
Terdengar suara raungan isak tangis dari ruang terapi yang di handle oleh dokter Angga.
"Aku mohon kita cukup kan saja dokter"
Dara Herlambang, perempuan lumpuh itu terlihat duduk terkulai di atas lantai. Tangan kanan nya masih bergantung pada pinggiran tiang penyangga alat bantu berjalan sementara tangan kirinya gontai memegangi tungkai kaki nya yang sedari tadi mengalami nyeri hebat tak terperi.
"Apa sakit sekali?"
Dokter Angga mengulurkan sebuah sapu tangan pada Dara yang menangis. Tangisan Dara itu entah karena rasa sakit dari kakinya atau sebab luka di hatinya.
"Jika yang kamu maksud kaki ku? ya. Rasanya sakit namun tidak lebih sakit dari jiwa ini, sungguh sakit sekali rasanya dok saat aku terus berusaha bahkan memberikan yang terbaik dari upaya ku namun kenyataannya belum juga membuat ku mampu kembali melangkah sendiri"
Dara mengurai tangis, kini suaranya tidak terdengar sepertinya sudah tertelan oleh rasa sakit yang teramat dalam.
Sudah hampir masuk hitungan setengah tahun Dara mengunjungi klinik ini berdasar rekomendasi dari dokter di luar negeri demi menyembuhkan kaki nya dari kelumpuhan.
Setiap arahan yang di berikan oleh dokter Angga selaku dokter yang bertanggung jawab atas pemulihan nya sigap Dara laksanakan.
Mulai dari pemeriksaan penunjang yang berulang kali di lakukan seperti, foto rontgen, CT scan, MRI, elektromiografi (EMG), lumbal pungsi.
Tak luput pula teratur Ia konsumsi beragam bentuk pil yang di resepkan dokter Angga sebagai media penyembuhan dari dalam.
Hingga rutin mengikuti terapi yang tak jarang proses nya menimbulkan rasa sakit teramat nyeri seperti hari ini.
Semua tekun Dara lakoni. Namun mirisnya Dara tetap masih belum bisa berjalan.
"Dokter, kamu tahu? yang kamu katakan bahwa harapan adalah hal yang paling berbahaya dalam hidup, ternyata itu benar. Bila saja aku tidak berharap terlalu tinggi akan bisa berjalan lagi barangkali sakit nya kecewa tidak lagi kembali ku rasa" Dara menatap nanar kedua kakinya.
Dokter Angga sama sekali tidak menanggapi ungkapan Dara tersebut. Dokter Angga lantas berdiri lalu meninggalkan Dara yang meratapi kondisinya seorang diri.
...***...
"Bunda" Sapa Azkia, putri sulung Dara.
Dua gadis kecil kesayangan Dara dengan dokter Angga mengekori di belakang mereka kini sudah berada di ruangan terapi dan menghampirinya.
Alsava yang berjalan di depan Kakak perempuan nya karena melihat sang Bunda duduk di lantai, tanpa pikir panjang, spontan ikut pula duduk berselonjor di samping nya.
__ADS_1
"Ya kak" Sahut Dara pada Azkia.
Dara lekas mengusap buliran air mata yang membasahi kedua pipinya lalu merangkul kedua putrinya yang masing-masing tanpa di minta sudah duduk bersisian dengan Dara.
'Ah anak-anak ku buah hati ku, maafkan Bunda nak, maaf kalian sering kali harus melihat Bunda dalam keadaan tidak berdaya' Lirih Dara iba dalam hati mengingat nasib anak-anaknya yang harus menyaksikan langsung ketidakmampuan Dara mencapai kata sembuh.
Azkia dan Alsava mendongak memandang wajah Dara lalu erat memeluk tubuh Bunda nya.
Untuk sepersekian menit anak beranak itu padu dalam dekapan hangat pelukan sebuah keluarga.
Yang seyogyanya simbol menguatkan dalam keadaan yang mengharuskan untuk saling memberi dukungan. Mereka larut dalam pikir rasa dan asa masing-masing.
"Bunda, tadi kakak sama adek di temani om dokter keliling-keliling di klinik ini" Azkia buka suara.
"Oh ya? gimana? senang gak?" Retoris Dara pula yang paham siapa yang putrinya itu maksud dengan sebutan 'om dokter' yaitu bukan lain adalah dokter Angga.
Memang pasca kedatangan dokter Angga ke rumah nya beberapa waktu lalu, antara Azkia, Alsava dan dokter Angga telah mengajukan permintaan pada Dara yakni, mereka ingin ikut mendampingi Dara menjalani sesi terapi walau hanya di perbolehkan menunggu di luar ruangan.
Dara mengizinkannya. Dan nyatanya kedekatan yang terjalin secara alami antara dokter Angga dan anak-anaknya membuat kedua gadis kecil itu tidak sungkan dokter Angga ajak berkeliling klinik.
