
"Bunda!" Alsava girang menyambut kedatangan Dara.
Gadis kecil yang tadi ketakutan itu kini sudah kembali menjelma menjadi sosok periang sebagaimana biasanya.
"Ayo! ayo! kita makan. Bunda juga udah pulang. Ayo kita makan bareng-bareng"
Deg.
Jantung Dara berdetak lebih kencang dari biasanya mendapati Lukman ada di rumahnya.
"Ayo Bunda. Ayah masakin nasi goreng mie kesukaan kita lho!" antusias Alsava.
Selain karena ingin menyenangkan hati Alsava, jam yang sudah menunjukkan waktu makan malam juga membuat Dara tidak menolak ajakan Lukman dan putrinya.
Mereka beriringan menuju ruang makan. Di kursi meja makan sudah duduk Azkia, putri sulungnya. Ada mbok Inem dan pak Saleh juga disana. Tidak lama kemudian Rani ikut menyusul setelah di panggil langsung oleh Lukman.
Aroma nasi goreng buatan Lukman menggelitik indera penciuman Dara. Membuat tubuhnya segera menempatkan diri di kursi yang tersedia. Menyantap hidangan dengan lahap. Memberi kedamaian pada perutnya yang memang sudah lapar sejak dari tadi. Sehingga mematikan hasratnya untuk bertanya maksud kedatangan dan perlakuan Lukman.
Tidak ada perbincangan intens antara Dara dan Lukman. Di meja makan itu, yang terdengar hanya gelak tawa serta canda riang dari seorang Ayah bersama anak-anaknya.
Jika dulu hal seperti itu adalah pemandangan yang lumrah terlihat di kediaman Dara. Namun sedari Lukman berpoligami, kegiatan yang demikian tidak lagi pernah terjadi. Kecuali hari ini.
"Bunda, malam ini Ayah bobok sama Adek dan Kakak ya" pinta Alsava.
Mendengar hal itu Dara memandangi lekat wajah putri bungsunya itu. Ia geser piring dan gelas di hadapannya yang masing-masing isinya sudah tandas Ia habiskan. Lalu penuh kelembutan Dara berusaha memberi sang putri pengertian,
"Sayang, Ayah kan punya rumah sendiri ... jadi, Ayah gak bisa tidur disini. Kalau Ayah disini nanti siapa yang jaga rumah Ayah. Ya kan?"
"Kan ada Jiddah Bunda!" seru Alsava memberi saran.
Menyaksikan putrinya tidak langsung menyerah dengan penuturan yang Dara sampaikan membuat hati Dada merasa iba.
'Apa sebegitu besarnya keinginanmu untuk bersama Ayah Nak?'
"Adek gak boleh maksa gitu. Lagian Ayah kan gak mau pisah dari Tante Kiki" cetus Azkia.
Semua yang ada disana tercengang dengan ucapan Azkia. Gadis yang berumur tujuh tahun itu sepertinya telah mematri dalam benak pikiran dan perasaannya bahwa sang Ayah bukan lagi milik mereka seutuhnya.
"Tapi Tante Kiki itu jahat Kak! kan Adek udah ceritain ke Kakak gimana jahatnya Tante Kiki sama Mbak Rani tadi." Alsava menyahuti ucapan Kakaknya.
"Iya. Jahatnya kan sama Mbak Rani bukan sama Ayah. Oh iya! jahat sama Bunda juga. Kita bobok berdua aja kalau gak bertiga sama Bunda. Oke ya Dek" Azkia berusaha membujuk Adiknya.
Alsava menggeleng. Gumpalan cairan bening mulai menumpuk di pelupuk matanya.
"Dara, izinkan aku menginap disini untuk malam ini saja, ku mohon" Lukman memelas pada Dara.
"Gak! Ayah gak boleh tidur disini! Azkia gak mau tidur sama Ayah!" teriak Azkia.
