pinta sekaligus tanya lelaki itu di iya kan oleh Dara dengan anggukan dan senyuman.
__ADS_1
... ***...