"Bunda, tadi kami dapat teman baru, nama nya kak Aber. Kak Aber gak bisa jalan juga kayak Bunda dan dia katanya berobat udah lamaaaaaa banget, lama nya tahun-tahunan"
Azkia melepas pelukan nya pada sang Bunda kemudian menghadapkan tubuh mungilnya tepat di depan Dara lalu antusias melanjutkan ceritanya,
"Kakak tanya, kenapa kak Aber sudah lama berobat tapi kok belum sembuh terus kak Aber itu bilang kata dokter mungkin dia memang bakal gak bisa sembuh, kakak tanya lagi kalau sudah tahu gak bisa sembuh kenapa masih berobat? jawab kakak itu, karena dia yakin Tuhan akan bantu orang yang tidak putus asa untuk bikin keajaiban. Hebat ya kak Aber itu Bun" Tutup Azkia.
Mendengar cerita Azkia itu membuat Dara meneguk paksa salivanya yang seketika berasa pahit. Se pahit kenyataan bahwa dia yang harusnya jadi sandaran bagi kedua buah hatinya malah oleh mereka di sadarkan dari keputus-asaan.
...***...
Dara terhenyak.
Ternyata bukan menanamkan harapan yang membuat Ia kecewa melainkan upaya yang tidak kunjung menampakkan hasil membuat Dara lalai sehingga tanpa sadar mengizinkan rasa bernama putus asa menyelinap ke lubuk hati nya.
Rasa putus asa lah yang menggerogoti niatan Dara dalam tekun berusaha. Rasa putus asa membuat Dara sempat pula lupa bahwa ada tekad yang harus dia tuntaskan. Ada nyawa lain bagian dari diri nya yang harus di bahagia kan. Dan ada pribadi-pribadi yang harus membayar neraka yang mereka cipta untuk Dara agar berubah menjadi surga.
Dara menggapai kedua putrinya masuk dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ya kak, orang-orang seperti kak Aber itu hebat"
Dara mengecup kepala kedua putrinya bergantian.
"Berarti Bunda juga hebat" Sambung Alsava.
"Maaf sayang, Bunda gak hebat tapi Bunda akan berusaha lebih giat demi anak-anak Bunda yang cantik ini" Pelukan kepada anak-anaknya itu makin Dara pererat.
'Dalam hidup ini, bukan kah semua sudah Allah SWT takdirkan berlainan, berlawanan. Pagi dan malam bergantian, cantik dan jelek berlainan, sehat serta sakit menghampiri silih berganti. Tapi bisa-bisanya aku pasrah diri hanya karena yang ku lakukan tak sesuai ekspektasi' Dara merutuki dirinya sendiri.
...***...
"Dara, sejatinya tidak ada suatu penyakit yang derita nya mengalahkan berat dunia dan lama nya menandingi penantian tak berujung jika kamu bubuhi sakit mu itu dengan resep, kekuatan cinta dari orang terkasih dan yakin serta bersungguh-sungguh dalam berupaya tanpa mengenal arti menyerah. Jadi tabah, tangguh dan semangat lah. Barangkali keajaiban akan datang" Dokter Angga memotivasi.
"Dokter, bantu aku menciptakan keajaiban" Pinta Dara.
Dokter Angga mengangguk menerima pinta Dara.
"Dan, terima kasih" Ucap Dara.
"Nanti saja terima kasih nya kita bahkan belum kembali memulai" Lugas dokter Angga.
"Bukan. Maksud aku terima kasih tadi sudah menyadarkan aku dari keterpurukan dengan cara membawa anak-anak masuk ke sini. Tanpa mutiara hikmah melalui cerita Azkia aku mungkin sudah menyerah. Sekali lagi terima kasih" Jelas Dara.
Dara sangat meyakini bahwa membawa anak-anaknya masuk ke ruangan terapi ini saat Dara mencapai titik putus asa adalah ide dari dokter Angga.
Barangkali dokter Angga mengerti bahwa kelemahan sekaligus kekuatan seorang Ibu itu bersumber dari anak-anaknya.
"Semangat lah. Jangan kecewakan anak-anak. kamu boleh berharap dengan syarat usaha mu harus melebihi harapan mu"
Tanpa membahas perihal ucapan Dara sebelumnya, dokter Angga 'si es' kembali memotivasi pasien yang diam-diam sudah mencuri hatinya melalui sikap, pembawaan dan kegigihan yang Dara tunjukkan selama ini.
Dara mengangguk mantap. Sikap kesiapan untuk menerapkan nasehat dokter Angga tadi.
'Dara, rubah lah takdir mu' Tekad Dara kembali membara.
...***...
__ADS_1