
"Soal rujuk kembali, sesungguhnya aku sama sekali tidak pernah berpikir tentang itu Ummi. Jika harus mencampakkan sesuatu, untuk apa kembali memungutnya! Maaf, tapi begitulah pedoman yang aku terapkan dalam beberapa hal di kehidupan ini, terkhusus mengenai sebuah ikatan sakral. Dan lagipula Ummi, aku sudah di lamar oleh seorang laki-laki lain," tukas Dara dengan beberapa kali memberi penekanan dalam pilihan katanya.
Sekali lalu, mendengar penjabaran dari Dara, sentimen lega bersama patah arang, menyeruak dalam gelora perasaan Ummi Rita, Melsya dan Sukma.
Mereka lega, Dara mendapat lamaran dari orang lain yang sekiranya tentu masuk kategori sebagai suami pilihan karena jika tidak, bagaimana bisa Dara lugas mengungkapkan perihal tersebut kepada mantan mertua dan para bekas iparnya.
Patah arang dengan kata lain kecewa yang mereka pun alami disebabkan pupusnya harapan untuk kembali memiliki hubungan sebagai anggota keluarga dengan Dara. Usah kan menerima hasrat rujuk kembali, membayangkannya saja ternyata Dara tidak pernah. Untuk hal ini, meski Ummi Rita dan anak-anak perempuannya sudah menyiapkan hati, tahu tempat dan sadar diri, tetap saja pahitnya penolakan secara halus ibarat kulit terkena cubitan, sakit.
"Ummi, istighfar dulu. Baru saja ketidaktahuan akibat kurang adat dari kita membuat kita hampir terjerumus dalam perbuatan dosa, Astaghfirullah hal adzim." Tegas Melsya, anak bungsu Ummi Rita.
"Kenapa?" tanya Ummi Rita.
"Maaf Ummi, aku bukan maksud menggurui Ummi tapi, menurut Ustad di tempat aku melakukan pengajian, aku pernah dengar Ustad tersebut bilang bahwa dalam buku risalah Al-Khatam, Ahmad Zarkasih mengatakan, bahwasanya seorang laki-laki tidak boleh melamar wanita yang sudah dilamar oleh laki-laki lain. Menurut dia, selain dilarang oleh agama perbuatan itu juga tidak etis dan dapat menimbulkan persaingan yang tidak sehat," papar Melsya.
"Selain itu, secara eksplisit Nabi kita, Muhammad SAW juga melarang hal tersebut dalam sabdanya yang bunyi artinya begini, dari Ibnu Umar radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, janganlah seorang laki-laki mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah oleh saudaranya, kecuali bila saudaranya itu telah meninggalkannya atau memberinya izin, dan ini merupakan hadis shahih dari Bukhari," sambung Melsya.
Ummi Rita dan Sukma lekas serentak beristighfar.
"Aduh bagaimana ini? maaf ya Nak Dara, seharusnya sebelum menyampaikan maksud meminta Nak Dara kembali menjadi istri Lukman, Ummi bertanya dulu tentang status terkini Nak Dara. Ummi tidak ada maksud buruk Nak," Ummi Rita tampak merasa bersalah dan serba salah.
"Sudah Ummi, jangan di permasalahkan lagi. Dara tahu dan percaya tidak ada maksud buruk dari Ummi. Ini hanya soal komunikasi kita saja yang kurang tepat," Dara menimpali.
"Ya Nak, terima kasih ya sudah memaklumi kealpaan Ummi. Semoga Allah mengampuni ketidaktahuan Ummi ini,"
Harapan Ummi Rita tersebut segera di Aamiin kan oleh Dara, Melsya dan Sukma.
"Selamat ya Dara, kamu sudah di lamar. Apa kamu sudah menjawab lamaran itu?" tanya Sukma.
"Belum Kak, aku saat ini masih dalam masa berpikir, akan aku jawab sesuai batas waktu yang telah kami sepakati dan setelah aku betul-betuk yakin dengan pilihan ku nantinya,"
Dara menjawab dengan tenang.
"Apa pun jawabannya, semoga jadi kabar baik bagi kedua belah pihak ya Kak," sambung Melsya pula.
"Ummi juga turut senang mendengarnya. Sepandai-pandai, sehebat dan sekuat apapun kita sebagai seorang perempuan dalam menjalani peran ganda selaku orang tua, tidak sebaik menjalani rumah tangga dengan peran yang utuh bersama pendamping hidup. Terlebih Nak Dara masih muda, kembali membina hubungan berkeluarga insyaAllah lebih banyak manfaatnya," ucap Ummi Rita tulus.
__ADS_1
Obrolan diantara mereka selanjutnya berlanjut dengan perbincangan hangat seputar konsep pernikahan yang baik dan benar. Melsya yang aktif dalam beberapa majelis taklim, dengan rendah hati tanpa kesan menghakimi memaparkan apa yang telah Ia dengar dan dapat dari pengajian rutin yang Ia lakukan.
Bahwa intinya, sama seperti kehadiran seorang anak, sebuah pernikahan selain mendatangkan kebahagiaan juga dapat menjadi ujian. Semua bergantung dari pola masing-masing pribadi dalam menerima serta menghadapinya, apakah akan menganggap itu sebagai sebuah cobaan atau nikmat Tuhan.
