Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
46. Rujuk (?)


__ADS_3

"Om Dokter bosan ya?"


Teguran Alsava membuat Dokter Angga tersadar dari lamunannya.


"Bosan? gak bosan," jawab Dokter Angga menanggapi pertanyaan putri bungsu Dara.


"Terus kok melamun gitu?" tanya Alsava lagi.


'Bukan melamun, tapi tepatnya sedang berpikir selanjutnya aku harus bagaimana? niat hati aku kesini tadi untuk meminta kesediaan Dara menerima kedatangan pihak keluargaku yang akan melamarnya tapi ternyata kalah cepat dengan Radit. Itu artinya tertutup peluang ku untuk melamar Dara sampai Dara memberi jawaban kepada Radit, karena adanya larangan menurut ulama dalam melamar di atas lamaran orang lain tidak di perbolehkan sebab mendahulukan adanya etika. Dan terkubur lah segenap asa ku menjadikan Dara istri jika Ia menerima lamaran Radit. lantas aku harus bagaimana?' Dokter Angga yang di kuasai kebingungan bermonolog.


"Tuh kan, melamun lagi!" seru Alsava kepada Dokter Angga.


Dokter Angga menepuk dahinya. Menyadari kesalahannya telah mengabaikan Azkia dan Alsava akibat pikirannya yang di penuhi dengan kekhawatiran atas jawaban Dara terhadap lamaran Radit.


"Maaf, maaf. Ayo kita lanjut main lagi," Dokter Angga melebarkan bibirnya, Ia tersenyum.


"Aku pikir dia yang akan lebih dulu melamar kamu," Lusi mengarahkan pandangannya kepada Dokter Angga.


Dara dan Lusi sudah beranjak dari ruang tamu saat Azkia dan Alsava bangun dari tidur siang. Kini mereka berdua tengah duduk di teras belakang rumah Dara memperhatikan dari jauh Dokter Angga tengah menepati janjinya kepada anak-anak Dara. Yakni untuk bermain bersama Azkia dan Alsava selepas mereka tidur siang.


"Ngelantur," ketus Dara terhadap ucapan Lusi.


"Dara, aku tahu kalau kamu juga menyadari bahwa Radit dan Dokter Angga punya perasaan istimewa yang sama terhadap kamu. Tapi ya dasar kamu nya aja yang gak mau ambil pusing jadi masa bodo sama sikap mereka. Ya kan?" Lusi memanyunkan bibirnya.


"Iya. Iya aja deh, daripada Lusi ku jadi jelek karena manyun" ucap Dara berseloroh.


"Uhhh, pintar ya beralasan nya. Tinggal ngaku aja apa adanya mesti mengatasnamakan bibir seksi ku segala,"


Sesaat sesudah Lusi berkata demikian, gelak tawa terdengar dari keduanya.


"Kasihan Dokter Angga," sahut Lusi setelah menghentikan tawanya.


"Kenapa?" tanya Dara.


"Kalah cepat sama Radit," jawab Lusi cepat.


"Jadi kamu akan pilih siapa diantara mereka berdua?" tanya Lusi lagi.


"Mereka berdua? kok jadi mereka berdua? yang ngelamar kan cuma Radit," jawab Dara.


"Eee, pada dasarnya kan kita sudah sama-sama tahu kalau Dokter Angga juga suka sama kamu Dara,"


"Selagi belum ada pernyataan, pikiran mu itu namanya hanya dugaan." Cetus Dara menanggapi ucapan Lusi.


"Jadi nunggu pernyataan dari Dokter Angga nih?" Lusi menggoda Dara.


"Bukan begitu, aku hanya gak suka menduga-duga." Tegas Dara.


"Yang penting setelah mendapatkan keputusan untuk lamaran Radit, harus segera di sampaikan ke Mami Papinya," Lusi mengingatkan.


"Iya, aku juga gak enak hati kalau harus berlama-lama ngasih mereka kejelasan," ungkap Dara.


"Semoga kamu dapat jawaban yang benar dan tepat ya," Lusi menggenggam tangan Dara.


Ada rasa haru dalam hati Lusi. Sahabatnya yang menjadi single parents telah di lamar oleh seorang lelaki yang Ia ketahui asal usul, identitas dan kepribadiannya.

__ADS_1


Dalam pandangan Lusi, Radit meski usianya lebih muda beberapa tahun di bawah Dara merupakan sosok laki-laki yang baik dan menjadi idaman banyak kaum hawa lainnya.