"Tapi Adek rindu Ayah. Adek mau bobok sama Ayah" lirih Alsava.
Dara mengepalkan tangannya di bawah meja. Pikirannya kacau harus menentukan apa dan bagaimana atas keinginan kedua putrinya.
__ADS_1
Lukman yang akan bermalam di rumahnya tidak di kehendaki oleh Azkia. Sementara si pencetus ide, Alsava bersikukuh ingin tidur di temani Ayahnya. Sedangkan Dara sendiri berhasrat sama dengan Azkia.
Dara sungguh tidak ingin lagi melihat Lukman berlama-lama di rumahnya apa lagi harus menginap segala. Kenangan indah lengkap dengan kenangan buruk yang telah Ia lalui bersama Lukman mengendap di kepala dan hati Dara. Membuat perasaannya berasa kacau.
Jika di ikuti kata hati dirinya dan Azkia, bagaimana pula dengan perasaan Alsava. Terlebih Alsava mestinya harus dalam suasana tenang agar efek akibat menyaksikan keributan yang di perbuat Kiki tadi tidak semakin memperburuk kondisi psikologisnya. Dara benar-benar bingung di buatnya.
"Kak Azkia, maafin Ayah ya jika sudah bikin Kakak marah sama Ayah. Tapi kali ini Ayah mohon sama Kakak agar mengizinkan Ayah menemani Adek Alsava tidur, untuk malam ini saja. Please."
Lukman yang tidak lagi di kursi makannya sudah berlutut di hadapan Azkia. Tidak ada yang dapat membaca arti raut wajah yang tersirat dari Azkia.
"Hanya malam ini dan tidak di kamar kami. Silahkan ajak Adek tidur di kamar tamu."
Azkia melunak meski Ia merespon permohonan sang Ayah dengan kalimat dan ekspresi yang dingin.
"Terimakasih Kak. Jadi, soal maafnya gimana? Ayah di maafin gak nih?" Lukman penasaran.
Zreggg.
Bunyi kursi makan yang di tempati Azkia telah bergeser dari tempat semula. Di tinggalkan begitu saja oleh Azkia tanpa sepatah pun merespon ucapan Lukman, Ayahnya.
'Benarkah tidak ada maaf untuk Ayahmu ini Nak?' Lukman merasa iba yang teramat menyentuh relung hatinya.
'Lihat. Ini lah akibat dari luka yang kamu torehkan untuk putri sulung kita demi membahagiakan keluarga kedua mu Mas!' geram Dara dalam batinnya.
...***...
Tok.
Tok.
Tok.
"Dara, ini aku. Bisakah kita bicara sebentar?"
'Mas Lukman? bukannya menemani Alsava tidur. Mau apa dia malam-malam begini kesini' Monolog Dara.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu kembali di ketuk. Dara menutup map berisi berkas di atas meja kerjanya. Dengan malas Ia melangkah ke arah pintu.
Ceklek.
"Kita bicara di luar. Di ruang tengah!"
Dara melewati Lukman, mendahuluinya menuju ruang tengah yang di maksud.
"Katakanlah! ada apa lagi?" desak Dara tanpa basa-basi pada Lukman agar langsung ke inti permasalahan.
__ADS_1
"Masalah perceraian. Coba lah kamu pertimbangkan lagi. Lihatlah hari ini! Jika saja kamu tidak harus ke kantor maka Alsava tidak perlu ikut denganmu. Sehingga tidak harus menyaksikan kejadian yang tidak pantas di lihat oleh anak seumurnya. Jangan hanya mementingkan egomu Dara. Pikirkan juga bagaimana nasib anak-anak kita, ku mohon."
"Kamu kesini hanya untuk mengulangi inti kalimat yang sudah kamu sampaikan di kantor tadi Mas?" Dara bertanya sinis.