Ummi Rita beserta anak-anaknya beranjak pergi meninggalkan rumah Dara selepas mereka bercengkrama dengan Azkia dan Alsava sepulangnya kedua gadis kecil itu dari sekolah.
Mengiringi kepergian kerabat langsung anak-anaknya, Dara menyelipkan sepotong syukur di batinnya. Bersyukur karena meski tidak lagi dalam naungan hubungan sebuah keluarga, komunikasi Dara dan mantan mertua juga bekas ipar-iparnya yang dulu sempat memburuk kini kembali membaik dan hangat. Betapa pemilik alam duniawi dan ukhrawi maha membolak-balikkan hati.
...***...
Krinng.
Mendengar adanya panggilan masuk, Dara yang sedang duduk berhadapan dengan Bayu memberi kode mohon izin untuk menerima panggilan telepon tersebut. Bayu mengangguk lalu menyilahkan.
"Ya? tidak ada. Begitu, ya sudah persilahkan saja" terdengar Dara menyahut beberapa kalimat dari seberang sana.
Panggilan telepon di tutup, tak lama kemudian di sahuti dengan ketukan dari pintu ruang kerja Dara.
"Masuk," Dara menanggapi ketukan tersebut.
Naylah, sekretaris Dara masuk bersama seorang perempuan berperawakan model, berwajah khas artis, cantik dan terawat.
Setelah mengiringi Jesika masuk ke ruangan kerja Dara, Naylah mengangguk takzim kepada atasannya itu lalu berlalu meninggalkan ruangan, kembali ke meja kerjanya sendiri di luar sana.
"Bu Komisaris Utama, apa sebaiknya saya juga ikut pamit dulu?"
Bayu merasa tidak enak hati berada di ruangan Dara sementara pemilik perusahaan itu sedang kedatangan tamu.
Jesika memandang Bayu.
"Tidak perlu. Aku hanya perlu menyampaikan beberapa hal saja dengan boss mu ini," sinis Jesika.
Menyadari tamu Dara adalah sosok yang tidak ramah dan bahkan serasa membawa aura permusuhan, membuat Bayu urung meninggalkan ruangan kerja Dara.
"Duduklah dulu," Dara menyilahkan Jesika.
__ADS_1
"Tidak perlu! Dara, aku kesini untuk mengingatkan kamu agar tidak melibatkan dan menjauhi Angga dalam persoalan rumah tanggamu yang belum tuntas!" seru Jesika.
Dara bergeming di tempat duduknya. Ia bingung tidak mengerti dengan maksud arah pembicaraan Jesika.
"Cih, jangan memasang tampang seolah tidak tahu!" intonasi suara Jesika sedikit meninggi.
Dara masih bergeming, raut mukanya pun seperti tadi yang menunjukkan ketidakpahaman terhadap kalimat yang Jesika lontarkan.
Mendapati lawan bicaranya konsisten berekspresi sedemikian, Jesika jadi tidak ragu bahwa Dara memang belum tahu apa-apa tentang kabar terkini dari Dokter Angga.
"Jadi kamu benar-benar tidak tahu," gumam Jesika.
Jesika lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah beberapa waktu berkutat dengan layar pipih penuh kecanggihan itu, Jesika menyodorkan handphonenya kepada Dara.
"Lihatlah!" tukas Jesika.
Dara menerima telepon genggam Jesika tersebut kemudian mulai mengamati aplikasi galeri yang Jesika tengah-kan untuknya.
"A .. apa ini? Jesika, aku benar-benar tidak tahu tentang ini, tolong jelaskan padaku sebenarnya ada apa ini?"
Setelah melihat yang di tampilkan dari aplikasi galeri di ponsel Jesika, Dara yang seketika disergap rasa khawatir serta bingung, menuntut penjelasan dari Jesika.
Jesika yang semula berdiri, berjalan perlahan ke sofa yang di sediakan untuk tamu, di seberang meja kerja Dara. Jesika duduk di susul dengan Dara yang juga ikut duduk di sofa tamu meninggalkan kursi kerjanya.
"Beberapa hari lalu, aku mengunjungi Angga di kliniknya. Saat itu tanpa sengaja aku mendengar Angga seperti sedang berseteru dengan seorang lelaki. Mereka memperdebatkan soal kamu,"
Jesika yang mulai memberi penjelasan lalu menampakkan wajah kesal namun kembali melanjutkan kalimatnya,
"Mereka, bersikeras ingin menjadi pendamping hidup kamu. Dari perdebatan mereka itu akhirnya aku dapat menarik kesimpulan bahwa lawan bicara Angga saat itu adalah mantan suami kamu, Lukman."
Deg.
Dada Dara bergemuruh. Sesungguhnya ada apa antara Mas Lukman dan Dokter Angga, demikian pikirnya.
Jesika menatap Dara serius dan menuntaskan kembali pernyataannya,
__ADS_1
"Lama berdebat berkepanjangan, aku dengar Angga meminta mantan suami mu untuk meninggalkan ruangannya. Tapi tidak lama setelah itu aku mendengar seperti ada suara keributan dari dalam ruangan. Karena khawatir, aku langsung masuk ke ruangan Angga dan sudah mendapati Angga tergeletak dengan darah bersimbah di lantai."
... ***...