
"Alsava ada di sana Mas" ucap Dara spontan kepada Lukman.
Tanpa pikir panjang Dara dan Lukman berlari keluar dari ruangan. Sekretaris Dara bergegas mengikuti dari belakang.
Untuk kali pertama setelah sekian lamanya acuh terhadap kondisi sang putri, hari ini Dara kembali melihat sosok seorang Ayah yang pernah di kagumi anak-anaknya terlihat dari diri Lukman. Kegusaran nampak jelas sedang meliputi Lukman.
Lukman berdiri tidak tenang menunggu lift segera mencapai lantai dasar dari perusahaan PT Herlambang. Pikirannya kalut mengetahui Alsava, putri bungsunya ada di ruang bermain yang menurut Nailah sekretaris Dara sedang terjadi keributan disana.
'Ada apa?'
'Apa yang sedang terjadi disana?'
'Bagaimana kondisi Putriku?'
'Tuhan, mohon lindungi anakku'
Segenap kekhawatiran dan harapan berseliweran di benak Lukman.
Tingg.
Pintu lift terbuka. Lukman, Dara dan Nailah berlari cepat menuju ruang bermain yang disediakan dan berada di perusahaan PT Herlambang.
Beberapa karyawan tampak berdiri di depan pintu kaca yang merupakan akses keluar-masuk ruang bermain. Mereka menyaksikan kehebohan yang sedang terjadi di dalam. Melihat Komisaris Utama dari perusahaan tergopoh menghampiri ruangan tersebut, para karyawan bersegera mundur perlahan seakan membuka jalan bagi pemilik perusahaan untuk lekas sampai ke tujuan.
"Kiki!" Lukman lantang meneriaki si istri kedua.
Mendengar hardikan dari suara yang begitu di kenal, Kiki langsung menurunkan tangannya yang terangkat di hadapan wajah Rani. Kiki urung menampar Rani.
"Mas?" Kiki kelabakan.
Dara memberi kode lewat tatapan mata kepada Nailah untuk menghampiri Rani yang penampilannya terlihat luar biasa berantakan. Sementara Dara tanpa dapat menutupi kekalutannya berkeliling di ruang bermain tersebut untuk mencari keberadaan sang buah hati, Alsava.
Lukman begitu saja meninggalkan Kiki yang terlihat cemas dan kebingungan. Lukman ikut menyusul Dara mencari putri mereka dengan posisi mencari berlawanan arah.
"Ahh sayang, putri Ayah."
Lukman memeluk Alsava yang sebelumnya meringkuk dalam sebuah bangunan mainan berbentuk rumah-rumahan. Lukman kecup dan elus putri kecilnya itu berkali-kali. Sambil di dalam hati mengucap syukur tiada henti melihat kondisi fisik sang putri yang terlihat baik-baik saja.
"Sayang."
Dara menghampiri pasangan ayah dan anak itu. Ia elus pula rambut, pipi dan punggung anaknya. Pelan Ia raih tangan mungil sang anak kemudian bertubi-tubi mengecup punggung telapak tangannya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja Nak," Ucap Dara.
"Bunda, Tante Kiki jahat! dia jahatin Mbak Rani Bun," ujar Alsava tiba-tiba dengan suara bergetar dari balik pelukan ayahnya.
"Shhhh. Ya sayang. Alsava jangan takut ya. Gak apa-apa kok. Ada Ayah sama Bunda disini" Lukman kembali mengelus dan mengecup kepala Alsava lembut, berupaya menghilangkan ketakutan sang anak.
Dara mengelus lengan Alsava lalu bangkit berdiri meninggalkan Lukman dan anaknya.
Kini Dara berdiri di hadapan Kiki dengan tatapan tajam.
"Jelaskan apa yang terjadi!" titah Dara pada madunya.
"Rani Kak. Dia melarang Kiki mendekati Alsava. Bahkan dia menghina dan mengusir Kiki dengan bahasa yang kejam."
Air mata mulai menitik cepat menyusuri pipi berlesung milik Kiki. Bahunya bahkan segera berguncang akibat tangisan yang tak terbendung.
"Bohong! Mbak Kiki bohong Bu," sanggah Rani.
__ADS_1
Nailah yang sedang mengobati luka di sudut bibir Rani tampak menepuk-nepuk pundak Rani. Berusaha menenangkan gadis belia itu agar tidak tersulut emosi oleh pernyataan Kiki.
