Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
51. Tangisan Radit


__ADS_3

Vega, Mami Radit menggenggam erat tangan sang Suami. Pak Kusnan, Papi Radit membalas genggaman istrinya dengan menepuk-nepuk halus punggung tangan yang telah membesarkan anak tunggal mereka dengan penuh kasih di tengah didikan Kusnan sendiri yang tergolong otoriter.


Genggaman diantara keduanya sebagai bentuk saling menguatkan pasca mendengar sebuah penuturan yang di utarakan setelah mereka bersama menyantap jamuan makan siang di kediaman Dara.


"Bapak, Ibu, terima kasih sudah bersedia membuka hati untuk menjadikan saya bagian terpenting dalam keluarga Bapak dan Ibu," Dara menunduk takzim di hadapan pria dan perempuan paruh yang telah melamarnya satu minggu yang sudah.


"Dan Radit, aku tersanjung dengan pernyataan cintamu. Jujur, aku merasa bahagia bila bersamamu, dan aku tidak menduga kamu menyimpan rasa sayang yang lebih kepadaku,"


Dara dan Radit saling berpandangan. Hati Radit berderu kencang menunggu kalimat lanjutan dari Dara.


"Tapi aku tidak ingin menyakiti hatimu disebabkan ketidakmampuan dari diri ini untuk membuat kamu bahagia. Karena, aku merasa tidak dapat mengimbangi mu sebagai kekasih,"


Serrrr.


Aliran darah Radit seakan memacu deras dari ujung kaki menaiki ubun-ubun kepalanya. Terkesiap Radit mendengar bahasa Dara yang arah berlabuh muaranya masih membuat ambigu.


"Radit, terima kasih ya atas perasaan tulus mumu.


Perasaan yang kamu deklarasikan kepadaku itu .. aku lebih ingin menanggapinya sebagai sebuah penuturan dari seorang sahabat yang di dalam narasinya ada kata cinta. Cinta suci yang terjaga kemurniannya, tanpa ada harapan untuk diteruskan menjadi sebuah ikatan serius lainnya. Dengan kata lain, ungkapan cintamu kepadaku itu, ingin aku terjemahkan sebagai perasaannya sahabat kepada sahabat lainnya. Maaf, aku ingin menganggapnya seperti itu."


"Dara,"


"Nak Dara,"


Beda diksi satu tujuan. Radit, Papi dan Maminya serempak melontarkan nama Dara. Sebelum ketiganya angkat bicara, Dara kembali meneruskan pernyataannya.


"Selama ini, kamu sudah ku anggap sebagai teman baikku dan rasanya sampai kapan pun akan seperti itu. Radit, maaf, aku tidak bisa menerima pinangan mu. Bagiku kamu sudah seperti saudara sendiri. Dan aku tidak kuasa mengubah ikatan hubungan kita yang sudah terjalin begini. Radit, aku mohon agar kamu bersedia memakluminya, aku ingin kita tetap bersahabat untuk selamanya."


Akhir kalimat Dara mengundang air mata hadir di pelupuk mata Radit. Melihat putra semata wayangnya sedang patah hati, perasaan Vega dan suaminya turut remuk redam.

__ADS_1


"Tapi kenapa? kenapa hanya sahabat? kenapa begitu Dara?" suara Radit tercekat, bukti nyata bahwa Ia berusaha menahan isak tangis. Meski demikian, air mata yang meleleh keluar dari kedua manik mata Radit tidak dapat terhalangi. Dalam dukanya di tolak cinta, Radit menangis.


Dara memandangi Radit iba. Dengan tenang, Dara berusaha memberi penjabaran atas pertanyaan Radit.


"Barangkali aku telah berlaku kejam dengan menolak cintamu. Aku bukannya tidak mengerti dengan apa yang tengah kamu rasakan. Aku rasa dengan kita berteman selama ini akan lebih baik daripada mengedepankan perasaan yang lebih,"


Mendengar beberapa bait kata demi kata dari Dara, membuat Radit menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gusar. Air mata masih membasahi wajah tampan baby face Radit.


"Radit, mengertilah, perasaan yang aku miliki terhadapmu bukan selayaknya yang terbina kepada lawan jenis yang spesial. Bagiku, kamu adalah teman baikku Dit. Karena itu aku ingin hubungan persahabatan kita lebih diutamakan. Aku yakin itu akan lebih baik dari segalanya."


Radit hanya menunduk, Ia biarkan air mata menemani kemalangan-nya.


"Nak Dara, bagaimana jika masa berpikir mengenai lamaran ini, kita perpanjang lagi. Barangkali ada hal-hal lain yang belum sempat jadi pertimbangan Nak Dara dalam mengambil keputusan,"


Dengan binar mata penuh harap senada dengan nada bicaranya yang memelas, Mami Radit menyampaikan saran.


Dara menanggapinya dengan senyuman, lalu menggeleng pelan.


"Dara, sedari pertama berjumpa, aku telah jatuh cinta kepadamu. Lantas, bagaimana bisa setelah semua ini aku sanggup menjadi sahabatmu," Radit bicara lemah. Kepalanya semakin tertunduk dalam. Beberapa bulir air mata menyentuh sofa tempat Ia duduk.


