
"Untuk apa kita kesini kalau tidak menyapa Mas?" tanya Kiki pada sang Suami.
Yang di tanya hanya berdiam diri tanpa menjawab apa-apa. Lukman yang berada di lantai kedua sebuah bangunan, tepatnya sedang berhadapan dengan dinding yang terbuat dari kaca, mengitari pandangannya ke arah kerumunan di bawah sana.
Diantara kumpulan orang-orang dengan berbagai latar belakang tersebut, ada Dara si mantan Istri yang penampilannya terlihat sungguh memukau. Dara adalah bintang acara. Ia sedang menjadi pusat perhatian dari para tamu undangan. Tamu-tamu itu, termasuk Lukman dan Kiki, adalah undangan dari acara peresmian "Rumah Kita".
Begitulah nama yang Dara sematkan untuk sanggar seni yang didirikannya. Selain karena kecakapannya dalam mengelola perusahaan sebagai Komisaris Utama, jiwa sosialnya yang tinggi dengan mendirikan sebuah media sebagai batu loncatan untuk orang yang mengalami kelumpuhan dengan keterbatasan ekonomi telah mengundang decak kagum dari setiap yang ada disana. Termasuk Lukman dan Kiki.
Inilah salah satu impian Dara yang terwujud, menjadi sebagian dari sumber kebahagiaannya.
"Mas?" Kiki mendesak Lukman menjawab pertanyaannya.
"Cukup lihat saja ya," pinta Lukman.
"Kenapa?" Kiki yang sedari tadi tidak sabar ingin mengucapkan selamat sekaligus berbincang langsung dengan Dara menuntut alasan dari Lukman mengenai alasan penolakan menemui Dara.
Lukman menarik nafas panjang. Ia kembali memusatkan pandangan ke arah Dara dan para tamunya.
"Mama kembar, coba lihatlah disana! Dara di kelilingi oleh orang-orang yang bukan hanya menyanjungnya tapi juga mendukungnya."
"Lalu?" Kiki masih belum menemukan alasan penolakan Lukman.
"Dara memang sudah memaafkan kita. Tapi, jika kita kesana menghampirinya apa yang akan di pikirkan orang-orang itu, orang-orang yang mengetahui lingkaran kehidupan kita? kita pernah menyakitinya dengan sangat kejam, kamu ingat itu! mereka pasti akan berprasangka buruk kepada kamu dan aku yang dengan tidak tahu malu masih berada dalam sisi hidup Dara." Pungkas Lukman.
"Mas, kenapa harus peduli dengan prasangka orang? kita menemui Kak Dara bukan untuk melakukan hal buruk, justru kita ingin kembali menjalin hubungan baik dengannya sebagai penebusan atas rasa bersalah kita selama ini. Ya kan?" Kiki masih bersikukuh.
"Lalu apa semua orang akan paham niat mu itu? bagaimana jika kehadiran kita malah akan membuat Dara tidak nyaman dengan desas desus yang pasti akan timbul dari tamu-tamunya? tidakkah dengan begitu kita secara tidak sengaja kembali menjadi penyebab ketidaknyamanan Dara?" Lukman berusaha melunakkan intonasi bicaranya walau emosinya hampir meluap menjadi kesal.
"Mas ada benarnya. Tapi Kiki yakin Kak Dara tidak akan merasa seperti itu. Buktinya dia sendiri yang mengundang kita" Kiki mulai menampakkan wajah kecewa.
"Mama mengertilah, dia mengundang kita karena ramah tamah bukan karena kita spesial! Ingat, kesalahan kita selama ini terlalu banyak terhadap Dara. Saking banyak dan tidak bermoral nya, kita tidak akan dapat menebus kesalahan itu jika bukan karena kebesaran hati Dara yang memberi ruang maaf untuk kita berdua. Jadi, mari menghargai itu dengan tidak menambah perkara buruk untuk hidupnya. Berikan Dara kebahagiaan seutuhnya tanpa halangan seujung kuku pun. Salah satunya dengan cara menghindari hal-hal yang berisiko memicu respon buruk bagi hidup Dara,"
Lukman masih menjaga nada bicara yang lembut dengan beberapa intonasi mendalam pada beberapa diksi.
__ADS_1
Kiki maju mendekat ke sisi Lukman, menatap cukup cermat ke arah orang yang tengah mereka bicarakan.
"Ucapan selamat, harapan atau apapun itu yang ingin kamu sampaikan kepada Dara, langitkan saja kepada Tuhan lewat do'a. Biar Tuhan yang menyampaikannya dengan melingkupi kebahagiaan dalam hidup Dara," ucap Lukman lagi.
Mereka berdua kini sama-sama memandangi Dara dan orang-orang di sekitarannya yang terlihat tertawa memancarkan sinar bahagia.
"Mas,"
"Hemmm," Lukman menjawab dengan berdehem. Sementara tatapannya tetap memandang lekat kepada Dara.
"Apa kamu menyesal bercerai dengan Kak Dara?"