Memiliki wajah tampan dengan postur tubuh yang menawan, pelukis handal dan sukses yang sudah punya beberapa galeri seni sendiri, dari keluarga terhormat dan terpandang, serta berkepribadian menyenangkan.


Dengan kriteria yang demikian, Radit dapat dikategorikan sebagai calon suami idaman. Dan yang terpenting melihat bagaimana tergila-gilanya Radit dengan Dara, menunjukkan bahwa Radit akan setia mencintai Dara. Tidak seperti Lukman mantan suami Dara.


Meskipun demikian, sebagai sahabat Lusi hanya bisa berdo'a dan berharap agar Dara dapat memberi keputusan yang tepat atas lamaran Radit, entah itu menerima ataupun menolak lamarannya.


Tidak lama waktu berlalu, Lusi dan Dokter Angga pamit dari kediaman Dara. Kini tinggal Dara seorang diri yang berjibaku dalam pikiran yang Ia fokuskan untuk memberi jawaban atas lamaran terhadapnya.


...***...


Keesokan harinya, Dara dapat kunjungan dari Ummi Rita, mantan mertuanya. Nenek dari anak-anaknya itu datang berkunjung bersama adik dan kakak perempuan Lukman.


Selain berniat mengunjungi Azkia dan Alsava, mereka juga hadir untuk menyampaikan beberapa hal kepada Dara. Jadilah sambil menunggu kepulangan anak-anak dari sekolah, perbincangan serius diantara mereka berempat pun berlangsung.


"Dara, terima kasih ya saat itu kamu bersedia mendonorkan darah kepada kakak,"


Sukma menggenggam erat kedua tangan Dara. Ingatannya seketika kembali pada saat Ia kritis akibat percobaan bunuh diri yang Ia lakukan karena tidak sanggup menjalani rumah tangga dalam poligami.


Nasib baiknya, dalam kesulitan mendapatkan donor darah, Sukma yang kehabisan dan butuh donor darah segera mendapatkan pertolongan cuma-cuma dari Dara, mantan Adik ipar yang pernah Ia sia-siakan.


"Ya Kak, syukurlah sekarang Kakak sudah pulih kembali" jawab Dara.


"Terima kasih juga, karena lewat kamu kakak berani mengambil pilihan untuk bercerai dari Mas Zian" sedetik berikutnya suara tangisan menggantikan narasi Sukma.


Dara memberikan energi ketenangan kepada Sukma dengan menepuk lembut tangan Sukma yang masih memegangi tangannya.


"Maaf ya Dara, semestinya dulu Kakak mati-matian dan terang-terangan membela kamu agar tidak di poligami dengan Kiki. Sekarang, setelah merasakan sendiri bagaimana perihnya cinta di duakan oleh sosok yang kita kasihi, membuat Kakak sadar bahwa betapa Lukman telah banyak menyakiti kamu dengan kehadiran Kiki. Sekali lagi maafkan Kakak,"


"Sudah Kak, jangan di bahas lagi. Sedari memutuskan bercerai, aku sudah menutup segala cerita perihal kesakitan dan luka akibat pengkhianatan. Aku hanya ingin membuka dan mengisi lembaran hidupku bersama anak-anak dengan hal-hal yang berfaedah dan membahagiakan." Tegas Dara.


Dara lalu menunduk, dan mengelus lembut punggung mantan Kakak iparnya yang dulu sangat baik dengannya itu. Dara sadar, terlepas bagaimana lingkaran hubungan yang menyakitkan antara mereka berdua, kini mereka adalah perempuan yang sama-sama menjadi korban ambisi seorang lelaki berstatus suami.


"Aku harap Kak Sukma pun begitu. Jika sudah mantap berpisah dari hubungan poligami yang di rasa tidak sehat, maka mantapkan pula hati untuk menata ulang kehidupan yang penuh kebahagiaan," ucap Dara tulus.


Sukma menatap Dara dengan sendu. Lalu mengangguk dan memeluk Dara.


"Terima kasih, sudah menjadi ipar yang begitu baik. Terima kasih sudah menjadi saudara sebagai sesama manusia yang selalu tulus menebar manfaat dan terima kasih sebagai sesama perempuan telah mengerti dan mengingatkan kondisiku saat ini,"


Sukma melepas pelukannya. Ia genggam kembali tangan Dara.


"Kamu orang baik, mutiara terindah diantara mutiara. Kakak sangat berharap kamu mendapatkan pendamping yang membuatmu menjadi bidadari surga di dunia ini Dara," ungkap Sukma lagi.