"Maaf. Aku hanya dapat berharap , bahwa waktu akan membuat kita mampu melalui semua ini tanpa saling menyakiti lebih dalam," lirih Dara.


"Oh Dara, tidakkah kamu tahu yang aku rasa saat ini?" Radit menekan kuat dadanya. Air mata benar-benar telah membasahi mukanya.


"Radit, sungguh aku tidak bermaksud melukai perasaanmu juga mengubur harapan serta impianmu. Hanya saja, aku tidak bisa membohongi apalagi memanipulasi keadaan yang ada. Aku mohon agar kamu bisa memahaminya Radit," Dara serius menatap Radit.


"Sebelum memutuskan untuk meminang mu, aku sudah memantapkan hati untuk siap menerima penolakan. Tapi, sepertinya persiapanku belum matang, mendengar penolakan mu masih membuat aku ter-gugu. Hatiku tidak lagi berbentuk Dara,"


Lembut, Radit menyusuri pandangan ke wajah Dara, perempuan pujaannya yang baru saja menghabiskan pengharapan nya akan terbinanya rumah tangga bahagia bersama pasangan tercinta.

__ADS_1


"Radit, rasa sedih jelas tidak mudah di terima. kamu harus bijak! tanamkan keikhlasan di hatimu agar kamu dapat memahami keputusannya. Ingat! ada hari lain yang harus tetap kamu jalani dengan pikiran dan hati tenang."


Kusnan, Papi Radit yang sedari tadi cermat mengamati suasana yang terjadi, demi menenangkan kegundahan anaknya kini ikut angkat suara berbicara.


"Tidak semudah itu Papi. Papi tahu bahwa Dara adalah perempuan pertama yang aku cinta dan sayangi sesungguh hati. Bagaimana aku harus menghadapi semua ini Papi? bukankah menikah itu ibadah? apakah keinginanku beribadah dengan pilihan hati terlalu mustahil untuk di penuhi?"


Radit berkeluh kesah dengan laki-laki yang duduknya bersisian dengannya di samping sofa yang Ia tempati.


Papi Radit yang masih menggenggam erat tangan istrinya menghela nafas panjang lalu serius fokus menatap putra tercintanya. Kemudian Ia menanggapi kegundahan sang anak.


"Meski menikah termasuk ibadah dan karenaya sangat dianjurkan, namun di perlukan persiapan lahir batin dari kedua belah pihak untuk menjalaninya. Dara yang tidak bisa menerimamu, tidak memiliki kesiapan itu. Walaupun atas nama ibadah, bagaimana bisa seseorang yang hatinya tidak bersedia untuk menikah dapat menjalankan peran rumah tangganya dengan baik dan benar?"


"Tapi semua ini rasanya terlalu berat bagiku. Penolakan Dara tidak membuat rasa yang bersemayam di hatiku menghilang, malah kini bertambah sesak oleh rasa pilu," Radit menatap Papinya dengan pandangan putus asa.


"Nak, kita sudah melakukan tugas kita dengan baik. Usaha kita sudah usai dan inilah akhirnya meski tidak sesuai dengan harapan dan keinginan. Jangan lupa, kita punya rencana dan Tuhan tidak luput dalam hadirnya keputusan." Tegas Papi Radit.


"Perasaanku terhadap Dara sungguh besar dan itu bertumbuh. Aku ingin dapat menghentikan waktu agar tidak perlu aku lalui hari-hari ke depan dengan perasaan yang terus berkembang tanpa pembalasan ini. Rasa yang seperti ini sungguh menyiksa," Radit memandang kosong ke ubin ruang tamu.


"Yang berakhir perjalanan cintamu bukan hidupmu" Kusnan memegang dagu Radit, mengarahkannya agar saling bersitatap dengan wajah dirinya.


"Lambat laun, kamu harus memusnahkan rasa cinta mu itu Nak. Perlu hati yang kuat untuk mencintai, dan kamu harus memiliki berkali lipat dari kekuatan itu untuk terus mencintai setelah tersakiti. Simpan energi mu untuk menjalani sisi lain dari kehidupan Nak," Vega ikut menenangkan putranya.


Dara yang sedari tadi bergantian memandangi dalam mendengarkan perbincangan anak beranak di hadapannya, merasa tidak enak hati. Namun mau bagaimana lagi. Keputusan sudah ditetapkan dan setiap efek darinya mesti pula dijalani terlepas itu mengundang tawa pun menghadirkan duka.


Dara tatap satu persatu mereka yang berada dihadapannya, lalu dengan kesungguhan hati Ia berkata, "Maaf"


"Dara, terima kasih sudah memperkenalkan makna dari jatuh cinta meski harus berakhir nelangsa. Berbahagialah dimana pun dan , dengan siapapun," ucap Radit tulus.


Tidak lama berselang, di pimpin Papi Radit, mereka yang telah tertolak lamarannya setelah mohon diri kepada tuan rumah, beranjak pergi dengan membawa rasa kecewa yang masing-masing mereka rasa.

__ADS_1


...***...


__ADS_2