
Setiap mata milik tamu undangan tertuju memandangi Dara. Tatapan mata mereka mengandung tanya.
Bagaimana bisa perempuan cacat yang ketika masuk ke rumah tadi menggunakan kursi roda, sekejap mata beranjak keluar rumah berjalan seperti manusia dengan kaki normal pada umumnya.
Tak kalah membuat setiap mata itu takjub terkesima, Dara melangkahkan setiap hentakan kakinya dengan anggun pula.
Terlebih di mata Kiki. Bukan hanya memancarkan sorot penuh tanya namun juga mengandung kilatan kegundahan.
Tiba-tiba arah pandang mata para tamu Lukman dan Kiki beralih pada seorang perempuan paruh baya yang berlari tergopoh dari arah luar rumah menuju pasangan suami istri itu.
Terlihat perempuan yang di ketahui sebagai Ibu nya Kiki itu tengah berbicara serius dengan anak dan menantunya.
Sejurus kemudian mereka bertiga serentak tergesa berjalan ke luar rumah.
Sementara di area depan rumah sang pemilik hajatan, beberapa tamu undangan sudah berkerumun memandangi stiker besar yang tertempel di dinding rumah itu.
... Tanah dan bangunan ini merupakan agunan kredit menunggak di Bank B**I...
Demikian tulisan yang tertera di dinding bagian depan rumah mewah tersebut.
Membaca itu Kiki tidak dapat menutupi wajah cantiknya yang berhias kepanikan. Ia berusaha melepaskan stiker yang baru saja tertempel itu. Namun,
"Maaf Ibu. Bukankah Ibu membaca tulisan yang ada disini? Tulisan ini jelas menunjukkan status kepemilikan dari tanah berikut bangunan yang berdiri di atasnya ini adalah milik Bank B**I. Jika Ibu ingin melepaskan penanda peringatan dari kami ini maka silahkan selesaikan kewajiban Ibu terlebih dahulu"
Seorang pria dengan tubuh tegap dan kekar yang berpenampilan rapi khas karyawan sebuah perusahaan menepis tangan Kiki sekaligus memberi nya penjelasan.
Kiki mendengus kesal. Lalu sorot mata seperti harimau yang hendak menerkam mangsa Ia alamatkan kepada Lukman yang wajahnya penuh raut kegusaran.
"Apa-apaan ini Mas!" Bentak Kiki.
Lukman menggamit tangan Kiki untuk berada di sampingnya. Lalu Lukman menatap kedua karyawan Bank tersebut.
__ADS_1
"Pak ini pasti ada kesalahan. Saya selalu rutin membayarkan cicilan kredit rumah ini. Dan hal ini bisa saya pastikan melalui karyawan kantor saya. Karena saya memberinya perintah langsung untuk mengurusi tagihan saya" Terang Lukman dengan intonasi dalam setiap kata yang di buat setenang mungkin.
Salah satu dari karyawan Bank tersebut menyerahkan beberapa helai kertas berikut sebuah amplop kepada Lukman.
Karyawan yang sebelumnya memberi penjelasan kepada Kiki kembali membuka suaranya,
"Itu adalah rincian tunggakan angsuran dari tanah dan bangunan ini. Total sudah tiga bulan jalan ke empat bulan kami tidak menerima pembayaran dalam bentuk apa pun dari Bapak maupun Ibu. Baik pembayaran secara cash atau pun transferan"
Lukman bolak balik mencermati dan membaca helaian demi helaian kertas yang di pegangnya. Apa yang di sampaikan si karyawan Bank sesuai dengan setiap rincian yang Ia baca.
"Kami pun sudah berkali-kali berusaha menghubungi Bapak juga Ibu perihal ini. Namun sepertinya sampai hari ini tidak ada itikad baik dari Anda berdua. Sehingga sesuai dengan aturan dan kesepakatan di awal maka, kami harus dan berhak menyegel agunan ini" Sambung karyawan tadi.
"Untuk itu di mohon agar Bapak juga Ibu segera menyelesaikan kewajibannya terhadap kami. Sesuai aturan yang berlaku bahwa pihak kami memberi kesempatan kepada nasabah tertunggak untuk menyelesaikan kewajibannya dalam kurun waktu hingga akhir bulan ini. Apabila masih belum ada respon positif dari Bapak Ibu berdua maka agunan ini mutlak menjadi milik kami" Jelas karyawan Bank yang lainnya.