"Tidak. Awalnya aku kesini hanya untuk memastikan kondisi Alsava baik-baik saja dan sekalian aku juga ingin melepas rindu dengan Azkia. Tapi saat menghabiskan waktu bersama mereka dan melihat anak-anak tertidur, aku benar-benar tidak bisa menerima perceraian di antara kita Dara,"
Air mata keluar di sudut mata Lukman hingga mengaliri rahang tegas yang menjadi salah satu daya tarik dari ketampanan yang dimilikinya.
"Apa pun. Apa pun akan aku lakukan demi mendapatkan maaf darimu Dara. Ayo kita mulai kembali membina keluarga yang bahagia seperti dulu. Lihatlah bagaimana cerianya anak-anak di meja makan tadi. Tidakkah kamu bahagia melihat anak-anak kita begitu sayang?
Lukman menatap lurus ke dalam mata Dara. Berharap menemukan sekilas harapan yang sama dengan dirinya dalam kedua mata yang selalu Ia puja keindahannya itu.
"Dara sayang, kita pernah begitu bahagia sebagai pasangan dan keluarga. Jika dulu itu bisa terjadi maka bukan mustahil kita sekarang kembali berbahagia lagi. Kehadiran Kiki memang sempat membutakan mata hatiku hingga menyakiti hati kalian. Tapi percayalah sedikit pun rasa sayang dan cintaku terhadapmu juga anak-anak tidak pernah sekali pun berkurang. Kiki selama ini selalu mengikatku dengan kondisi kehamilannya sehingga aku begitu sulit membagi waktu untuk kalian. Untuk kesekian kalinya aku mohon maafkanlah aku. Lupakan tentang perceraian dan mari kita rajut kembali kebahagiaan kita seperti sediakala. Jika pun tidak ada lagi cintamu untukku maka izinkan aku kembali berjuang mendapatkannya. Hingga akhirnya yang ku berikan untukmu dan anak-anak kita hanyalah bahagia."
Dara menatap Lukman lekat. Dara bimbang benarkah dalam keseriusan yang Lukman ucapkan juga disertai dengan ketulusan?
Bagaimanapun ucapan Lukman tentang anak-anak mereka yang begitu bahagia dan riang bercanda ria dengan Ayahnya di meja makan memang membuat rasa haru dan senang menyelip di hati Dara.
Dan benar adanya bahwa kebahagiaan anak-anaklah yang selalu jadi prioritas Dara selama ini. Dara juga yakin serta percaya bahwa Kiki selama ini memang telah menjerat Lukman dengan tipu daya lewat kehamilannya. Mengingat betapa Kiki itu adalah seorang perempuan licik lagi busuk.
Ahhh. Belum lagi ungkapan Lukman kepada Kiki sebelumnya yang terlihat begitu sungguh-sungguh bahwa Lukman menyesal telah menikahi Kiki.
Dara yang lama terdiam sebab fokus dengan pikirannya menghela nafas panjang.
"Kamu benar akan melakukan apa pun demi mempertahankan rumah tangga ini Mas?"
Dara serius menatap Lukman.
"Ya sayang. Aku akan melakukan apa pun!" tegas Lukman sambil menatap Dara tak kalah seriusnya.
"Bersediakah kamu menceraikan Kiki?" tanya Dara.
Lukman semakin menatap Dara dengan tatapan serius dan tajam. Dengan keyakinan penuh dalam suara yang Ia keluarkan, Lukman menjawab pertanyaan Dara.
"Ya. Aku akan menceraikan Kiki!"
... *** ...
**Haii para pembaca semuanya😊
Semoga kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan senantiasa menemani hari-hari kita🤲
Terimakasih yaa sudah setia membersamai perjalanan hidup Dara🤗
Jangan bosan-bosan dan terus ikuti perjuangannya yaa🥰🙏
Boleh donk penulis dapat like, vote, maupun hadiah dari para pembaca semua😁🙏🙏
Buat yang udah ngasih dan bakal ngasih makasih lho🤩
Selamat menunggu beduk buka puasa🤗🤗🤗**
__ADS_1