"Aamiin. Aku pun mengharapkan hal yang sama untuk kehidupan Kak Sukma kedepannya," mereka kembali saling berangkulan.


"Nak Dara, ada hal yang juga harus Ummi sampaikan," ucap Ummi Rita hati-hati.


"Silahkan Ummi, sampaikan saja" jawab Dara sopan sembari menyilahkan.


"Lukman, selepas perceraiannya dengan kamu, dia mati-matian berusaha kembali meningkatkan kualitas kehidupan ekonomi dan sosialnya. Dan sekarang, berkat rahmat yang maha kuasa, Lukman berhasil melunasi semua hutang-hutangnya, Ummi dan saudari perempuannya juga Ia belikan sebuah rumah, dan kami sudah pindah dari kontrakan sebelumnya ke rumah yang di belikannya itu. Kami kesini juga menggunakan mobil yang Lukman belikan untuk Ummi," jelas Ummi Rita.


"Alhamdulillah, aku turut senang mendengarnya Ummi," ucap Dara tulus.


Jika dulu sempat ada keinginan di hati Dara untuk membuat dan menyaksikan Lukman mengalami kesengsaraan hidup terus-terusan. Kini, seiring berjalannya waktu dan dengan mengikhlaskan yang telah berlalu sebagai sebuah garis perjalanan hidup yang sudah di haruskan untuk Ia jalani, mendengar Lukman yang mulai bangkit dari keterpurukannya membuat Dara benar-benar merasa ikut senang.

__ADS_1


"Tapi," suara Ummi Rita tergantung. Ia seperti ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tapi, apa Ummi? sampaikan saja," tutur Dara lembut.


Ummi Rita yang ragu menghela nafas panjang kemudian Ia melanjutkan kalimatnya,


"Tapi, karena keberhasilannya itu, dengan ekonomi yang mapan, dan perasaan yang tulus serta menimbang keberadaan Azkia dan Alsava, Lukman menyampaikan kepada Ummi keinginannya untuk kembali menikah dengan kamu Nak,"


"Rujuk," Dara bergumam tanpa nada tanya atau pun menegaskan.


"Ya. Lukman ingin rujuk Nak," pungkas Ummi Rita.


"Lukman juga sudah membicarakan hal ini dengan Kiki," ucap Ummi Rita lagi.


"Apa respon Kiki mi?" tanya Dara hati-hati.


Ummi Rita tidak lantas menjawab. Ia menangis tersedu-sedu. Dara mengulurkan tisu kepada Ummi Rita. Melsya yang duduk di samping Ummi Rita mengelus lembut punggung Ummi nya.


"Kiki, dia saat ini sedang terbaring di rumah sakit. Sudah tiga bulan terakhir dia mengalami ngidam parah sehingga mengharuskan dia di rawat di rumah sakit. Sebelumnya saat Lukman menyampaikan keinginannya rujuk dengan Nak Dara, Kiki menolak hal tersebut. Dia menolak di poligami dan juga tidak bersedia di ceraikan. Hingga akhirnya baru-baru ini, Kiki minta Ummi untuk menyampaikan kepada Nak Dara maksud keinginan Lukman ini. Mengingat si kembar yang masih kecil di tambah lagi dia hamil dengan ngidam parah dan kondisi fisik yang lemah, Kiki bersedia di poligami. Kiki juga bilang, dia pasrah dan menerima ini semua sebagai karma atas tindakannya terhadapmu terdahulu,"


Setelah menjelaskan dengan isak tangis yang tiada henti, Ummi Rita kembali menangis sesenggukan. Ummi Rita bersedih mengenang bagaimana Kiki yang semenjak menyesali perbuatannya dulu telah berusaha menjadi istri, ibu, sekaligus menantu yang baik bagi keluarga mereka, namun kembali harus menelan pil pahit dari buah perbuatannya mengganggu rumah tangga orang. Jika Dara bersedia rujuk kembali dengan Lukman, maka nyata lah karma itu memang ada di dunia yang fana ini.


Setelah sedikit tenang, Ummi Rita memandang Dara dengan serius.


"Nak Dara, mohon jangan salah paham atas setiap pernyataan dan sikap Ummi tadi. Sejatinya di lubuk hati yang paling dalam, Ummi malu dan merasa tidak pantas menyampaikan keinginan Lukman ini. Hanya saja karena desakan Lukman dan Kiki, Ummi terpaksa menyampaikannya," Ummi Rita menghela nafas panjang.