Lukman mencengkram kasar kertas-kertas di tangannya.
"Begitu saja. Hal-hal yang kami sampaikan ini juga sudah tertulis di dalam surat peringatan yang ada di tangan Bapak itu. Untuk lebih detailnya silahkan di baca dengan seksama. Sejauh ini kami anggap Anda berdua paham dengan yang di sampaikan. Kami mohon undur diri"
Kedua karyawan Bank itu berlalu meninggalkan Kiki dan Lukman yang diam tergugu dengan warna muka pucat pasi.
"Maaf Bapak Lukman dan Ibu Kiki ya. Ini kami dari leasing Andara. Langsung saja ya Pak, Bu"
Salah satu dari pria itu mulai bicara. Sementara yang satunya lagi menyerahkan sebuah amplop kepada Lukman.
"Di dalam surat itu sudah ada keterangan rincian tunggakan kredit mobil atas nama Bu Kiki. Mohon segera di lunasi ya Bu, Pak. Sudah mau empat bulan lho. Jika tidak segera ada angsuran pembayaran mohon maaf mobilnya harus kami tarik" Jelas pria itu lagi.
Lukman memijiti pelipisnya. Kedua alisnya saling bertemu. Cukup untuk menggambarkan betapa pikirannya sedang kacau dan hatinya risau.
Bersamaan dengan kepergian pihak leasing, dari atas panggung tempat para anggota band dan artis berada, turun seorang pria yang kemudian menghampiri Lukman dan Kiki.
"Token listriknya habis. Langsung di isi ya Pak, Bu. Supaya yang ngisi acara bisa lanjut lagi"
__ADS_1
Ungkap si pria apa adanya. Tanpa peduli ada banyak telinga yang ikut mendengarkan penuturannya.
Lukman segera mengangguk gusar. Kemudian mengibaskan telapak tangan nya ke arah si pria, kode agar cepat-cepat pergi dari hadapan mereka.
Beberapa pemilik pasang mata yang memperhatikan peristiwa demi peristiwa di perhelatan tersebut saat ini menggebu-gebu ria saling berbisik satu sama lain.
Mereka saling bertukar prasangka atas apa yang terjadi pada Lukman dan Kiki. Pasangan yang beberapa waktu lalu begitu bangga dengan harta yang di miliki itu kini tampak menahan malu mendapati apa yang baru saja terjadi.
... ***...
"Joss. Asik Asik. Saking senangnya pengen teriak tau!!"
Dara segera menggenggam tangan Lusi. Dara khawatir apa yang di sampaikan sahabatnya itu benar-benar akan di lakukannya.
"Jangan disini! Malu tahu ada banyak orang. Ingat! hari ini bukan sahabatku yang harus jadi pusat perhatian. Tapi madu ku" Desis Dara kepada Lusi.
Mereka juga Rani di antara para tamu undangan sedang menikmati apa yang terjadi terhadap Lukman dan Kiki.
"Siap boss. Siap" Lusi mengarahkan tubuhnya ke Dara lalu mempraktikkan gaya seseorang yang sedang dalam posisi hormat.
Dara dan Rani tertawa kecil melihat tingkah kocak Lusi itu. Segera Dara turunkan tangan Lusi yang tengah hormat kepadanya.
"Madu mu itu bukan hanya sedang jadi pusat perhatian tapi juga pusat hujatan!" Cetus Lusi tajam.
"Kan dia memang hobi tebar-tebar perhatian. Sekalian ku bantu agar makin tenar" Ucap Dara sinis.
"Mas Lukman yang tidak tahu malu dan Kiki si pelakor itu pasti tidak menduga bahwa kamu akan bertindak sejauh ini" Tutur Lusi kembali.
"Sudah hukum alam. Siapa yang menabur angin akan menuai badai" Jawab Dara singkat.
"Sepuluh jempol untuk sahabat ku ini. Kamu hebat Dara" Puji Lusi penuh ketakjuban sambil mengacungkan kedua jari jempol tangannya berkali-kali.
__ADS_1
"Ini baru permulaan" Gumam Dara.
... ***...