"Kak Dara, percaya lah dengan Kiki Kak. Rani ini justru tidak bisa di percaya! memang dari semenjak di desa tabiatnya sudah tidak baik. Kiki pikir jika bekerja di kota akan merubah perangainya tapi ternyata tidak. Apa Kiki salah Kak? Kiki kebetulan melihat Alsava jadi berinisiatif untuk bermain dengannya biar bagaimanapun Alsava kan juga anak Kiki. Ja ..."
"Hentikan Kiki! cukup. Tidak perlu bicara apa-apa lagi!" Tegas Dara.
Kiki terdiam.
"Dara" sapa Lukman.
Melihat Lukman yang datang bersama Alsava, Kiki segera menghampiri keduanya.
"Mas, Alsava." Kiki menyapa lembut keduanya.
Plakk.
Tangan Kiki yang hendak menyentuh Alsava di tepis kasar oleh Lukman.
"Jangan berani-berani menyentuh anakku!" geram Lukman.
"Ta- tapi Mas. Ki ..." suara Kiki tergantung.
Dara menggeser kasar tubuh Kiki dari hadapan Alsava. Dara menggandeng Alsava mendekati Nailah. Kemudian lembut Dara berkata,
"Sama Tante Nailah dulu ya sayang."
Alsava yang sudah berada dalam gendongan Nailah mengangguk menuruti kata-kata sang Bunda. Mereka berdua pergi meninggalkan ruangan tersebut. Kepergian mereka di ikuti pula oleh karyawan lainnya yang tadi berdiri menyaksikan kekacauan di dalam. Nailah yang meminta mereka untuk berhenti membuat kerumunan di jam kerja.
"Ada apa denganmu Kiki?" Lukman bertanya sambil menahan geram.
"Sayang, percaya lah. Ini semua karena gadis desa itu yang lebih dulu memprovokasi istri mu ini. Mama hanya ingin bermain dengan Alsava tapi si Rani malah menghina dan memaki-maki Mama. Mama sudah menyuruhnya untuk diam tapi dia tidak mau berhenti sehingga Mama kehilangan kesabaran. Maafkan Mama ya Yah, pasti Ayah khawatir ya."
Dara menghela nafas. Ia bantu Rani bangkit dari kursi. Lalu dengan tatapan tajam dan riak suara tegas Dara berujar,
"Semuanya ikut aku!"
...***...
"Demi Tuhan. Ada apa dengan mu Kiki!"
Suara hardikan Lukman yang penuh dengan geraman membuat si istri kedua menciut ketakutan. Muka Kiki yang sudah putih tampak pasi.
Sesaat setelah melihat tampilan dalam layar di hadapannya membuat Lukman berkecamuk dengan amarah yang berbalut rasa malu atas perbuatan Kiki. Mereka yang kini berada di ruang kontrol perusahaan telah sama-sama menyaksikan rekaman CCTV dari ruang bermain.
"Jika berkata jujur bukan bagian dari kecakapan mu, maka kita tunggu saja ahli pembaca gerak bibir tiba. Semua akan menjadi semakin jelas saat mereka sudah disini" suara Dara penuh penekanan.
Lukman, Kiki dan Rani, semuanya diam. Tidak ada yang berani menyanggah apa lagi membantah kalimat Dara.
Hingga beberapa waktu kemudian,
Bughhh.
Kiki menjatuhkan tubuh rampingnya ke lantai. Ia berlutut. Kedua tangannya di tangkupkan, pertanda lambang sebuah permohonan.
"Maaf" lirih Kiki. Air mata menghiasi paras cantiknya.
Lukman memalingkan pandangan dan wajahnya dari Kiki. Jari jemarinya tidak lepas dari dahinya. Berulang kali Ia memijit dahinya dengan sesekali menghela nafas berat dan terpaksa.
Lukman merasa oksigen di ruang kontrol perusahaan itu tidak cukup untuk membuatnya bernafas. Sesak menghimpit dadanya akibat rasa malu, kecewa, kesal bahkan marah yang kian menjadi-jadi terasa atas kejelasan perbuatan Kiki yang baru saja Ia ketahui.