Kiki bertanya tanpa melepas fokus pandangannya terhadap Dara yang meski melayani para tamu undangan sambil menggendong sekaligus menggandeng kedua putrinya, tapi tidak membuatnya kehilangan aura wibawa. Malah kesibukan Dara sebagai seorang Ibu di tengah agenda sosialnya seperti menjadi tambahan magnet daya tarik tersendiri pada dirinya.
"Ya" jawab Lukman jujur.
"Apa Kamu masih mencintainya?" tanya Kiki lagi.
"Jawab saja Mas," pinta Kiki.
"Kenapa?" desak Lukman.
"Narasi penolakan mu jika kita akan menemuinya tadi, Kiki merasa itu bukan hanya lantaran perasaan bersalah karena pernah menyakitinya. Tapi seperti, ada suatu hal lebih yang tersirat dalam tutur bahasa mu. Di tambah lagi dengan cara kamu memandangnya, sangat berbeda, terasa begitu istimewa,"
Kiki serius menatap suami hasil curiannya itu. Kemudian menyambung lagi ucapannya.
"Jadi, apa Kamu masih mencintai Kak Dara Mas?"
Lama Lukman terdiam dan akhirnya menjawab rasa penasaran Kiki.
"Bukan masih, tapi semakin!" tegas Lukman.
Deg.
__ADS_1
Jantung Kiki seketika terasa seperti di tindih dengan batu besar. Sakit.
"Maaf, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku ini. Begitulah adanya. Lagipula Kamu sendiri yang menuntut kejujuran ku. Jika pun aku berbohong, suatu saat kamu pasti akan mengetahuinya juga" terang Lukman.
"Apa Kamu ingin kembali rujuk dengan Kak Dara Mas?" suara Kiki mulai bergetar.
"Ya. Tapi sepertinya sebatas angan. Bagaimana bisa pungguk merindukan bulan" ada seulas senyum kecut yang terkembang di bibir Lukman.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh! kamu cukup fokus saja menjadi istri serta ibu yang baik dan benar bagi ku dan anak-anak kita seperti permintaan Dara yang kamu sampaikan kepada ku beberapa waktu lalu!"
'Apa aku harus bersyukur dengan kejujuran mu itu Mas? tega sekali kamu terang-terangan mengaku mencintai perempuan lain di hadapan Istrimu sendiri. Ohh astaga. Kak Dara, apakah juga seperti ini yang kamu rasa saat itu? jadi, apakah ini karma atas perbuatan ku terhadapmu dulu? jika iya, kenapa hanya aku yang mendapatkannya? bukankah Mas Lukman juga biang deritamu? dan bagaimana aku akan bisa menjadi istri yang baik jika cintamu kadarnya kamu lebihkan untuk perempuan lain Mas?'
Jika tidak sedang bersama Lukman, ingin rasanya Kiki berlari ke arah Dara untuk kembali memohon ampun agar Tuhan turut berbelas kasihan sehingga tidak lagi memberinya hukuman dengan terus menimpakan kesedihan.
'Rujuk? Dara, haruskah aku kembali mendampingi hidupmu sebagai seorang suami? kamu memang laksana bulan Dara, indah dan jauh dari jangkauan apalagi oleh orang hina seperti ku ini, mana pantas memilikinya. Tapi, di satu sisi aku sungguh tidak bisa menghilangkan segenap rasaku terhadapmu ini. Semakin aku bersikeras melupakanmu dengan meluputkan segala perasaan di hati ini, perasaan itu justru tumbuh semakin subur.'
Tanpa sadar Lukman mempertimbangkan beberapa kalimat yang termaktub dalam pertanyaan Kiki terhadapnya.
'Baik. Jika yang tidak mampu menaklukkan bulan adalah pungguk, maka Aku harus merubah diriku selayaknya astronot. Sehingga bukan hanya bebas memandangi, tidak sebatas mencintai dalam diam, bukan sekedar memendam setiap detail kekaguman. Melainkan, dapat menggenggam sang bulan berikut mencurahkan segenap perasaan dengan kembali membawamu dalam rangkulan'
Demi meyakinkan dan memastikan keinginan yang terbesit di hatinya, Lukman untuk kesekian kalinya hari ini kembali memandangi Dara dengan seksama. Tanpa sedikitpun perduli ada Kiki di sebelahnya, yang turut mengikuti dan memperhatikan arah pandang Lukman dengan mata yang berkaca-kaca.
'Dara. Tunggulah Aku kembali menjadi Lukman yang kamu cintai dulu. Mari kita bangun lagi rumah tangga yang bahagia bersama para putri kesayangan kita. Aku akan berubah Dara! apapun akan aku lakukan demi kembali menaklukkan dirimu, mendapatkan cintamu"
Ada tekad luar biasa yang Lukman kobarkan dalam jiwanya.
...***...
Semangat para pembaca tetap berkobar juga kan yaaaa,🤭🤗
Like, hadiah, komentar, vote ny di tunggu dan di harap selalu ya😁🙏
❤️MNMS
__ADS_1