"Nak, apa pun keputusan Nak Dara, Ummi tidak akan ikut campur tapi Ummi perlu sampaikan ini bahwa, Ummi merasa tersanjung sekaligus terhina jika Nak Dara kembali rujuk dengan Lukman. Merasa tersanjung karena perempuan sebaik Nak Dara kembali menjadi bagian keluarga kami. Merasa terhina karena sadar diri bahwa Lukman sama sekali tidak pantas mendampingi Nak Dara. Jika pun Ia kini telah banyak berubah dari segala sisi, tutur katanya, sikapnya, tanggung jawabnya tapi tetap saja luka yang pernah Ia torehkan kepada Nak Dara tidak layak di balut penyesalan lewat pernikahan. Sama sekali ini bukan berarti Ummi tidak sudi ber-menantukan Nak Dara tapi murni, karena Ummi sadar Lukman hanya lah ibarat malam yang merindukan pelangi. Dia tidak pantas untuk perempuan sebaik Nak Dara,"


Ummi Rita kembali mengurai tangis. Ia merasa nelangsa, jiwanya berbalut derita. Ibu mana yang tidak miris hatinya meminta seorang perempuan baik-baik bagi putranya, dalam daripada itu juga menolaknya. Penolakan yang di lakukan demi memberi pengajaran tersirat kepada putranya bahwa, hal berharga yang telah sia-siakan tidak pantas lagi ingin di gapai dalam genggaman.


Dara memandangi Ummi Rita dengan cermat, berusaha menelusuri makna tangisan sang mantan mertua.


'Jika saja dulu tangisan itu Ummi persembahkan untuk ku saat Mas Lukman menggali lubang neraka bagi aku dan anak-anaknya, tentu lah aku akan punya semangat juang yang mati-matian akan aku berdayakan demi keutuhan rumah tangga kami Ummi,' lirih Dara dalam batinnya.


"Ummi, minum ini dulu" Dara menyodorkan minuman yang sedari tadi di sajikan Mbok Inem. Dara berharap dengan menyesap minuman, Ummi Rita sedikit lega perasaannya.


Dara merasa iba, perempuan yang notabenenya baik itu di hidupnya yang hampir menginjak usia senja, bukan asyik bermain bersama para cucunya, malah larut dalam persoalan rumah tangga anak-anaknya.


Sepertinya Tuhan selalu punya cara tersendiri dalam meneguhkan iman seseorang. Buktinya, lewat karma atas perbuatan anaknya, Ummi Rita yang telah lama di tinggal mati oleh suaminya harus seorang diri menyiapkan bahu dan hati sekuat baja dalam menghadapi dan membantu menyelesaikan cobaan juga ujian hidup melalui problema rumah tangga para darah dagingnya.


Melihat Ummi Rita sudah mulai mereda tangisnya, Dara menegakkan posisi duduknya. Bergantian Ia pandangi para Tante dari kedua putrinya, lalu terakhir, Ia fokuskan pandangan menatap Ummi Rita. Dan Dara mulai berbicara,


"Ummi, insya Allah semoga Allah SWT selalu membersamai Ummi dalam menghadapi peliknya urusan hati. Aku juga berdo'a agar Kiki yang aku yakini benar-benar telah bertaubat dari kesalahan masa lalunya segera Allah beri kesehatan seperti sedia kala sehingga bisa menjalani masa kehamilan dengan tenang dan nyaman,"


Dara kembali menyerahkan tisu kepada Ummi Rita yang sudut matanya kembali mengaliri air mata. Ummi Rita menangis terharu mendapati Dara berlapang dada mendo'akan dirinya sementara Ia pernah abai selaku seorang mertua. Tangis haru itu juga untuk kemuliaan jiwa Dara yang tulus berharap dalam do'a untuk kesehatan mantan adik madu yang menjadi biang kehancuran rumah tangganya.


"Dan Ummi, soal keinginan Mas Lukman untuk rujuk kembali .." Dara diam sejenak.


Ummi Rita, Melsya dan Sukma sedang berdebar hebat jantungnya menanti jawaban Dara. Mereka tidak ingin menjadi seorang yang munafik dengan menutupi raut muka mereka yang memang menyimpan harap memiliki ikatan keluarga lagi dengan Dara. Namun rasa malu dan perasaan tidak layak juga tidak bisa terselubung dalam harap tersebut. Hati mereka berkecamuk antara ingin dan sadar diri.


Dara menatap Ummi Rita lalu berkata,


"Soal rujuk kembali ..."


... ***...

__ADS_1


__ADS_2