__ADS_1
'Aku menyuruhmu untuk melaporkan setiap detail perkembangan pengobatan yang Dara jalani! lihat! akibat kelalaian mu dia jadi bisa kembali berjalan. Arggggghhh!!! semua usaha ku selama ini sia-sia gara-gara kamu. Dasar perempuan desa tidak berguna!'
Itu adalah isi pembicaraan yang berhasil di terjemahkan oleh ahli pembaca gerak bibir berdasarkan cuplikan video yang terpantau oleh kamera CCTV di ruang bermain perusahaan PT Herlambang.
Ahli pembaca gerak bibir yang Dara hadirkan membuat misteri penyebab keributan di ruang bermain terpecahkan.
Nyatanya, Kiki sengaja mendatangi Rani di ruangan tersebut. Kemudian selain melontarkan kalimat sesuai terjemahan para ahli pembaca gerak bibir tadi, Kiki juga menyerang Rani dengan perlakuan kasar yang membabi buta.
Menarik jilbab Rani, mencengkram kedua bahunya, bahkan berkali-kali mendaratkan tamparan di pipi gadis malang yang sedikit pun tidak berkesempatan memberi perlawanan. Di sela serangan Kiki terhadapnya, Rani malah gigih berupaya menempatkan Alsava di tempat Ia di temukan oleh Lukman tadi.
Kiki bangkit dari posisi berlututnya. Ia mendekat ke arah Lukman.
"Sayang, jangan diam saja! bantu Mama Yah" pinta Kiki penuh harap.
Mendengar kalimat Kiki tersebut, Lukman yang berdiri membelakanginya membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Kiki. Dan kemudian,
Plakk.
Satu tamparan dari tangan kekar seorang Lukman mendarat di pipi istri yang dulu begitu Ia puja-puji.
Dara dan Rani tersentak melihat adegan di depan mata mereka tersebut.
"Menikahi mu adalah hal terbodoh yang aku lakukan! dan akan menjadi penyesalan seumur hidupku!!!"
Setelah melontarkan isi hatinya Lukman berlalu beranjak meninggalkan Kiki. Kiki dengan kedua tangannya masing-masing memegangi pipi dan dadanya. Pipinya perih oleh tamparan dari Lukman. Hatinya pedih oleh kalimat yang Lukman sampaikan. Kiki menangis pilu.
Lukman berdiri di hadapan Dara dan Rani.
"Dara, atas perbuatan perempuan itu lakukan apa pun yang kamu inginkan."
"Dan ... Rani, terimakasih sudah menjaga dan melindungi Alsava."
Lukman dengan langkah gontai berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Minta maaf!" titah Dara kepada Kiki.
"Ma ... maafkan Kiki Kak" ucap Kiki sambil menyeka air matanya.
"Bukan kepadaku tapi Rani!" tegas Dara.
Kiki mengangguk cepat. Ia berjalan mendekati Rani kemudian sambil tertunduk menuruti perintah Dara.
"Maafkan aku Rani" ucapnya.
"Rani, apa kamu memaafkannya?" tanya Dara.
"Tidak. Saya tidak bisa memaafkan Mbak Kiki Bu" jawab Rani pula.
"Kamu dengar itu Kiki? Rani yang kamu serang secara fisik dan verbal tidak bisa memaafkan perbuatan mu. Kita akan lanjutkan semua ini ke pihak yang berwajib" terang Dara.
Kiki terkejut. Ia menghampiri Dara.
"Tidak Kak. Jangan lakukan itu. Mohon maafkan Kiki Kak. Kiki akan melakukan apa pun dengan segenap jiwa raga ini demi mendapatkan maaf dari Kak Dara dan Rani tapi Kiki mohon jangan laporkan Kiki ke polisi Kak. Kiki mohon." Kiki terisak-isak.
"Kiki, jika di ibaratkan sebuah tanaman maka kamu itu adalah tanaman yang busuk! busuk keseluruhannya. Sehingga saking busuknya tidak ada dari dirimu yang bisa di manfaatkan. Jadi apa pun yang akan kamu lakukan untuk kami itu sama sekali tidak ada artinya!"
"Kalau begitu sampai jumpa di kantor polisi" sambung Dara lagi.
Dara melangkah keluar dari ruang kontrol bersama Rani. Tinggallah Kiki seorang diri dengan tangisnya yang semakin menjadi.
__ADS_1
... ***...